Laskar Pelangi Film Penuh Inspirasi
Jika Anda termasuk pengemar film di Indonesia, Anda pasti sangat kenal dengan film yang satu ini. Film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata ini memikat jutaan hati penontonnya karena isinya yang sarat nilai dan pesan moral. Dirilis pada 2008, Laskar Pelangi ditonton oleh hampir 4.9 juta orang dan menjadi film yang fenomenal.
Selain diputar di Indonesia, Laskar Pelangi juga lolos Festival Film Berlin (2009), menjadi film tamu di Zlin International Film Festival, Ceko, dan diputar di beberapa negara lainnya. Di mana pun film ini diputar, bioskop selalu padat penonton, bahkan mereka rela mengatre berjam-jam demi mendapatkan tiketnya, ketika diputar di luar negeri pun penonton berkebangsaan asing menyatakan pujian terhadap film ini. Berikut sinopsis film Laskar Pelangi.
Sinopsis
Laskar Pelangi berkisah tentang perjuangan sepuluh anak miskin di Belitong untuk mendapat pendidikan dan meraih impian mereka. Ke sepuluh anak itu adalah Ikal (Zulfany), Lintang (Ferdian), Mahar (Verrys Yamarno), Syahdan (M.Syukur Ramadhan), Trapani (Suharyadi SR), Sahara (Dewi Ratih Ayu), Kucai (Yogi Nugraha), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), dan Harun (Jeffry Yanuar).
Laskar Pelangi adalah nama yang diberikan oleh guru mereka, Bu Muslimah (Cut Mini). Sosok guru yang menjadi anutan murid-muridnya, penuh kelembutan dan tanpa pamrih memberikan pengetahuan bukan hanya mengenai pelajaran, tetapi juga mengenai akhlak.
Hari pertama bersekolah di SD Muhamadiyah menjadi awal perkenalan mereka dan berlanjut menjadi persahabatan yang erat. Kesepuluh anak itu memiliki keunikan tersendiri, Lintang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Meskipun memiliki banyak keterbatasan, minatnya untuk belajar tidak pernah surut. Mahar dianugerahi bakat sebagai seniman sejati yang selalu mengejutkan teman-temannya dengan ide-idenya yang brilian tapi gila. Sahara, satu-satunya wanita dalam kelompok tersebut, memiliki sifat yang keras kepala dan sangat teguh memegang agama.
Kecintaan anak-anak itu terhadap pendidikan sangat besar. Bahkan, mereka rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk bisa menimba ilmu. Sedikit demi sedikit, mereka membentuk impian tentang masa depan, meski secara logika impian tersebut mustahil diraih. Mereka berjuang di tengah kemiskinan dan ancaman ditutupnya SD Muhamadiyah.
Kejadian-demi kejadian yang penuh kesan memenuhi tahun-tahun kebersamaan mereka. Misalnya, saat ketika Lintang berhasil memenangkan lomba cerdas cermat melawan anak-anak kota, bahkan berhasil menjatuhkan argumen Drs. Zulkifli, seorang guru sekolah PN yang modern. Mahar, dengan bakat seninya berhasil membuat koreografi unik yang membawa kelompok ini memenangkan lomba seni dan sekali lagi mengharumkan nama SD Muhamadiyah.
Menjelang kenaikan ke SMP, ayah Lintang meninggal. Dengan berat hati, Lintang–si Einstein kecil-- yang sangat mencintai ilmu dan buku harus rela meninggalkan sekolah karena sebagai anak lelaki tertua ia harus menghidupi adik-adiknya. Keluarnya Lintang dari sekolah membuat teman-temannya merasa sedih dan kehilangan, akan tetapi tidak mematikan semangat untuk menyelesaikan sekolah.
Film ditutup dengan kembalinya tokoh Ikal dewasa (Lukman Sardi) ke tanah kelahirannya, yaitu Belitong setelah memenangkan beasiswa Uni Eropa untuk belajar di Paris, Prancis. Janji yang diikrarkan semasa kecil sebagai anggota Laskar Pelangi menjadi pemicu tekadnya untuk terus berjuang meraih impian hingga ia berhasil.






