logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Kesehatan    Info Kesehatan    Artikel Umum Info Kesehatan    Sistem Ekskresi

Sistem Ekskresi Manusia dan Hewan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Tahukah Anda sistem ekskresi? Pada proses pencernaan makanan dan pernapasan, terjadi perubahan zat-zat di dalam tubuh sehingga dihasilkan energi. Kedua proses tersebut menghasilkan zat-zat sisa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh sehingga harus dikeluarkan. Jika zat-zat sisa tersebut tidak dikeluarkan, dapat meracuni tubuh dan membuat suhu tubuh naik turun tidak teratur. Demi mengeluarkan zat-zat yang tidak dibutuhkan itulah baik pada tubuh manusia maupun hewan, terdapat sistem ekskresi atau pengeluaran.

Zat-zat sisa, bersama dengan bahan-bahan lain yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, misalnya kelebihan garam, vitamin, racun, dan lain-lain akan dikeluarkan melalui paru-paru, hari, ginjal, dan kulit. Seluruh proses yang terjadi di dalam tubuh, mulai dari pencarnaan makanan, penggunaan sari makanan sampai menghasilkan energi hingga pengeluaran zat sisa dinamakan metabolisme. Jadi, dapat dikatakan bahwa organ-organ seperti paru-paru, hati, ginjal, dan kulit merupakan bagian dari sistem ekskresi manusia.

Sistem Eksresi Manusia

Berikut ini akan dijelaskan beberapa organ tubuh manusia yang merupakan bagian dari sistem ekskresi.

Paru-paru adalah sistem ekskresi manusia yang mengeluarkan karbondioksida dan uap air. Hati yang merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh terletak di bawah diafragma. Berat hati sekitar 2 kilo gram pada orang dewasa dan berwarna merah tua.

Hati mengeluarkan empedu, yaitu sisa yang berasal dari sel-sel darah merah yang telah rusak dan dihancurkan oleh limpa. Empedu dikumpulkan dalam kantung empedu, lalu dikeluarkan ke usus dua belas jari melalui saluran empedu.

Empedu memberi warna pada tinja yang akan dikeluarkan dari tubuh. Selain menghasilkan empedu, hati juga merupakan tempat pembentukan urea, yaitu sisa pencernaan protein. Urea terbawa bersama darah ke ginjal, kemudian dari ginjal dikeluarkan bersama urin atau biasa dikenal sebagai air kencing atau air kemih.

Sistem ekskresi manusia berikutnya adalah ginjal. Manusia memiliki dua ginjal yang terletak di dalam rongga perut, tepatnya di sebelah kiri dan kanan ruas-ruas tulang pinggang. Ginjal kiri terletak agak lebih tinggi daripada ginjal kanan.

Ginjal berwarna merah keunguan bentuknya seperti kacang merah dan pada orang dewasa beratnya sekitar 200 gram. Fungsi ginjal adalah menyaring darah yang datang dari aorta melalui pembuluh nadi ginjal. Zat-zat sisa yang terdapat di dalam darah dikumpulkan dalam bentuk urine, lalu urine dikeluarkan dari tubuh. Urin yang normal mengandung air, urea, garam-garam (khususnya garam dapur), dan zat warna empedu. Zat warna empedu memberi warna kuning pada urin.

Ginjal sebagai sistem ekskresi memiliki dua bagian utama, yakni kulit ginjal dan sumsum ginjal. Kulit ginjal adalah tempat penyaringan darah yang di dalamnya terdapat banyak pembuluh kapiler yang tersusun bergumpal-gumpal dan disebut glomerulus.

Glomerulus dikelilingi oleh simpai bowman yang bentuknya seperti cawan dan berdinding tebal. Gabungan glomerulus dan simpai bowman disebut badan malpighi. Penyaringan darah berlangsung di bagian antara glomerulus dan simpai bowman. Zat sisa dalam darah merembes keluar dari glomerulus dan masuk ke dalam simpai bowman.

Sumsum ginjal terdiri dari beberapa badan berbentuk kerucut. Sumsum ginjal merupakan tempat berkumpulnya saluran-saluran yang mengalirkan urine ke dalam saluran ginjal atau ureter. Dari ureter, urine ditampung dalam kantung kencing atau kantung kemih.

Bagian pangkal kantung kencing berupa otot melingkar seperti cincin. Jika kantung kencing sudah penuh, maka dindingnya akan meregang sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Pada saat hendak buang air kecil, otot melingkar berkontraksi dan urine keluar melalui saluran kencing atau uretra yang merupakan akhir sistem ekskresi dari ginjal.

Kulit adalah sistem ekskresi manusia dengan permukaan paling lebar. Zat-zat yang dikeluarkan dari kulit adalah air dan garam-garam yang terkandung dalam keringat. Pengeluaran keringat ini berhubungan erat dengan pengaturan suhu tubuh. Kulit terdiri dari tiga bagian, yaitu kulit ari (epidermis), kulit jangat (dermis), dan jaringan pengikat bawah kulit.

Bila tubuh kita menjadi lebih panas karena berolahraga atau melawan penyakit, maka pembuluh-pembuluh darah dan kelenjar-kelenjar keringat akan segera membuang kelebihan panas itu. Pembuluh darah di kulit akan melebar dan mengangkut panas tubuh yang berlebih, kemudian membuangnya ke udara.

Kelenjar-kelenjar keringat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit. Keringat akan menguap dengan mengambil panas dari tubuh sehingga tubuh menjadi lebih dingin. Jika tubuh sangat panas karena olahraga yang berlebih, kita dapat kehilangan sekitar 12 liter air dan 30 gram garam sehari melalui keringat.

Sistem Eksresi pada Hewan

Berikut ini akan dijelaskan sistem ekskresi pada beberapa hewan. Sistem eksreksi vertebrata pada umumnya sama dengan manusia. Alat-alat sistem ekskresi terdiri dari paru-paru, ginjal, dan kulit. Paru-paru mengeluarkan karbondioksida dan uap air, ginjal mengeluarkan urine, dan kulit mengeluarkan keringat.

Pada hewan-hewan tertentu, zat-zat sisa yang dikeluarkan ada yang masih berguna bagi tubuhnya. Contohnya adalah kelenjar-kelenjar pada kulit ada yang mengeluarkan minyak untuk melemaskan bulu, ada yang mengeluarkan lendir untuk membasahi kulit dan ada pula yang mengeluarkan zat yang berbau untuk mengusir musuh.

Burung mempunyai ginjal sebagai sistem ekskresi, namun tidak mempunyai kantung kencing. Maka saluran kencing bermuara pada kloaka. Kelenjar minyak terdapat di bagian ekor, yaitu punggungnya. Kelenjar ini menghasilkan minyak untuk melumasi bulu-bulu ekor. Pada reptil, saluran ginjal juga bermuara pada kloaka. Beberapa jenis reptil, misalnya kura-kura dan buaya, kelenjar kulitnya mengeluarkan zat yang berbau. Zat ini berfungsi untuk mengusir musuh-musuhnya.

Kelenjar kulit yang merupakan sistem ekskresi pada katak menghasilkan lendir untuk membasahi kulitnya. Kebasahan kulit sangat penting untuk pernapasan katak. Katak mempunyai sepasang ginjal juga sebagai sistem ekskresi.

Pada katak jantan, sperma dari kelenjar kelamin dan urine dari ginjal mengalir melalui saluran kencing dan kantung kencing menuju kloaka. Pada katak betina, sel telur yang masak keluar melalui saluran telur menuju kloaka. Saluran telur terpisah dari saluran kencing. Kantung kencing ini berdinding tipis. Zat sisa dikeluarkan melalui kloaka.

Pada sistem ekskresi ikan kakap, saluran ginjal bersatu dengan saluran kelenjar kelamin dan bermuara pada lubang urogenital yang terletak di belakang anus. Sebagian besar, ikan bertulang rawan mempunyai kelenjar pada kulit yang menghasilkan lendir untuk melicinkan kulitnya sehingga ikan dapat bergerak dengan mudah di dalam air.

Mari kita beranjak ke sistem eksresi serangga setelah sekilas mengulas sistem ekskresi pada hewan vertebrata. Sistem ekskresi pada belalang adalah buluh malpighi. Buluh malpighi terletak di dekat usus belakang, berwarna kuning, dan bermuara di dalam usus. Buluh malpighi menyerap zat-zat sisa yang mengandung nitrogen. Zat ini digunakan sebagai bahan pembuatan kitin atau zat tanduk yang merupakan bahan pembuat rangka luar dari belalang.

Sistem ekskresi hewan berikutnya adalah sistem ekskresi pada cacing. Alat ekskresi cacing pipih disebut sel-sel api. Di dalam sel-sel ini terdapat rambut-rambut getar atau silia yang selalu bergerak. Gerakan silia ini menyerupai nyala api karena itulah sel-sel tersebut dinamakan sel api. Getaran silia pada sel api menyebabkan zat-zat sisa dapat mengalir ke pembuluh-pembuluh yang bermuara di permukaan tubuhnya.

Sistem ekskresi pada cacing tanah disebut nefridia. Setiap nefridia dimulai dengan corong yang ber-silia dan disebut dengan nefrostom. Corong ini berlanjut dengan saluran yang berbelok-belok dan bermuara pada kantung kencing. Zat-zat sisa dikeluarkan melalui lubang nefridia. Nefridia terdapat di sepanjang tubuh cacing tanah.

Hewan yang primitif seperti protozoa pun memiliki sistem ekskresi. Sistem ekskresi pada protozoa disebut dengan rongga berdenyut. Rongga berdenyut ini terutama mengatur kadar air di dalam protoplasma. Jika kadar air dalam protoplasma lebih rendah dari lingkungan sekitarnya, air akan masuk ke dalam sel. Zat sisa dikeluarkan bersama air melalui dinding sel secara difusi.

Nah, mudah-mudahan ulasan ini dapat membantu Anda membedakan antara sistem pencernaan yang berakhir di anus dengan sistem ekskresi.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Gejala dan Penanganan Alergi Dingin
  • Gizi Buruk, Gizi Cukup, Pantau Sejak Dini!
  • Hati-Hati! Stress Kerja Meningkatkan Risiko Penyakit
  • Waspadai Stroke! Pembunuh Nomor Tiga di Indonesia
  • Pikiran Sehat Dapat Meringankan Rasa Sakit
  • Serba Serbi Gemuk
  • Berbagai Cara Mengecilkan Paha
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA