logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Sosial Budaya

Sosial Budaya

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Ilustrasi sosial budaya 

 

Tatar Sunda terkenal dengan pesona alamnya. Wilayah pegunungan sambung-menyambung, menciptakan daya pikat bagi siapa pun yang datang bertandang. Tapi, bukan itu saja pesona dari tanah Parahyangan ini. Kehidupan sosial budaya masyarakatnya pun tak kalah menarik.

Sebagai salah satu wilayah yang pernah menjadi pusat kerajaan besar zaman dahulu (Kerajaan Padjadjaran), tatar Sunda menyimpan kekayaan sosial budaya masyarakat. Bila dibedah, kekayaan sosial budaya tersebut bisa jadi warisan tak ternilai. Bukan hanya memotret keunikan masyarakat masa lalu, tapi juga menjadi ‘laboratorium’ kebudayaan yang tak akan habis digali nilai-nilai kearifan lokalnya.  

Setidaknya ada tiga masyarakat yang kehidupan sosial budaya mereka terbilang unik. Masih memegang kuat tradisi masa lalu. Perkembangan zaman seakan tidak punya pengaruh apa pun terhadap kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Apa saja tiga kelompok masyarakat genuine (adat) itu? Kelompok sosial budaya itu adalah masyarakat adat Kampung Pulo, masyarakat adat Suku Baduy, dan masyarakat adat Kampung Naga.

Dari ketiga masyarakat genuine tersebut, hanya akan dibahas satu saja, yakni masyarakat adat Kampung Naga. Kelompok adat yang keaslian dan keunikan kehidupan sosial budaya masyarakatnya masih terjaga. Tertarik ingin segera mengetahui keaslian dan keunikan dari masyarakat adat itu? Berikut pemaparan lengkapnya. 

Wisata Sosial Budaya Kampung Naga

Rasanya sangat tepat bila menempatkan Kampung Naga sebagai salah satu tujuan wisata sosial budaya. Sebagai perkampungan yang dihuni sekelompok masyarakat, Kampung Naga kental dengan tradisi menjaga adat istiadat leluhur. Baik itu dalam sikap dan perilaku sehari-hari, upacara keagamaan maupun bentuk bangunan yang ada di wilayah perkampungan, sama sekali tak berubah. Persis sama ketika perkampungan tersebut mulai dibangun pada masa dahulu.

Teramat langka ada suatu perkampungan yang secara eksklusif fisik maupun sosial budaya berbeda dengan perkampungan-perkampungan sekitarnya. Kampung Naga memang berbeda, unik dan khas. Sesuatu hal yang sukar ditemui di zaman postmo ini. Zaman ketika sesuatu yang unik dicari-cari keberadaannya. Dihargai dan diposisikan sebagai pemerkaya wawasan dalam kehidupan.  

Selain itu, kesahajaan dan kearifan lokal masyarakat Kampung Naga adalah magnet penarik bagi wisatawan lokal maupun manca. Bila diolah dengan tepat, Kampung Naga dapat jadi pusat wisata sosial budaya di Indonesia, bahkan dunia. Tak seperti saat ini, Kampung Naga gaungnya baru sebatas level provinsi (Provinsi Jawa Barat). 

Menjadikan Kampung Naga sebagai pusat wisata sosial budaya tingkat internasional, bukanlah mimpi. Akses ke kampung adat ini mudah dicapai. Letak Kampung Naga tidak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Kota Garut dan Tasikmalaya.

Dari pusat Kota Garut hanya sejauh 26 kilometer. Sedangkan dari Tasikmalaya, agak sedikit jauh yakni sekitar 30 kilometer. Jarak sepanjang itu jika memakai kendaran pribadi tidak akan memakan waktu lama, tidak lebih dari setengah jam. Begitu pula jika menggunakan angkutan umum yang banyak tersedia. Untuk menikmati suasana sosial budaya masyarakat adat itu, memang dibutuhkan perjalanan.

Letak yang tidak jauh dari kota, memungkinkan Kampung Naga dikunjungi tanpa terkendala jarak dan waktu. Hanya saja, bagi siapa pun yang hendak mengunjung kampung adat yang masih kaya akan ajaran sosial budaya ini harus mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Termasuk kapan waktu yang tepat jika hendak memasuki dan berinteraksi dengan warga dari Kampung Naga secara leluasa.

Menyelami kehidupan sosial budaya mereka tanpa terkendala aturan adat yang mengikat siapa pun. Karena aturan yang ada di kampung ini, harus dipatuhi oleh warga Kampung Naga maupun warga luar yang memasuki kampung tersebut. Unik bukan?

Bedah Sosial Budaya Kampung Naga

Jadi, pengetahuan memadai perlu dimiliki jika hendak mengunjungi kampung yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat sosial budaya masyarakat Sunda tempo baheula. Dimulai dari mengerti di mana letak kampung tersebut. Kampung Naga terletak di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung ini secara geografis berada di lembah yang subur. 

Dengan ‘dipagari’ hutan keramat (leuweung karamat) sebelah barat dan timur, serta bentangan sawah milik penduduk Kampung Naga di sebelah selatan. Apalagi ditambah adanya aliran Sungai Ciwulan yang melintasi perkampungan, sungguh asri. Sungai yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut tersebut, memberikan warna khas sosial budaya masyarakat yang mengacu pada kebudayaan sungai. 

Karena letak Kampung Naga yang berada di lembah, jika hendak memasukinya dan merasakan sensasi sosial budaya yang dianut masyarakatnya, harus menuruni jalan kecil berbelok-belok yang terbuat dari jalanan semen berundak dengan anak tangga (sengked) berjumlah 335 buah. Kemiringannya mencapai 45 derajat, jadi lumayan curam. Lalu, setelah itu ada jalan setapak yang menuju ke Kampung Naga.

Geliat sosial budaya masyarakat pun mulai terasa. Khususnya geliat yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi penduduk Kampung Naga sebagai petani tadah hujah atau irigasi dari air Sungai Ciwulan. 
Memasuki Kampung Naga berarti memasuki jantung dari kehidupan sosial budaya masyarakat yang masih memegang teguh tradisi Sunda.

Dimulai dari bentuk rumah adat yang berbentuk panggung. Bahan rumah adat, baik itu dinding maupun lantainya harus dari bambu atau kayu. Atapnya dari daun nipah, ijuk atau alang-alang. Bangunan adat khas Kampung Naga rasanya cukup sebagai gambaran awal kehidupan sosial budaya di kampung ini.

Gambaran Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Naga dari Bentuk Rumah

Gambaran sosial budaya masyarakat Kampung Naga yang bisa dilihat dari rumah, ternyata bukan hanya bentuk, tapi juga hal lain. Seperti, rumah yang dibangun tidak boleh dicat kecuali menggunakan kapur. Saling berhadapan dan rumah-rumah yang dibangun diatur membujur dari timur ke barat menghadap ke selatan. Sehingga menyajikan pemandangan perkampungan yang khas berupa rumah kayu beratap ijuk, berwarna putih dan tertata apik. 

Selain bentuk rumah yang harus seragam, jumlah bangunan pun mesti sama. Dari dulu hingga sekarang, terdapat 110 rumah dengan 110 kepala keluarga, 1 bale (aula), 1 leuit (lumbung padi), dan 1 masjid. Penduduk Kampung Naga meyakini jumlah tersebut tidak boleh berubah agar arwah nenek moyang mereka tak marah. Kehidupan sosial budaya yang mereka yakini, menempatkan penghormatan terhadap arwah nenek moyang sebagai salah satu unsur kepercayaan. 

Gambaran Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Naga dari Aturan-aturan Adat yang Berlaku

Walau penduduk kampung adat itu semuanya beragama Islam, tapi dalam praktik kehidupan sehari-hari, kehidupan sosial budaya mereka bercampur dengan tradisi megalitik, Hindu dan Budha. Ini bisa dilihat dari cerita atau mitos tentang asal usul Kampung Naga, ritual atau upacara adat warisan nenek moyang seperti Upacara Hajat Sasih, Nyepi, Panen, Gusaran, Perkawinan, seni tradisi khas berupa terbang gembrung, angklung, beluk dan rengkong.

Selain itu, adanya aturan atau pantangan yang dalam tradisi Islam tidak ada, namun dijalankan oleh penduduk Kampung Naga dengan penuh ketaatan. Diyakini sebagai bagian dari kehidupan sosial budaya mereka. Aturan atau pantangan itu berupa pengagungan hari Selasa, Rabu dan Sabtu dalam sepekan. Ada pun pada Syafar (nama bulan dalam kalender Hijriyah), penduduk Kampung Naga dilarang melakukan upacara adat atau berziarah. 

Aturan atau pantangan lainnya adalah persis seperti kehidupan sosial budaya masyarakat adat Baduy, Banten. Yaitu aturan yang melarang barang atau peralatan modern masuk ke Kampung Naga. Bahkan bukan hanya peralatan asing, petunjukan berbagai jenis kesenian di luar Kampung Naga, juga dilarang untuk diadakan.

Sekali pantangan itu dilanggar, maka bersiap-siaplah menerima musibah yang tidak disangka-sangka. Itu kepercayaan yang mereka yakini. Bagian dari kehidupan sosial budaya penduduk Kampung Naga sejak dahulu. 

Selain aturan atau pantangan, kehidupan sosial budaya penduduk Kampung Naga pun diwarnai dengan tempat-tempat larangan/keramat. Ada dua tempat atau lokasi larangan, yakni hutan larangan di sebelah timur dan barat perkampungan, dan bangunan keramat bernama ‘Bumi Ageung’. Bangunan ini hanya boleh dimasuki oleh Ketua Adat pada saat pelaksanaan upacara adat yang rutin dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.

Segala keunikan dan kekhasan kehidupan sosial budaya penduduk Kampung Naga, dapat memberikan wawasan baru akan karakteristik suatu kelompok masyarakat. Mereka yang tetap bertahan dari keganasan pengaruh budaya modern. Tak berubah sedikit pun hingga kini.

 

Tolong di SHARE :
Share
 
Artikel Terkait

Tato Adalah Tanda (Simbol)
Dahulu tato diidentikkan dengan preman dan penjahat. Namun, saat ini tato sudah menjadi gaya hidup. Orang bertato banyak yang berasal dari kalangan jetset, di antaranya selebritis. Bagi yang kurang bernyali dengan tato yang permanen, kini tersedia juga tato temporary.

Perayaan Panen Raya di Masyarakat
Aktivitas panen raya memang hal yang sangat ditunggu- tunggu oleh masyarakat baik pedesaan maupun kota, semua orang akan senang di masa ini. Beragam acara dan ritual- ritual yang mereka sajikan hanya untuk merayakan panen yang berlimpah saat itu.

Asal Usul Danau Toba - Antara Legenda dan Realita
Seoerti yang sudah kita ketahui bahwa Indonesia terkenal dengan alamnya yang indah. Banyak tujuan wisata yang menarik yang bisa dinikmati oleh turis domestik maupun turis mancanegara. Salah satu tujuan wisata yang patut untuk dikunjungi adalah Danau Toba. Danau Toba adalah danau terbesar yang ada di Indonesia dan Asia Tenggara. Selain pemandangannya yang indah, Danau Toba pun terkenal karena cerita rakyatnya. Asal usul Danau Toba sangat menarik untuk dibahas, baik dari segi folk tale atau cerita rakyatnya maupun dari segi realitanya.

Mempelajari Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia
Sebelum sejarah masuknya Islam ke Indonesia dimulai, masyarakat bangsa Indonesia telah menganut kepercayaan yang berkembang saat itu, seperti animisme (kepercayaan terhadap roh-roh yang mendiami benda, misalnya pohon, patung, batu, sungai, dsb.) dinamisme (kepercayaan akan segala sesuatu bahwa sesuatu itu memiliki kekuatan atau tenaga yang dapat memengaruhi keberhasilan/kegagalan seseorang di dalam hidup), Hinduisme, dan Buddhaisme.

Menambah Pengetahuan Tentang Ciri ciri Masyarakat Politik
Sebenarnya ciri ciri masyarakat politik belum banyak diketahui oleh semua kalangan masyarakat di tanah air ini. Hal tersebut menjadi dorongan tersendiri bagi kita untuk mengkajinya lebih dalam. Kita menambah pengetahuan mengenai hal tersebut bukan sebatas wacana, bahkan dapat dimungkinkan mampu menganalisis apakah masyarakat Indonesia utamanya kita termasuk dalam kriteria masyarakat politik atau tidak.

Warna-Warni Hubungan Indonesia Malaysia
Indonesia Malaysia memang bertetangga. Dua negara ini termasuk negara serumpun. Kedekatan lokasi dan kesamaan rumpun membuat warna-warni tersendiri dalam hubungan antara dua negara tersebut. Nah, untuk lebih jelasnya lagi, simak ulasannya dalam artikel berikut ini.

Fakta - Fakta Tentang Hidup dan Kehidupan
Begitu banyak fakta tentang hidup dan kehidupan. Misalnya, semua manusia terlahir dari rahim seorang wanita. Itu merupakan salah satu fakta hidup yang tak bisa dipungkiri. Fakta tentang hidup lainnya adalah bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis kelamin dan ketika jatuh cinta mereka harus jatuh cinta pada jenis kelamin yang berbeda.

Sekilas Tentang Yahudi, Agamanya Israel
Yahudi adalah satu agama yang diyakini oleh bangsa Yahudi yang banyak bermukim di Israel dan di negara-negara, seperti Amerika dan daratan Eropa.

Fenomena Globalisasi Sosial Budaya
Globalisasi tidak hanya terjadi pada dunia perekonomian, namun kini ia mulai merambah ke ranah sosial budaya. Sehingga banyak sekali terjadi pergeseran nilai-nilai sosial dan budaya dalamm suatu negara. Mulai pengarusutamaan gender, pola makan junk food dan fashion. Maka dari itu, kita haruslah melakukan seleksi dengan pancasila dan ajaran agama yang kita yakini.

Sosial Budaya Dasar Peradaban
Beberapa ahli mengatakan mempelajari [kwd]sosial budaya dasar[/kwd] berarti juga mempelajari sebuah peradaban, sebab dikatakan bahwa peradaban adalah bagian dari kebudayaan yang sudah tidak tumbuh atau berkembang lagi. Namun, ada pula yang menentang pendapat ini.

Apakah Definisi Sosial Budaya?
Sosial budaya adalah hal yang penting bagi suatu masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari sosial budaya selalu melengkapi kegiatan kita. Banyak budaya yang menajdi kegiatan sehari-hati dimana tidak terlepas dari peranan masyarakatnya. Namun pernahkan kita tahu definisi sosial budaya yang sering dibicarakan tersebut? Definis sosial budaya adalah segalah hal yang diciptakan oleh manusia dalam suatu masyarakat.

Topik Terkait
Sosial Budaya
Antropologi Sosial
Definisi Sosial
Departemen Sosial
Diferensiasi Sosial
Dinamika Sosial
Etika Sosial
Fenomena Sosial
Gejala Sosial
Gerakan Sosial
Hubungan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Sosial
Integrasi Sosial
Interaksi Sosial
Jaringan Sosial
Karya Ilmiah Sosial
Kelompok Sosial
Kerja Sosial
Kompetensi Sosial
Konflik Sosial
Kontrak Sosial
Lembaga Sosial
Lingkungan Sosial
Masalah Sosial
Masalah Sosial Remaja
Metode Penelitian Sosial
Mobilitas Sosial
Nilai Sosial
Norma Sosial
Organisasi Sosial
Pekerja Sosial
Pelapisan Sosial
Pendidikan Sosial
Pengendalian Sosial
Pengertian Sosial
Penyimpangan Sosial
Perilaku Sosial
Permasalahan Sosial
Perubahan Sosial
Perubahan Sosial Budaya
Pranata Sosial
Sains Sosial
Sistem Sosial
Sosial Ekonomi
Status Sosial
Stratifikasi Sosial
Struktur Sosial
Teori Belajar Sosial
Teori Pembelajaran Sosial
Teori Perubahan Sosial
Teori Sosial

Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA