Mengenal Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Sindrom Nefrotik
Ilustrasi sindrom nefrotik
Sindrom nefrotik merupakan sekumpulan gejala yang menandai adanya penyakit pada ginjal. Penyakit tersebut merusak unit penyaringan darah kecil atau glomeruli, tempat urine diproduksi.
Gejala-gejala sindrom nefrotik dapat menyerang siapa saja pada usia berapa pun. Akan tetapi penelitian menunjukkan bahwa sindrom nefrotik paling sering terjadi pada anak laki-laki yang berumur antara 1 hingga 8 tahun.
Untuk menjaga kesehatan Anda dan buah hati Anda dari sindrom nefrotik, diperlukan pengetahuan yang bijak tentang sindrom unik ini. Gejala-gejala, faktor penyebab, dan penanganan sindrom nefrotik yang tepat adalah hal-hal umum yang seharusnya Anda ketahui jika ingin menghindari terjadinya sindrom ini.
Gejala Sindrom Nefrotik
Gejala pada sindrom nefrotik ditandai dengan adanya lebih dari 3,5 gram kadar protein per hari di dalam air seni, rendahnya kadar protein dalam darah, tingginya kadar kolesterol dan trigliserida, dan yang paling menonjol adalah terjadinya pembengkakan di tubuh penderita.
Pembengkakan ini paling umum timbul di sekitar kaki, perut, mata, dan tangan. Pembengkakan ini menyebabkan penderita sindrom nefrotik terlihat gemuk (dan memang berat badannya pun meningkat). Pembengkakan ini pada dasarnya disebabkan oleh peningkatan jumlah cairan dan garam di dalam tubuh.
Seperti yang telah disebutkan di atas, sindrom nefrotik merupakan pertanda adanya penyakit pada ginjal penderita. Ginjal di dalam tubuh kita berfungsi sebagai pembersih darah melalui proses penyaringan air dan garam berlebih serta produk-produk limbah dari makanan dan minuman yang kita konsumsi.
Pada kondisi normal, ginjal akan menjaga jumlah protein dalam darah, protein membantu darah untuk menyerap air dari jaringan. Akan tetapi jika filter atau saringan ginjal rusak, dapat terjadi kebocoran protein ke dalam urine. Hal ini menyebabkan darah kekurangan kadar protein untuk menyerap air. Lantas air di dalam tubuh pun bergerak dari aliran darah ke jaringan tubuh. Pergerakan air inilah yang mengakibatkan pembengkakan pada sindrom nefrotik.
Selain dapat dilihat dari pembengkakan tubuh, sindrom nefrotik dapat diketahui dari seringnya sang penderita membuang air kecil (lebih sering dari biasanya). Gejala sering membuang air kencing ini adalah gejala yang sangat wajar ditemui pada penderita sindrom nefrotik. Adapun gejala-gejala sindrom nefrotik lainnya adalah urine yang berbuih, berat badan yang meningkat (seiring dengan pembengkakan bagian-bagian tubuh), nafsu makan berkurang, dan tekanan darah meninggi.
Penyebab Sindrom Nefrotik
Sindrom nefrotik pada dasarnya merupakan akibat dari rusaknya pembuluh darah kapiler yang berada di bagian glomerulus pada ginjal. Glomerulus pada ginjal berfungsi sebagai penyaring "sampah" atau "limbah" di dalam tubuh dan sebagai penyaring kandungan air yang berlebih di dalam darah dan mengirimkannya ke kandung kemih untuk kemudian diproduksi sebagai urine.
Pada tubuh yang tidak mengalami sindrom nefrotik alias sehat, glomerulus berfungsi dengan baik dan menjaga protein agar tetap berada di dalam aliran darah serta tidak bocor ke kandung kemih dan terbawa dalam urine. Ginjal yang sehat memproduksi urine dengan kandungan protein yang tidak lebih dari satu gram di setiap harinya.
Sementara itu pada penderita sindrom nefrotik, glomerulus mengalami kerusakan yang menyebabkan bocornya sekitar lebih dari 3 gram protein ke dalam urine dalam satu hari (24 jam). Kebocoran ini menyebabkan darah kekurangan protein di dalamnya. Protein dalam darah diperlukan untuk membantu pengaturan cairan di seluruh tubuh karena protein berfungsi sebagai sebuah spons yang menyerap cairan ke dalam aliran darah di seluruh tubuh.
Oleh karena itu jika darah kekurangan protein, cairan di dalam tubuh akan bekumpul di jaringan tubuh (tidak terserap ke aliran darah) dan menyebabkan pembengkakan.
Sindrom nefrotik dan rusaknya glomerulus dapat disebabkan oleh berbagai jenis penyakit. Pada tubuh orang dewasa, penyebab utama sindrom nefrotik adalah komplikasi penyakit diabetes (disebut dengan nefropati diabetik) dan nefropati membran. Meski demikian, pada banyak kasus, penyebab sindrom nefrotik tidak diketahui dengan jelas.
Sindrom nefrotik pada orang dewasa juga bisa terjadi akibat adanya infeksi (seperti hepatitis, radang tenggorokan, dan mononucleosis), kanker, konsumsi obat-obatan tertentu, gangguan genetis, gangguan kekebalan atau imunitas tubuh, serta penyakit-penyakit yang dapat memengaruhi sebagian sistem tubuh (termasuk penyakit lupus eritematosus sistemik, diabetes, amiloidosis, dan beberapa jenis myeloma) karena penyakit-penyakit tersebut dapat menyertai kelainan pada ginjal.
Sementara itu pada anak-anak, sindrom nefrotik biasanya merupakan gejala penyakit yang menimbulkan gangguan pada sistem imun. Gangguan ini lebih sering terjadi pada tubuh anak lelaki daripada anak perempuan.
Pengobatan Sindrom Nefrotik
Setelah memahami gejala dan penyebab-penyebab sindrom nefrotik, selanjutnya Anda harus memiliki wawasan mengenai pengobatan apa yang harus dijalani oleh penderitanya agar dapat segera sembuh. Meski gejala-gejala sindrom nefrotik sudah tampak, para ahli medis tetap harus melaksanakan prosedur pemeriksaan kesehatan untuk memastikan lagi apakah penderita benar-benar mengalami sindrom ini atau tidak.
Beberapa jenis uji laboratorium biasanya dijalankan dalam memeriksa sindrom nefrotik pada tubuh. Tes laboratorium tersebut antara lain mencakup pemeriksaan atas Blood Urea Nitrogen (BUN), kretinin serum (biasanya jika positif sindrom nefrotik jumlah kreatinin serumnya tinggi), urinalisis (untuk memeriksa kadar protein di dalam urine, dan pemeriksaan albumin darah. Tes ini biasanya diikuti dengan prosedur pemeriksaan kadar trigliserida dan kadar kolesterol dalam darah, serta pemeriksaan biopsi ginjal (jika diperlukan).
Sindrom nefrotik tidak bisa disembuhkan secara total. Oleh karena itu, pengobatan pada sindrom nefrotik bertujuan untuk mengendalikan sindrom ini dengan mencegah terjadinya komplikasi, mengurangi gejala-gejala yang mungkin timbul, dan menunda atau memperlambat proses kerusakan ginjal. Pengobatan sindrom nefrotik ini mungkin harus dilakukan seumur hidup. Selain itu, pengobatan menyeluruh atas penyakit penyebab timbulnya sindrom nefrotik juga perlu dilakukan secara beriringan.
Dalam mengobati sindrom nefrotik, hal yang paling penting dalam menunda kerusakan ginjal adalah mengontrol tekanan darah penderita. Tekanan darah penderita sindrom nefrotik harus stabil, tidak boleh lebih dari 130/80 mmHg. Pengontrolan tekanan darah ini dapat dibantu dengan konsumsi obat-obatan anti hipertensi.
Obat anti hipertensi yang paling sering digunakan penderita sindrom nefrotik adalah Angiotensin Receptor Blocker (ARB) atau Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. Obat anti depresi ACE inhibitor juga jika dikonsumsi oleh penderita sindrom nefrotik berperan dalam mengurangi jumlah protein yang hilang dalam darah.
Selain obat anti hipertensi, obat lain yang dibutuhkan oleh penderita sindrom nefrotik adalah obat yang dapat meningkatkan sistem kekebalan atau imunitas tubuh, seperti kortikosteroid. Tingginya tingkat kolesterol juga harus diperhatikan demi mengurangi risiko jantung dan pembuluh darah bermasalah.
Meski tingkat kolesterol harus diperhatikan, diet rendah kolesterol maupun diet rendah lemak ternyata tidak terlalu memberi hasil maksimal bagi para penderita sindrom nefrotik. Oleh karena itu mereka mungkin memerlukan obat penurun kadar kolesterol dan trigliserida. Obat penurun kedua zat tersebut yang paling umum dikonsumsi penderita sindrom nefrotik adalah golongan statin, seperti simvastatin.
Diet rendah garam juga berguna bagi penderita sindrom nefrotik untuk mengurangi jumlah cairan tubuh yang ditahan oleh natrium. Penahanan cairan oleh natrium inilah yang menyebabkan pembengkakan di area tangan dan kaki penderita. Selain itu, terkadang penderita juga perlu mengonsumsi obat pelancar air seni (diuretik) yang dapat mengurangi jumlah cairan tubuh.
Hasil pengobatan sindrom nefrotik amat bervariasi. Ini disebabkan oleh beberapa hal, yang pertama adalah karena ada dua macam sindrom nefrotik: yang bersifat jangka pendek dan bersifat akut, ada yang kronis dan ada juga yang tidak responsif terhadap terapi dan pengobatan yang telah dilakukan.
Penyebab sindrom nefrotik juga berperan terhadap hasil pengobatannya; terlebih jika terdapat komplikasi penyakit. Komplikasi yang bisa terjadi para penderita sindrom nefrotik adalah gagal ginjal akut, edema paru, aterosklerosis dan penyakit jantung yang terkait, trombosis vena ginjal, penyakit ginjal kronis, malnutrisi, infeksi (termasuk pneumonia pneumokokus), dan gagal jantung kongestif.

