Sinetron
Ilustrasi sinetron
Sinetron adalah film panjang dengan banyak episode yang diputar dalam secara rutin tiap hari atau tiap minggu. Tayangan ini merupakan salah satu jenis film yang digemari oleh masyarakat terutama ibu rumah tangga. Tahukah Anda bahwa film panjang ini terinspirasi telenovela dari negara Amerika Latin seperti Meksiko, Brazil, Venezuela, dan negara Amerika Latin lainnya.
Film ini biasanya memiliki alur cerita yang cukup rumit dan bertele-tele, tapi menjadi candu bagi yang menontonnya. Sekali menonton pemutaran film perdananya, penonton akan mengikuti sampai semua episode diputar.
Sinetron yang sukses dengan memiliki rating yang tinggi, maka episodenya bisa mencapai ratusan lebih dengan memiliki beberapa versi. Mungkin film Tersanjung merupakan salah satu yang menjadi legenda di kalangan ibu rumah tangga. Tercatat, film Tersanjung memiliki ratusan episode dengan 7 versinya.
Dampak Negatif Sinetron Terhadap Kegiatan Ibu Rumah Tangga
Dampak negatif dari film panjang ini cukup banyak bila kita kupas semuanya, namun pertama kali kita membahas mengenai pengaruh sinetron terhadap kegiatan ibu rumah tangga di rumah dan masyarakat, di antaranya:
1. Menonton Sinetron Menelantarkan Anak dan Suami
Bayangkan saja setiap hari Anda harus meluangkan waktu 1 jam untuk menonton 1 sinetron. Bila Anda mengikuti film panjang ini 2 judul, maka 2 jam/hari digunakan untuk menontonnya, sedangkan untuk mengatur kehidupan berumah tangga itu membutuhkan waktu yang banyak.
Bila Anda mengurangi jatah mengatur rumah tangga dengan 2 jam/hari untuk film berepisode banyak ini, maka anak, suami dan rumah Anda akan tidak terurus. Tugas Anda sebagai ibu rumah tangga lama-kelamaan akan pupus dan hancur yang akhirnya Anda dimata keluarga menjadi tidak berwibawa dan tidak bertanggung jawab.
2. Menonton Sinetron Menjauhkan Diri dari Masyarakat
Telah disebutkan di atas bahwa ibu rumah tangga memiliki aktivitas luar biasa padat dalam mengatur rumah tangganya. Nah, satu aktivitas terpenting bagi ibu di luar rumah adalah menjaga hubungan baik dengan tetangga dan masyarakat tingkat RT, RW dan kelurahan.
Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk bergaul dengan masyarakat misalnya silahturahmi ke rumah tetangga, menghadiri pengajian, ikut dalam arisan warga, membuat talk show, dan lainnya. Setidaknya, Anda harus menyempatkan diri untuk keluar dari rumah untuk mendapatkan posisi dalam hati masyarakat.
Terus pertanyaannya ialah mengapa menonton sinetron dapat menjauhkan diri dari masyarakat? Jawabannya, tidak berbeda dengan sebelumnya, yaitu dengan menontonnya maka jatah Anda dalam beraktivitas berkurang banyak. Karena untuk keluar berinteraksi dengan masyarakat setidaknya membutuhkan waktu lebih dari 1 jam itu pun kalau sekadar ngobrol dengan tetangga.
Bila Anda mengikuti pengajian, maka waktu 2 jam itu dianggap normal. So, dengan kesibukan luar biasa ini apakah Anda lebih memilih menjalin hubungan dengan artis film panjang ini di depan layar televisi atau berhubungan dengan masyarakat yang merupakan kebutuhan sosial bagi diri Anda?
Bahaya Liberalisasi Keluarga Dibalik Tayangan Sinetron
Liberalisasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh berbagai pihak terutama dari negara-negara barat untuk memberikan pemahaman kebebasan nilai-nilai yang berkaitan dengan HAM. Liberalisasi merupakan salah satu cara dari sekian cara orang barat dalam menyerang umat Islam. Umat Islam harus dijauhkan dari Islam baik yang menyangkut akidah, akhlak dan syariah. Nilai-nilai Islam harus lepas dari kepribadian seorang muslim sehingga hidup dia sama dengan kehidupan orang barat.
Padahal telah tampak kerusakan akibat pemahaman liberalisme di negara barat terutama Amerika dan Eropa. Berbagai kerusakan moral dan perilaku menjadi wajah buruk dari penerapan paham ini. Contohnya, seks bebas, aborsi, perceraian rumah tangga, kawin sesama jenis (perempuan dengan perempuan, penyakit HIV dan Aids, kenakalan remaja, kriminalitas dan masih banyak lainnya.
Mungkin Anda bertanya, "Lho kok bisa sinetron itu meliberalkan keluarga kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kami berikan beberapa argurmen, di antaranya:
1. Sinetron Mengajari Membuka Aurat
Perempuan yang masuk ke dunia hiburan maka bisa dipastikan dia harus membuka perhiasannya agar bisa tampil menarik dan cantik di depan para pemirsanya. Artis dunia hiburan terutama bintang film mungkin hanya bisa dihitung dengan jari yang masih menjaga kehormatannya, kebanyakan bahkan mayoritas dari mereka membuka auratnya.
Bila dahulu di bawah tahun 90-an mempertontonkan betis dan lengan sudah dianggap buruk oleh pemirsa maka sekarang pada tahun millenium mempertontonkan yang lebih dari itu adalah wajar, misalnya paha, perut dan lainnya. Anak perempuan, perempuan remaja dan dewasa serta ibu rumah tangga setiap hari akan dijejali bagaimana cara berpakaian ala barat yang sebenarnya tidak berpakaian alias “telanjang”.
Bila mereka menontonnya secara rutin maka dipastikan akan mengikuti gaya berpakaian ala artis. Contohnya, remaja dan ibu-ibu di desa terpencil Kabupaten Jember sudah terbiasa memakai celana pendek di atas lutut untuk keluar rumah. Hmmm, itulah bahaya dari tayangan berepisode ratusan ini.
Bila seorang perempuan keluar rumah dengan pakaian alat barat yang membuka aurat, maka dia tidak akan aman dari bahaya para lelaki hidung belang dan jahat. Sekadar fakta bahwa kebanyakan dari korban pelecehan seksual dan permerkosaan adalah para perempuan yang memakai pakaian minim yang memamerkan lekuk tubuh dan mengundang nafsu.
2. Sinetron Membudayakan Pergaulan dan Seks Bebas
Mayoritas alur cerita sinetron remaja ialah pacaran dan pergaulan bebas. Setiap hari di berbagai stasiun televisi dipastikan ada film panjang yang mengajarkan bagaimana pacaran. Mulai dari mencari kenalan, menjalin persahabatan dengan lawan jenis, cara menembak pacar, cara berpacaran dan seterusnya akan diajarkan kepada anak Anda.
Pola pikir dan pola sikap anak perempuan Anda semakin hari akan berubah menjadi liberal dengan secara rutin mengkonsumsi film-flm pacaran. Remaja dan perempuan dewasa sekarang sudah menganggap pacaran adalah hal yang lumrah.
Bahkan, faktanya sekarang sebagian besar anak SMP dan SMA apalagi mahasiswi sudah tidak perawan. Kebanyakan dari mereka memang mengumbar keperawannya kepada pacarnya dengan dasar suka sama suka. Boleh jadi sebagian besar dari mereka melakukan hubungan seks bebas ketika keluar dari rumah dengan izin belajar bareng, les dan alasan lainnya.
Bukan hanya remaja dan perempuan dewasa yang mengikuti pergaulan dan seks bebas itu melainkan para ibu-ibu pun banyak yang membebek budaya rusak barat ini. Perselingkuhan yang ada di dalam film sinetron menjadi penggugah mereka untuk berbuat mesum kepada orang lain.
Fakta menunjukkan bahwa penyebab dari banyaknya kasus perceraian di KUA diakibatkan dari faktor perselingkuhan, baik yang dilakukan pihak pria mapun dari pihak perempuan. Menurut agama, selingkuh merupakan dosa besar di mata Tuhan. Jadi, jauhilah hal-hal yang bisa mengakibatkan tindakan perselingkuhan.
Itulah sedikit gambaran mengenai dampak negatif dan bahaya dari tayangan sinetron bagi seluruh keluarga di tanah air. Sudah saatnya kita membuat larangan menonton film berepisode ratusan ini kepada diri sendiri dan keluarga.

