Sosial
Berbagi untuk peduli adalah sifat mulia dan enebar jiwa sosial telah jadi warisan dari nenek moyang bangsa ini. Terkenal dengan adat timurnya, Indonesia memiliki masyarakat yang terdidik agar punya kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Jiwa Sosial yang Tergerus
Benarkah itu? Mungkin kini bagi sebagian orang mulai menyangsikannya. Lihat saja bagaimana perilaku warga kota besar seperti Jakarta. Sikap dan perilaku individual makin jelas terlihat. Kepedulian terhadap sesama baru ada jika pamrih didapatkan. Jiwa sosial di ibu kota negeri ini disebut-sebut sudah tergerus oleh kehidupan materi.
Fenomena kehidupan di Jakarta seakan memotret jurang sosial antara orang kaya dan miskin di Indonesia yang menganga semakin lebar. Kelompok kaya makin kaya, sedangkan yang miskin makin terpuruk dengan kemiskinannya. Jumlah Orang Kaya Baru (OKB) memang bertambah, tapi jumlah mereka yang miskin pun meningkat tak terkendali. Pesatnya pembangunan gedung-gedung bertingkat diiringi pula dengan pesatnya pembangunan gubuk-gubuk tak layak huni di sepanjang bantaran sungai kota-kota besar di Indonesia.
Benar bahwa pendapatan per kapita masyarakat Indonesia pada 2011 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya (2010). Kenaikan yang terbilang signifikan, yakni mencapai US$ 3.500-3.600, lebih tinggi dari tahun 2010, sebesar US$ 3.005. Begitu pula dua tahun sebelumnya (tahun 2009), pendapatan per kapita masyarakat Indonesia hanya mencapai 2.349,6 dollar AS. Tapi secara sosial, kehidupan masyarakat Indonesia tak banyak berbeda.
Nilai-nilai statistik yang terbilang menggembirakan itu, ternyata tak mampu menyentuh kehidupan sosial masyarakat akar rumput (grass root). Mereka tetap saja berkubang dengan kemiskinan. Mewariskan kemiskinan itu kepada anak-anak mereka, turun-temurun. Dan kehidupan sosial yang berada di bawah garis kemiskinan pun semakin susah untuk dihilangkan.
Ini adalah fakta-fakta sosial yang seakan membenarkan bahwa jiwa sosial di Indonesia telah pudar. Bagi mereka yang berpikiran pesimis, jelas menganggap kedermawanan sosial sudah luntur dan hanya jadi cerita masa lalu. Tidak ada lagi jiwa berbagi dan peduli terhadap orang lain.
Hanya saja, pandangan pesimis cenderung sarkastis itu tidak seratus persen benar.
Sejatinya jiwa sosial bangsa ini masih sangat tinggi. Kalau pun ada kemiskinan yang sulit dihilangkan, itu karena kemiskinan tersebut sudah menjadi sistem, yaitu sistem yang tidak memberikan kesempatan sama kepada semua orang untuk memperoleh dan menikmati ‘kue pembangunan’. Ada pun untuk jiwa individual masyarakat kota, itu hanya segelintir. Pada umumnya, jiwa sosial masih mendominasi masyarakat Indonesia.
Masih ragu? Berikut ini akan dipaparkan beberapa contoh peristiwa yang memotret kenyataan bahwa jiwa sosial bangsa Indonesia masih patut dibanggakan. Tidak luntur dan tergerus oleh kehidupan yang menghamba pada materi dan melupakan kebersamaan sosial terhadap orang lain. Semangat untuk berbagi tanpa pamrih pun masih kencang berdenyut.
Tsunami Aceh, Gempita Sosial bagi Bangsa
Bencana alam memang menyisakan kegetiran tak terperi. Bukan hanya kegetiran karena kehilangan berbagai materi, tapi juga trauma mendalam karena berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Bencana identik dengan malapetaka yang tak kuasa ditolak kedatangannya dan disesali setelahnya. Tatanan kehidupan sosial masyarakat hancur berantakan. Butuh waktu lama untuk membangunnya kembali (proses recovery).
Tetapi, selalu ada hikmah yang bisa dituai dari suatu bencana. Seperti pada 26 Desember 2004, tsunami raksasa menghantam beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Provinsi Aceh dan sebagian kecil Sumatera Utara). Korban tewas diperkirakan mencapai 150.000 orang. Kota-kota di dua provinsi tersebut, luluh lantak. Bahkan ada kota yang sebagian besar musnah tersapu oleh ganasnya ombak Samudera Hindia. Krisis sosial dan krisis-krisis lainnya, jadi ancaman yang jadi kenyataan.
Indonesia berduka atas bencana alam terbesar sejak republik ini berdiri. Terlalu banyak cerita duka. Terlalu banyak kisah memilukan berkaitan dengan malapetaka dahsyat yang kemudian dikenal dengan nama Tsunami Aceh tersebut. Namun di saat itu pula, dunia internasional melihat bagaimana luar biasanya kepedulian sosial bangsa ini.
Berbagai bantuan sosial bagi korban bencana tsunami, datang dan mengalir begitu derasnya. Seluruh eleman masyarakat di segenap penjuru nusantara, bergerak bersama-sama dalam membantu korban Tsunami Aceh. Bantuan sosial dari negara lain juga berdatangan. Tapi, tanpa bantuan itu pun, bangsa ini telah mampu secara swadaya menanggulangi dampak sosial dari bencana alam dahsyat tersebut.
Tsunami Aceh seakan jadi pintu pembuka kenyataan bahwa kedermawanan sosial bangsa Indonesia tidak hilang. Masih banyak warga di negeri ini yang sudi menolong sesamanya tanpa berpikir pamrih. Masih banyak yang peduli akan nasib orang lain yang tertimpa kemalangan tanpa melihat apakah ada keuntungan materi baginya.
Koin Prita, Jiwa Sosial yang Menyeruak
Akhir Desember 2009, publik di Indonesia diramaikan oleh aksi solidaritas sosial bagi Prita Mulyasari. Siapa itu Prita Mulyasari? Ia adalah korban dari kezaliman yang dilakukan oleh RS Omni International dan ketidakadilan sistem hukum di Indonesia.
Rumah sakitberskala internasional tersebut memenangkan gugatan terhadap Prita yang dituduh telah melakukan pencemaran nama baik. Prita sejatinya hanya melayangkan ‘surat’ ketidakpuasannya terhadap pelayanan RS Omni International yang tidak profesional. Tapi, bukan permintaan maaf dari rumah sakit yang ia dapat, sebaliknya Prita diputuskan bersalah. Ia pun mendapat denda dari pengadilan sebesar 204 juta rupiah. Peristiwa ini sontak mendapat perhatian masyarakat luas karena ada unsur ketidakadilan sosial yang begitu kentara.
Masyarakat Indonesia secara kolektif mengumpul koin untuk membantu Prita Mulyasari. Aksi sosial ini melibatkan semua kalangan. Kaya atau miskin, rakyat atau pejabat, masyarakat biasa atau kalangan artis, tua atau muda, semua menyumbangkan koin secara sukarela. Jumlah yang terkumpul pun melebihi nilai yang harus dibayar oleh Prita, yakni mencapai 500 juta rupiah.
Koin yang digunakan dalam aksi sosial bagi Prita ini punya makna mendalam. Jamak diketahui bahwa koin (uang receh) adalah simbol bagi kalangan bawah (orang miskin). Para pekerja jalanan, seperti pengamen atau pun pengemis, sehari-harinya mengumpulkan uang receh dari para pengguna jalan. Ini membuktikan bahwa bagi pekerja kelas bawah, uang receh merupakan uang berharga bagi penyambung hidup mereka.
Uang receh juga dapat menjadi simbol dari kesederhanaan sosial. Hampir semua orang pasti memiliki uang receh di saku atau dompetnya. Semiskin apa pun ia, uang receh pasti ada. Ini menginformasikan bahwa uang recah adalah uang rakyat yang identik dengan kesederhanaan.
Maraknya Komunitas Sosial Swadaya Masyarakat
Dua peristiwa solidaritas sosial di atas (Tsunami Aceh dan koin bagi Prita), hanyalah segelintir dari contoh nyata bagaimana kedermawanan sosial masih hidup di negeri ini. Jadi, lupakan berbagai pernyataan pesimis tentang jiwa sosial bangsa yang diklaim telah mati.
Selain berbagai peristiwa yang sifatnya insidental, kedermawan sosial juga ditunjukkan dengan maraknya keberadaan komunitas sosial masyarakat. Baik yang berbentuk lembaga resmi maupun komunitas yang diikat oleh kebersamaan para anggotanya.
Contoh paling terlihat dari lembaga resmi bentukan masyarakat yang bergerak di bidang sosial adalah keberadaan lembaga-lembaga amil zakat (LAZ). Lembaga swadaya masyarakat ini tergolong unik. Punya kesamaan dengan lembaga sosial masyarakat (LSM) dalam hal fokus kerja. Sama-sama bergerak dalam bidang sosial masyarakat. Tapi dari sisi visi misi, LAZ identik dengan semangat keagamaan, khususnya agama Islam.
LAZ adalah lembaga profesional yang mengelola dana zakat dari masyarakat Muslim. Dari dana tersebut, diolah dan disalurkan dalam beragam program pemberdayaan dan charity bagi kelompok sosial tertentu. Lihat saja bagaimana kiprah dari LAZ nasional seperti DPU Daarut Tauhiid, RZI, Dompet Dhuafa, Al Azhar Peduli Umat, atau PKPU. Sejak lahir hingga kini, manfaat mereka bagi masyarakat kurang mampu begitu terasa.
Ada pun komunitas sosial yang tak resmi tapi punya aksi nyata, kini juga banyak bermunculan. Lazimnya komunitas ini bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Mengadakan beragam kegiatan sosial seperti pengobatan gratis, bazaar murah, pembagian sembako hingga bakti sosial. Untuk bidang pendidikan, berbagai training motivasi, pelatihan persiapan UAN, outbond bagi pelajar, jadi kegiatan yang umumnya dilakukan.
Kehadiran mereka (komunitas sosial) memang tidak segebyar seperti keberadaan LAZ atau LSM. Jejak kegiatan sosial mereka pun umumnya tidak terliput oleh berbagai media lokal atau nasional sehingga komunitas tersebut hanya diketahui segelintir orang. Tetapi mereka punya program sosial nyata di masyarakat.
Salah satu contoh dari komunitas sosial tersebut adalah Pincoek Indonesia. Komunitas ini merupakan kumpulan dari pemuda-pemudi (pelajar, mahasiswa dan pekerja) di Kota Bandung. Aksi mereka meliputi kerja sosial dan pendidikan bagi generasi muda (kalangan pelajar). Semangat yang mereka tunjukkan, tak kalah dengan semangat dari LAZ atau LSM dalam memupuk dan menyebarkan jiwa sosial bagi bangsa ini. Jiwa untuk selalu berbagi tanpa pamrih.

