Siswa
Pendidikan siswa di jaman sekarang berbeda sekali dengan dahulu. Konsep pendidikan berorientasi life skill atau keterampilan hidup mengisyaratkan agar pendidikan mampu memberikan bekal untuk hidup secara bermakna bagi semua siswa atau pelajar, dalam kehidupan yang lebih luas dan global.
Pendidikan di abad ke-21 diprediksi akan jauh berbeda dari pendidikan yang sekarang sehingga UNESCO mulai tahun 1997 sudah mulai menggali kembali dan memperkenalkan The Four Pillars of Education, yaitu:
1) Learning to Know
2) Learning to Do
3) Learning to Live Together
4) Learning to Be
Untuk mengantisipasi perubahan yang bukan hanya linear tetapi mungkin eksponensial yang diantisipasi akan terjadi dalam masyarakat yang mengglobal. Keempat kemampuan ini dimulai dari belajar untuk mengetahui (learning to know). Setelah dapat belajar untuk mengetahui, diharapkan pelajar dapat menerapkannya (learning to do). Secara terperinci, empat pilar pendidikan tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1) Siswa dengan Pilar Learning to Know
Dr. Victor Ordonez menyatakan bahwa learning to know dalam abad ke-21 akan berbicara tentang tiga hal, yaitu: materi pembelajaran, proses pembelajaran, dan pelajar yang mungkin berbeda. Ia membuat ilustrasi yang sangat bagus mengenai kelambanan pendidikan.
Ia mengatakan bahwa seseorang yang mengunjungi sebuah bank di saat ini, ia segera melihat perubahan yang terjadi dibandingkan bank yang dikunjunginya 20 tahun yang lalu. Sekarang ATM, dan semuanya serba online.
Tetapi, seseorang yang berkunjung ke sebuah Perguruan Tinggi 20 tahun yang lalu dan kembali di penghujung abad ke-21 tidak melihat perubahannya secara mencolok. Karena itu, ia mengatakan bahwa Perguruan Tinggi jangan sibuk dengan membangun gedung-gedung atau membuat program gelar baru.
Di dalam lima tahun mendatang, pelajar bukannya disibukkan dengan search informasi, tetapi memfilter informasi yang begitu banyak yang membuat orang kewalahan memilih. Menyitir pendapat Prof. Carnerio, materi pembelajaran bukan sekedar informasi tetapi budaya yang hidup, dan tradisi etika.
Materi ditentukan oleh lembaga pendidikan berdasarkan kebutuhan pembelajar untuk dapat belajar sepanjang hayat. Proses pembelajaran akan mengikuti paradigma baru karena lembaga pendidikan bukan lagi sumber utama atau gudang ilmu pengetahuan.
Pembelajar akan memeroleh informasi dari mana dan fungsi pengajar adalah sebagai fasilitator. Pembelajar di abad ke-21 mungkin sekali juga amat berbeda dari yang sebelumnya. Di masa yang akan datang guru dan dosen akan menghadapi pelajar dan mahasiswa dengan logika berpikir yang berbeda karena mereka sudah masuk dalam video games, realitas visual dan batas geografis yang semakin kabur.
Jika pengajar di masa datang tidak memahami logika berpikir pelajar dan tidak berusaha memasuki dunia anak muda, tidak menyikapi materi pembelajaran dengan benar, dan tidak mengikuti proses pembelajaran untuk abad ke-21, mereka akan ketinggalan.
2) Siswa dengan Pilar Learning to Do
Dr. Munther W. Al-Masri menyatakan bahwa Learning to do lebih banyak terkait dengan pendidikan vokasional dan pasar kerja. Ada dua pendekatan yang mendasari kegiatan learning to do, yaitu sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan bukan sebagai aplikasi dari mata kuliah tertentu dan yang lain adalah bagian dari kegiatan labolatorium, praktikum, praktek kerja lapangan (PKL), dll.
Pada masa yang akan datang kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal akan mengalahkan kemampuan intelektual. Jenis pekerjaan diprediksi akan berubah lebih kepada industri jasa (konsultan, manajemen, keuangan, akuntansi, layanan sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain).
Pekerjaan tersebut sangat membutuhkan hubungan interpersonal, komunikasi dan informasi. Untuk negara-negara berkembang, pendidikan dapat berperan sebagai penguat dan pemberdaya potensi lokal.
Learning to do untuk masa depan sudah tidak lagi terpaut kepada pendidikan, keterampilan fisik rutin, tetapi memerhatikan “kompetensi” personal pelajar yang menggabungkan keterampilan dan bakatnya, seperti perilaku prakarsa personal pelajar, dan kehendak untuk mengambil risiko.
Kompetensi personal yang diharapkan ini mestinya tidak jauh dari kelima keterampilan pokok yang diperlukan untuk memberdayakan lulusan yang dilandasi oleh beberapa keterampilan seperti:
- keterampilan dasar (membaca, menulis, berbicara, mendengarkan dan berhitung)
- keterampilan berpikir (berpikir kraeatif, mengambil keputusan, penyelesaian permasalahan, memvisualisasikan belajar dan menggunakan nalar)
- beberapa kualitas kepribadian (self esteem, tanggung jawab, kemampuan bersosialisasi, self management, integritas, kejujuran).
3) Siswa dengan Pilar Learning to Live Together
Prof. Zhaou Nan-zhai dalam ceramahnya mengemukakan tiga hal, yaitu
- mengapa learning to live together merupakan keharusan?
- apa implikasi dari learning to live together?
- bagaimana pelaksanaan pembelajaran di tingkat regional dan internasional dapat dibantu?
Ia menyatakan bahwa dari empat pilar pendidikan, ketiga yang lain mendukung terlaksananya pembelajaran nilai-nilai kehidupan kebersamaan (learning to live together). Learning to know merupakan instrumen pemahaman pelajar akan diri sendiri dan orang lain, serta wawasan untuk dapat belajar hidup kebersamaan.
Learning to do memungkinkan pelajar untuk mengaplikasikan pemahamannya dan bertindak secara kreatif terhadap lingkungan sehingga tercapai kehidupan damai bersama.
Learning to be menggaris bawahi dimensi penting dalam pengembangan hubungan sosial manusia yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kebersamaan.
Learning to live together menjadi penting khususnya menghadapi dunia yang penuh konflik dan banyaknya pelanggaran akan hak-hak asasi manusia. Kehidupan yang damai ini bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi masyarakat, orang tua, pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan semua pihak.
Dalam lingkup Asia Pasifik, yang ditandai dengan keragaman budaya, bahasa, tatanan sosial, kondisi geografis, sosio-politik, agama dan tingkat ekonomi kaum muda perlu dipajankan kepada keindahan dari keragaman kultural ini.
Learning to live together diperlukan dalam globalisasi yang kooperatif tetapi sekaligus juga pelestarian nilai-nilai budaya dan kemanusiaan sedemikian sehingga ada usaha bersama untuk saling mengasihi dalam kehidupan bersama. Untuk membantu pelaksanaan pembelajaran, UNESCO menerbitkan buku ajar bagi dosen lengkap dengan materi dan latihan serta lokakarya.
4) Siswa dengan Pilar Learning to Be
Learning to be merupakan pilar pendidikan keempat yang menyodorkan “gagasan Utopia: sebuah masyarakat pembelajar dilandasi oleh pemerolehan, pambaruan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan.
” Konsep dari learning to be adalah tema utama dari laporan Komisi Edgar Faure, dengan tujuh orang timnya, yang pada tahun 1971 diserahi oleh Direktur Jenderal UNESCO pada saat itu untuk mendefenisi ulang “tujuan pendidikan sebagai akibat dari perubahan yang cepat dalam ilmu pengetahuan, dan kebutuhan akan pengembangan dalam masyarakat, serta aspirasi akan kebutuhan pemahaman internasional dan perdamaian.”
Baik dalam learning to be maupun dalam Learning: The treasure Within dikemukakan bahwa tujuan dari pengembangan manusia adalah tercapainya perkembangan yang semaksimal dan seutuhnya dalam kepribadian, seluruh bentuk ekspresi dan komitmennya baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.
Karena itu, pelajar baik anak-anak maupun kelompok usia pemuda harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan semua bakat-bakat tersembunyi dalam dirinya.
Di sekolah hal ini berarti bahwa siswa dan mahasiswa harus diberi kesempatan untuk mengenal seni dan budaya kontemporer dan seni dan budaya generasi sebelumnya, termasuk budaya oral.
Prof. Konai Helu Thaman dengan ilustrasi budaya Tionghoa mengatakan bahwa learning to be dalam budaya Tionghoa disebut “poto” yang artinya proses berkelanjutan untuk menjadi seseorang yang menyadari siapa dirinya dalam hubungan dengan orang lain, mengetahui apa yang harus dilakukannya, dan melakukannya dengan baik. Dalam hal ini, “seseorang disebut sebagai poto apabila ia memiliki wawasan pengetahuan yang luas, terampiul, dan dihargai oleh masyarakatnya.
Pentingnya memahami keempat pilar pendidikan tersebut akan menjadi dasar dan inspirasi bagi para guru terhadap pelajar untuk senantiasa mengembangkan kompetensinya dengan optimal agar sesuai dengan tuntutan zaman.
Sedangkan bagi orang tua, keempat pilar pendidikan tersebut perlu untuk dipahami secara lebih mendalam agar orang tua memahami pendidikan dalam konteks modern sehingga pikiran-pikiran orang tua maupun lingkungan keluarga yang cenderung tradisional segera ditanggalkan terhadap para pelajar.
Adanya kemajuan kompetensi bagi guru, dan keterbukaan lingkungan keluarga dalam memahami pendidikan secara luas, akan sangat berperan penting bagi pendewasaan pendidikan yang diperoleh siswa, terutama untuk mengantisipasi berbagai perkembangan di masa yang akan datang.

