Mengkritisi Sistem Perekonomian Indonesia Sekarang
Ilustrasi sistem perekonomian indonesia sekarang
Berbicara masalah sistem perekonomian Indonesia sekarang, maka tak bisa lepas dari pengaruh dua kekuatan sistem ekonomi dunia yaitu sosialis dan kapitalis. Disadari atau tidak, Indonesia memang tidak benar-benar mandiri dari kedua pengaruh itu. Jadi apa sistem perekonomian Indonesia sekarang? Sebelum menjawabnya, kita perlu mengetahui jenis-jenis sistem perekonomian yang ada di dunia. Dengan demikian bisa memberi gambaran ke arah mana sebenarnya sistem perekonomian Indonesia sekarang lebih condong, ke arah barat atau ke arah timur. Arah barat merujuk kepada sistem kapitalis dan arah timur merujuk kepada sistem ekonomo sosialis.
Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa besar kekuatan kedua sistem ekonomi dunia tersebut berpengaruh terhadap sistem ekonomi Indonesia sekarang ini ? Pertanyaan ini menjadi penting terutama apabila kita mengingat keinginan besar Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, yang menanamkan ekonomi mandiri. Sekalipun secara politis tetap tidak benar-benar bebas dari dua kekuatan politik dunia waktu itu. Begitu pula dengan sering didengungkannya sistem ekonomi kerakyatan yang dirasa cocok untuk sistem ekonomi Indonesia sekarang ini, pengaruh kedua kekuatan ekonomi yang dianut dunia itu juga menjadi sangat penting. Artinya kalau memang ingin menggunakan atau menganut sistem ekonomi kerakyatan, sejauh mana sistem ekonomi ini bisa membebaskan dirinya dari sistem ekonomi dunia yang ada.
Sistem Ekonomi Sosialis/Komunis
Sistem ekonomi ini menjadikan pemerintah sebagai pusat dari segala macam kegiatan ekonomi. Segala macam kegiatan ekonomi masyarakat diatur oleh pusat, bahkan mengenai hak milik pribadi pun pemerintah pusatlah yang mengatur.
Akibat dari sistem ini, tidak adanya kepemilikan pribadi karena semuanya diatur oleh pusat. Tak ada pula si kaya dan si miskin karena ekonomi komunis berpandangan bahwa seharusnya kondisi masyarakat harus “sama rata sama rasa”, tak ada yang lebih dan tak ada yang kurang. Rakyat atau masyarakat tidak bebas menggunakan sumber daya alam.
Kemampuan mereka untuk berpikir kreatif benar-benar dipasung sehingga rakyat hanya bisa “terima-terima” saja. Sistem ekonomi sosialis ini digawangi oleh Rusia. Ketertekanan rakyat pada sistem ekonomi sosialis ini menjadi salah satu sebab runtuhnya tembok komunis di beberapa negara yang menganutnya sejak lama. Bercerai-berainya Uni Sovyet salah satu bukti nyata bagaimana sistem ekonomi sosialis ini menjadi seolah-olah api dalam sekam. Kekuatan rakyat yang menuntut kebebasan berkreasi, kebebasan menggunakan sumber daya alam dan lain sebagainya dalam kaitannya dengan meraih kesejahteraan, mendapat penyaluran yang tidak sepadan. Karena itulah ketika pertahanan negara sudah tidak menghalangi lagi, rakyat benar-benar bergerak dan menjebol tembok tinggi tersebut. Namun demikian sistem ekonomi sosialis sekalipun komunis sendiri telah runtuh, tidak benar-benar hilang samasekali. Di beberapa negara yang secara politik pernah bersinggungan atau bahkan menjadi negara komunis, sistem ekonomi sosialis ini masih tetap dipergunakan atau setidak-tidaknya memberi warna dalam pengambilan kebijakan oleh negara.
Sistem Ekonomi Liberal/Kapitalis
Sistem ekonomi ini membebaskan segala macam bentuk kegiatan ekonomi. Pemerintah tak ada urusan dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh rakyat. Mereka semua mendapatkan hak yang sama untuk berkreativitas. Tak ada pelarangan. Sistem ekonomi liberal yang banyak dianut oleh banyak negara di dunia barat, memberi keleluasaan kepada perusahaan dan perorangan untuk mengatur segala bentuk kegiatan perekonomian masyarakat. Pada dasarnya sistem ini memberi kebebasan pada pasar untuk mengatur denyut ekonomi. Ketika dilaksanakan dengan tanggung jawab, sistem ekonomi liberal memberi kesempatan kepada siapapun untuk memperoleh keuntungan dan kemakmuran sebesar-besarnya. Namun di beberapa negara yang menganut sistem ekonomi liberal atau kapitalis ini juga jurang antara yang kaya dan miskin semakin lebar dan tingkat kejahatan cenderung menaik yang diakibatkan oleh golongan minoritas yang tidak memiliki kesempatan, kemampuan dan kecakapan untuk memasuki pasar secara bebas. Dan di lain pihak para pemiliki modal besar akan semakin berlipat-lipat sementara yang kekurangan modal akan semakin terjepit.
Intinya, dalam sistem ekonomi kapitalis, semua bebas berbuat apa saja. Sehingga tak mengherankan bila kaum pemodal atau kapital menjadi kaum yang super power pada sistem ekonomi ini. Sistem ekonomi liberal atau kapitalis ini digawangi oleh Amerika sebagai negara imperialis. Dan dengan kekuatan modal itu pula negara-negara barat yang menggunakan modal mereka untuk menguasai negara lain dengan dalih pinjaman atau bantuan lunak dan lain sebagainya. Intinya menciptakan iklim ketergantungan pada bantuan dari mereka, dan pada kesempatan yang sama meminta balas jasa dengan disediakan berbagai fasilitas dan kemudahan untuk menanamkan investasi di negara yang diberi bantuan atau pinjaman lunak tersebut.
Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi yang merupakan kombinasi dari dua sistem ekonomi sebelumnya, yaitu komunis dan liberal. Rakyat memiliki hak untuk berkreativitas, namun demikian pemerintah juga tetap berperan dalam mengatur jalannya kegiatan ekonomi. Pada beberapa kasus, sistem perekonomian Indonesia cenderung pada sistem ekonomi campuran atau sistem ekonomi demokratis dan lain sebagainya istilah yang hanya dimengerti oleh Indonesia sendiri. Namun seiring dengan persinggungan dengan dunia barat, sistem perekonomian Indonesia sekarang mengalami pergeseran yang signifikan ke arah sistem kapitalis sekalipun tidak secara utuh menggunakannya.
Sistem Perekonomian Indonesia Sekarang Mengarah pada Kapitalis?
Banyaknya pengangguran, kaum pemodal semakin berkuasa, yang miskin semakin miskin, eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, kesenjangan sosial, dan seterusnya. Itulah yang terjadi dengan kondisi perekonomian di Indonesia. Bila ditelisik, ternyata sistem perekonomian tersebut hampir mirip dengan sistem perekonomian yang ada di Amerika yang notabene adalah kapitalis.
Amerika, negara super power yang katanya merajai dunia dan menjadi pusat segala macam peradaban, ternyata memiliki sistem perekonomian yang buruk. Masih ingat dengan kasus Enron dan Worldcom? Perusahaan raksasa itu hancur karena manipulasi yang dilakukan oleh manajemen perusahaan demi keuntungan golongan tertentu.
Beberapa tahun belakangan ini, kita juga dikagetkan dengan anjloknya saham yang ada di Wall Street karena salah satu perusahaan properti mengalami kebangkrutan yang berakibat fatal pada sistem perekonomian yang lain. Kondisi tersebut hampir sama dengan di Indonesia bukan?
Sistem perekonomian Indonesia sekarang memang bisa dikatakan lebih condong ke Barat atau menggunakan sistem ekonomi liberal kapitalis. Bagai sebuah dilema memang. Di satu sisi, Indonesia memang membutuhkan “asupan gizi” dari negara Barat yang notabene kapitalis, namun di sisi lain Indonesia juga harus siap dijadikan “bulan-bulanan” oleh para kreditur. Tapi memang itulah resiko kalau terlalu mudah menerima bantuan. Istilah bahwa tidak ada makan siang gratis, memang cocok diterapkan pada kondisi sistem perekonomian Indonesia sekarang ini.
Apa yang terjadi? Seperti yang sudah dijelaskan di atas. Bagaimana cara mengatasinya? Butuh waktu, daya, serta upaya tentunya. Namun bahwa terlalu gampang menerima bantuan dalam kondisi apapun, sama artinya dengan membuka pintu secara bebas kepada seluruh tamu yang memberi bantuan agar secara bersama-sama memiliki hak untuk mengurus Indonesia atau setidaknya memiliki andil untuk turut serta menikmati sumber alam yang semestinya dikelola oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat seperti yang diamanatkan di dalam undang-undang dasar yang menjadi pokok pikiran dan perhatian para pendiri negeri ini.

