Software Peta Dalam Teknik Reposisi Peta
Ilustrasi software peta
Peta adalah sesuatu yang sangat penting karena menyangkut kedaulatan negara. Kalau ada pergeseran sedikit saja, maka pergeseran itu bisa menyangkut luas wilayah. Misalnya, ketika Indonesia kehilangan dua pulaunya, artinya ada pergeseran luas wilayah kedaulatan. Hal inilah yang membuat negara Malaysia merasa berhak memasuki wilayah lain seperti Ambalat. Orang awam mungkin tidak banyak mengerti tentang bagaimana peta ini dibuat. Untuk itulah mungkin dengan mengethui tentang software peta, hal ini bisa sedikit terbuka.
Ragam Peta
Ketika ditujukan sebuah peta, apakah semua orang bisa memahaminya? Mungkin tidak banyak yang mampu memahaminya terutama kaum wanita. Kebanyakan wanita memang tidak memiliki kemampuan menganalisis dan mengerti tentang peta. Jangankan peta, melihat layout atau floor plan sebuah rumah saja, wanita sering kebingungan. Berbeda dengan laki-laki yang kebanyakan dikarunia kecerdasan spatial untuk mengetahui tata letak benda di bumi.
Tuhan memang maha adil menciptakan wanita dan laki-laki dengan kecerdasan yang berbeda sehingga mereka bisa saling melengkapi. Perhatikanlah apa yag terjadi ketika laki-laki mencari sebuah alamat. Mereka biasanya tidak akan banyak bertanya kalau belum terbentur atau sudah tidak tahu lagi mau pergi ke mana. Bagaimana dengan wanita? Mereka bisa bertanya puluhan kali bahkan bertanya pada orang yang sama karena memang otaknya agak sulit memahami kondisi suatu tempat.
Laki-laki jarang tersesat karena ingatannya terhadap kondisi suatu tempat cukup bagus. Sedangkan wanita, tidak jarang mereka harus berputar beberapa kali sebelum menemukan tempat yang sebenarnya pernah mereka kunjungi. Untungnya ada GPS yang menjadi salah satu fasilitas ponsel yang cukup bagus. Namun, bagi wanita GPS ini juga terkadang malah membingungkan. Apalagi kalau sudah berbicara tentang arah mata angin.
Bagi orang Jawa yang terbiasa dan terkondisi mengetahui arah mata angin, hal ini mungkin saja tidak masalah. Namun, ketika tidak tahu di mana matahari tenggelam, mereka juga bingung. Kalau di Yogyakarta, patokannya adalah Gunung Merapi. Gunung api yang sangat aktif ini adalah arah utara. Selanjutnya tinggal menganalisis mana arah mata angin yang lainnya. Ketika mencari alamat di tanah Jawa, biasanya arah mata angin inilah yang akan dipakai.
Misalnya, rumahnya disebelah selatan gedung yang bercat biru. Berbeda dengan di tanah Sumatera. Mata angin tidak dipakai. Arah kanan, kiri, depan, belakang, lebih sering dipakai. Perbedaan cara pandang dan cara pikir ini ternyata mempengaruhi seseorang dalam memahami sebuah peta. Bagi seorang tentara yang akan berperang di medan laga, kemampuan membaca peta adalah salah satu unsur yang sangat penting. Tanpa tahu medan, maka kematian dan kekalahan akan lebih sering dialami regunya.
Orang-orang yang bergerak dibidang pembuatan izin mendirikan bangunan termasuk juga orang-orang yang mempunyai usaha dibidang perumahan, kemampuan membaca peta adalah sesuatu yang mutlak. Kalau tidak, mereka tidak bisa menentukan pembuatan perumahannya. Apalagi ketika harus membaca peta pengembangan suatu wilayah. Kalau salah dalam menganalisis, bisa saja terjadi tumpang tindih luas tanah yang akan dibangun.
Permasalahan tanah ini sangat kompleks. Badan Pertanahan Nasional pun sering mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam membeli sebidang tanah. Banyak tanah yang menjadi sengketa atau bahkan ada yang mempunyai sertifikat ganda. Untuk lebih jelas dalam hal perpetaan ini, ada baiknya mempelajari bagaimana cara dan teknik penentuan titik-titik koordinat dan bagaimana membuat gambar peta yang benar.
Karena yang digunakan adalah skala yang kecil, di peta kelihatan kecil, tetepi kenyataannya bisa saja titik kecil itu merupakan satu kabupaten. Padahal harga tanah sangat mahal. Di daerah yang jauh dari kota saja, kini harganya sudah mencapai 350 ribu per meter persegi. Di perkotaan, harga itu telah meningkat berkali lipat. Inilah mengapa pengetahuan tentang peta sangat penting
Pembuatan Peta
Peta-peta tematik dibuat berdasarkan Peta Dasar Rupa Bumi Indonesia (RBI) dengan menggunakan software yang khusus untuk peta dalam pembuatannya. Teknik yang digunakan adalah reposisi peta.
Prinsip Peta Dasar
Peta-peta tematik sehubungan dengan banyaknya peristiwa bencana alam, seperti banjir, gempa dan gejala tektonik gunung berapi terasa betul kebutuhannya. Karena dengan peta-peta tematik ini dapat digunakan untuk meninjau lokasi, menentukan luasan daerah dan sebagainya, yang dalam fungsi operasional pengendalian bencana sangat membantu.
Sebelum mengenal reposisi peta dan software peta untuk pembuatan peta-peta tematik, ada baiknya Anda kenali dulu prinsip peta dasar. Prinsip Peta Dasar atau Peta Dasar Rupa Bumi (RBI) adalah peta dasar yang direkomendasikan untuk pembuatan peta-peta tematik wilayah, kehutanan dan lain-lain. Selain juga Peta Topografi (TOP), Peta Joint Operational Graphic (JOG) serta peta-peta dasar lainnya.
Peta Dasar Rupa Bumi Indonesia (RBI) adalah acuan sebagai peta dasar dalam pembuatan peta-peta tematik – karena peta RBI telah mengacu pada sistem koordinat dan grid Internasional yang menggunakan proyeksi Transverse Mercator (TM) dan sistem grid Universal Transverse Mercator (UTM). Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 730/Kpts-II/1999 tanggal 21 september 1999.
Software peta lainnya sebagai alat yang digunakan untuk kegiatan reposisi peta adalah GPS (Global Positioning System) yang dapat di setup jenis koordinatnya ke dalam sistem Universal Transverse Mercator (UTM).
Keunggulan Software Peta Sistem UTM
Salah satu keunggulan peta tematik digital yang menggunakan sistem UTM adalah kemudahan dalam penghitungan luas. Layer/poligon kawasan hutan misalnya - dapat diketahui luasnya tanpa perlu mencetak peta dalam skala tertentu lebih dulu. Lalu dihitung menggunakan planimeter karena sistem UTM memiliki satuan dalam meter. Peta tata batas kawasan hutan misalnya yang masih menggunakan koordinat lokal, sebenarnya juga menggunakan satuan meter. Bedanya ada pada sistem penomoran koordinat awal (x,y).
Koordinat awal (0,0) dalam peta tata batas kawasan hutan umumnya, yakni koordinat awal pengukuran disebut juga sebagai koordinat ikatan (starting point). Sedangkan sistem UTM memakai zone yang dipasang pada bagian dunia antara 80º LS sampai 84º LU. Yang masing-masing zone lebarnya 6º.
Sistem UTM disamping unggul namun juga punya kelemahan. Yaitu jika harus memetakan area yang merupakan wilayah perbatasan antara zone. Misal Pulau Flores dan Pulau Sumba di wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dua Metode Reposisi Peta
Dengan adanya kelemahan dalam sistem UTM bila harus memetakan wilayah perbatasan seperti antara Pulau Flores dan Pulau Sumba maka kegiatan reposisi peta dapat dikerjakan dengan memakai 2 metode. Pertama bila menggunakan Arc View 3.x, yaitu: menggunakan extention transform.avx pada Arc View. Dan kedua menghitung ulang koordinat berdasarkan buku ukur dimana koordinat awal diganti dengan menggunakan data koordinat GPS dalam ukuran sistem grid UTM.
Prinsip software peta dari metode Arc View 3.x tersebut sebagai berikut:
1. Metode transformasi yaitu menggunakan ikatan lokasi/obyek yang terdapat pada peta tata batas kawasan dengan obyek yang sama pada peta dasar.Kegiatan ini dapat dilakukan tanpa memasukkan data GPS.
2. Metode menghitung koordinat maksudnya menghitung ulang koordinat berdasarkan buku ukur. Dengan terlebih dulu mengganti data koordinat awal/lokal menjadi koordinat UTM hasil pengambilan data GPS. Agar koreksi tidak terlalu besar, dilakukan pengambilan data GPS dilakukan di lokasi/pal batas lainnya. Sistem perhitungan yang direkomendasikan adalah dengan cara polygon terbuka dengan 2 titik ikatan di awal dan akhir (temu gelang). Meskipun kawasan tersebut telah ditata batas seluruhnya.
Metode penghitungan ulang berdasarkan buku ukur sebagai berikut :
Metode apabila menggunakan Arc Gis 9.2, yakni dengan merubah data raster (scan peta tata batas) format jpg ke dalam sistem koordinat tertentu (geografis/UTM).
Tahapannya sebagai berikut :
Scan Peta Tata Batas Kawasan (yang akan ditematikan)
1. Masukkan koordinat GPS hasil pendataan lapangan sebagai reference pada peta tata batas dengan memakai georeferencing. Lalu dilakukan update georeferencing.
2. Setelah data raster tersebut berubah georeference-nya - tahap berikut dapat dilakukan digitasi ulang peta tata batas tersebut.
3. Metode perhitungan ulang data koordinat tata batas dapat juga dilakukan dengan Arc gis 9.2. Prosesnya hampir sama seperti bila memakai Arc View 3.x. Masing-masing metode sudah tentu punya kekurangan dan kelebihan baik ditinjau dari aspek waktu dan biaya. Aspek waktu adalah bersinergis dengan lamanya pengerjaan dan kemudahannya. Dan aspek biaya bersinergis biaya pelaksanaan serta variabel biaya lainnya.

