Adaptasi Novel ke Skenario Film Laskar Pelangi
Laskar Pelangi adalah sebuah novel inspiratif yang fenomenal. Selain berhasil terjual ratusan ribu eksemplar, Laskar Pelangi juga menjadi kiblat novel-novel baru yang beredar dan mengangkat kisah-kisah inspiratif yang lain.
Kesuksesan novel Laskar Pelangi ini menarik pihak Miles Production dan Mizan Production untuk mengangkat novel Laskar Pelangi ini menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Penggarapan skenario film Laskar Pelangi ini dikerjakan oleh Salman Aristo, Riri Reza, dan Mira Lesmana.
Pembuatan Skenario Film Laskar Pelangi
Mengangkat sebuah novel menjadi sebuah film layar lebar mempunyai tingkat kesulitan tersendiri karena tidak semua yang ada di dalam novel itu bisa disajikan dalam bentuk gambar.
Novel bisa menceritakan apapun sesuai dengan keinginan penulis karena novel hanya berisi tulisan-tulisan dimana pembaca bisa mengkhayalkan apa yang ditulis oleh penulis novel sesuai dengan imajinasi masing-masing. Sedangkan film berisi gambar yang bisa langsung dilihat oleh penonton tanpa memerlukan imajinasi khusus. Selain itu sebuah film harus menyajikan cerita yang runtut dari awal hingga akhir cerita.
Kejadian-kejadian maupun setting cerita yang ada di dalam novel bisa saja diartikan berbeda oleh setiap pembaca. Hal tersebut yang membuat film yang mengadaptasi sebuah novel biasanya mendapat banyak kritikan karena para pembaca sebuah novel belum tentu setuju dengan imajinasi penulis skenario film yang dibuat berdasarkan adaptasi dari novel.
Tetapi dalam skenario film Laskar Pelangi, Salman Aristo dan kawan-kawan ternyata bisa menggambarkan novel Laskar Pelangi dalam sebuah film yang bagus. Bahkan Andrea Hirata sendiri mengatakan bahwa film Laskar Pelangi lebih baik daripada novelnya.
Perbedaan Skenario Film Laskar Pelangi dari Novel
Dalam skenario film Laskar Pelangi, Salman Aristo membuat sedikit perubahan dari cerita asli yang ada di dalam novel. Alasan utamanya adalah agar cerita lebih hidup dan bisa menggugah emosi penonton. Misalnya saja penambahan tokoh-tokoh baru yang sebelumnya tidak ada di dalam novel. Kita sebut saja Mahmud yang diceritakan mempunyai perasaan khusus terhadap Bu Muslimah. Walaupun tokoh ini kurang dieksplor, setidaknya ada warna yang berbeda ketika Mahmud berusaha mendekati Bu Muslimah.
Dalam segi cerita, skenario film Laskar Pelangi juga mengalami banyak perubahan. Misalnya saja ketika Pak Harfan meninggal dunia. Padahal adegan tersebut tidak ada di novel.
Meninggalnya Pak Harfan ini membuat Bu Mus begitu terpukul dan mogok mengajar tetapi anak-anak tetap semangat belajar. Lintang kemudian menjadi guru dari anak-anak yang lain. Adegan ini tentu saja memperkuat bagaimana semangat anak-anak Laskar Pelangi untuk terus belajar dalam berbagai kondisi.
Cerita lain dalam skenario film Laskar Pelangi yang berbeda dari novel adalah ketika Mahar menyanyikan lagu Seroja yang khas Melayu menggantikan lagu Tenasse Waltz. Hal ini semakin memperkuat suasana melayu dalam skenario film Laskar Pelangi.
Kekurangan Film Laskar Pelangi
Ada pepatah yang mengatakan bahwa tak ada gading yang retak. Film Laskar Pelangi yang mendapat banyak pujian dari para penonton juga mendapat banyak kritikan dari para penontonnya. Misalnya saja setting cerita yang tidak seindah deskripsi yang ada di dalam novel, adegan-adegan yang terkesan tempelan saja dan hanya untuk menampilkan apa yang ada di dalam novel, kurang maksimalnya penggalian adegan saat karnaval dimana kostum anak-anak Laskar Pelangi terkesan seadanya dan ketika mereka gatal-gatal, dan beberapa kekurangan yang lain.
Tentu saja kekecewaan penonton tersebut karena para penonton sudah membaca terlebih dahulu novel Laskar Pelangi. Dan ketika menjadi pembaca novel, masing-masing mempunyai imajinasi sendiri-sendiri dalam memaknai tulisan yang ada di novel.
Selain itu ketika novel tersebut diangkat menjadi skenario film Laskar Pelangi, tidak semua adegan dalam film bisa mewakili apa yang ada di dalam novel. Di balik kekurangan skenario film Laskar Pelangi, film ini layak menjadi tontonan yang menggugah terutama tentang pendidikan di Indonesia.






