logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Liburan & Rekreasi    Bali    Artikel Umum Bali    Sriwijaya

Tentang Kerajaan Sriwijaya

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Tahukah Anda Kerajaan Sriwijaya? Artikel ini membahas seputar Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit konon memiliki wilayah kekuasaan yang begitu luas, bahkan sampai ke Filipina. Hal tersebutlah yang menginspirasikan nama seni bela diri Filipina yang dinamai Kali Majapahit. Konon, seni bela diri ini lahir di Pulau Mindanao dan Sulu pada masa kejayaan Majapahit.

Kali sendiri merupakan gabungan dua kata, yaitu kamut yang berarti tangan dan lihok yang berarti gerakan yang jika digabungkan menjadi gerakan tangan. Sementara itu, Kali dalam bahasa Melayu adalah keris. Sebenarnya, memang berbagai pengaruh Indonesia masuk ke Filipina pada masa Kerajaan Sriwijaya. Pada abad kelima dan keenam, suatu kerajaan dibentuk dengan bermigasinya umat Buddha India ke Sumatera dan Jawa. Kerajaan tersebut dikenal dengan nama Sriwijaya Melayu.

Kerajaan tersebut terus menyebar hingga ke Filipina. Seni bela diri, senjata canggih, dan organisasi superior yang dimiliki oleh Kerajaan Sriwijaya mampu menaklukkan penduduk sebelumnya. Beberapa keahlian tersebut disebarkan ke kepulauan-kepulauan yang jauh, sedangkan lainnya menetap dan dua kebudayaan menyatu dan menghasilkan varian dari budaya dan bahasa Melayu Polinesian yang merupakan nenek moyang orang Tahiti dan Hawaii.

Orang-orang Sriwijaya membawa mengaruh filosofi Buddha dan Hindu, seni dan bentuk-bentuk seni berperang ke Filipina. Mereka memperkenalkan hukum (Kode Kalantaw  yang terkenal), kalender, huruf tertulis (Sansekerta yang merupakan masa depan huruf Alibata dikembangkan kemudian), agama baru, serta sistem berat dan pengukuran. Budaya baru ini mengembangkan unit sosial yang disebut barangray.

Barulah serangan besar dari budaya dan gagasan asing terjadi pada akhir abad ketiga belas. Kerajaan Majapahit dari Jawa yang meruntuhkan Kerajaan Sriwijaya menyebar ke seluruh Asia Tenggara dan masuk ke Filipina. Masa-masa itu merupakan masa keemasan budaya Melayu. Maka dari itulah, orang-orang keturunan Jawa Timur hingga sekarang begitu bangganya dengan kejayaan Majapahit. Terlebih lagi jika mengetahui asal muasal seni bela diri Filipina yang menggunakan nama Kali Majapahit.

Kerennya lagi, Kali Majapahit merupakan seni bela diri yang digunakan Bourne pada film Bourne Identity, Bourne Supremacy, dan Bourne Ultimatum. Pada 2012 pun akan kembali diluncurkan Bourne Legacy.

Di luar itu semua, sebenarnya bagaimana sih asal usul Sriwijaya yang akhirnya diruntuhkan oleh Majapahit itu. Berikut ini ulasannya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Keberadaan mengenai Kerajaan Sriwijaya ini berasal dari tulisan seorang pendeta Tiongkok, yaitu I-tsing yang berkunjung ke Sriwijaya pada 671 dan menetap selama enam bulan. Selain itu, terdapat juga bukti lain berupa Prasasti Kedukan Bukit di Palembang yang merupakan prasasti paling tua dengan tahun 682.

Selain Filipina, seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, pengaruh Kerajaan Sriwijaya ini juga meluas di Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Pesisir Kalimantan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang kuat di Pulau Sumatera dan begitu berpengaruh di nusantara.

Kejayaan Sriwijaya yang gilang gemilang sesuai dengan makna namanya dalam bahasa Sansekerta, yaitu gabungan dari dua kata Sri dan Wijaya. Sri artinya bercahaya dan Wijaya artinya kemenangan. Jadi, dapat disimpulkan sebagai kemenangan yang bercahaya atau gilang gemilang. Namun, Kerajaan Sriwijaya ini dikenal juga dengan berbagai nama. Orang Tionghoa menyebutkan nama kerajaan ini San-Fo-Ts’i, San Fo Qi atau Shih-Li-Fo-Shih.

Sementara itu, dalam bahasa Pali, Kerajaan Sriwijaya disebut dengan nama Javadeh atau Yavadesh. Orang Khmer menyebutnya sebagai Melayu dan Bangsa Arab menyebut sebagai Zabaj.

Terdapat pula keterangan mengenai tiga Pulau Sabadeibei yang berkaitan dengan Sriwijaya pada peta Ptolomaeus. Sriwijaya memang menjadi simbol kebesaran Sumatera awal dan kerajaan besar nusantara. Jadi, pada abad ke dua puluh, kerajaan ini dijadikan referensi oleh kaum nasionalis bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan sebelum datangnya kolonialisme Belanda.

Pengaruh Sriwijaya di daerah bawahannya mulai menurun akibat beberapa peperangan. Serangan-serangan tersebut antara lain diluncurkan oleh Raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada 990 dan Rajendra Cola I dari Koromandel pada 1025. Sejak 1183, Kerajaan Sriwijaya di bawah kendali Kerajaan Dharmasraya dan di akhir masa, kerajaan ini takluk oleh Kerajaan Majapahit.

Secara resmi, eksistensi dari Kerajaan Sriwijaya ini diketahui pada 1918 oleh ahli sejarah Perancis, George Cœdès dari École française d’Extrême-Orient. Beliau memublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia dengan menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap San-fo-ts’I yang sebelumnya disebut Sribhoja dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno mengacu pada kekaisaran yang sama.

Mengenai pusat peradaban Sriwijaya sendiri, masih menjadi perdebatan. Pierre-Yves Manguin yang melakukan observasi sekitar 1993 menyatakan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking yang lokasinya terletak di Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Posisi tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang sekarang dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

Pendapat ini juga didukung oleh foto udara pada 1984 yang menampilkan bentuk bangunan air, jaringan kanal, parit, kolam, serta pulau buatan yang tersusun rapi pada situs Karanganyar.

Pada kawasan tersebut, banyak ditemukan peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat peradaban atau pusat permukiman dan pusat kegiatan manusia. Pendapat lain mengenai letak pusat Sriwijaya dikemukakan oleh Soekmono yang menyatakan bahwa pusat Sriwijaya terletak di Provinsi Jambi sekarang, yaitu pada kawasan sehiliran Batang Hari antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi.

Namun hal ini jika Malayu tidak di kawasan tersebut. Jika sebaliknya, Soekmono cenderung pada pendapat Moens bahwa letak pusat Kerajaan Sriwijaya ada di kawasan Candi Muara Takus yang berada di Provinsi Riau sekarang. Ini terkait dengan berita mengenai pembangunan candi yang dipersembahkan oleh Raja Sriwijaya Sri Cudamaniwarmadewa pada 1003 untuk kaisar Cina yang dinamakan Cheng Tien Wan Shou.

Tetapi berdasarkan prasasti Tanjore, dapat dipastikan bahwa pada masa penaklukan Raja Rajendra Chola I, Kerajaan Sriwijaya beribu kota di Kadaram atau yang sekarang bernama Kedah.

Perluasan Wilayah Kerajaaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya tidak memperluas kekuasaan di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara dengan pengecualian berkontribusi bagi populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Ibu kota Kerajaan Sriwijaya diperintah langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukung diperintah oleh datuk setempat. Kerajaan Sriwijaya terdiri dari tiga zona utama, yaitu ibu kota muara yang berpusat di Palembang, daerah pendukung yang terdapat di lembah Sungai Musi dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasaan saingan.

Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit pada masa kepemimpinan Dapunta Hyang Janayasa, Kerajaan Minanga yang kaya emas takluk di bawah Kerajaan Sriwijaya. Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang merambah bagian selatan Sumatera, Pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung tertuang pada Prasasti Kota Kapur dengan tahun yang sama dengan Prasasti Kedukan Bukit, yaitu 682.

Prasasti Kota Kapur juga menyebutkan mengenai ekspedisi militer Jayanasa ke Jawa yang tak berbakti pada Sriwijaya. Peristiwa tersebut bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Terumanegara di Jawa Barat dan Holing atau Kalingga di Jawa Tengah.

Kemungkinan besar keruntuhan kedua kerajaan di Jawa tersebut karena serangan Kerajaan Sriwijaya. Oleh karena itu, Kerajaan Sriwijaya pun tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan bahari di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.

Menurut catatan orang Tionghoa, pada abad ketujuh, terdapat dua kerajaan di Sumatera, yaitu Malayu dan Kedah dan tiga kerajaan di Jawa yang menjadi bagian dari imperium Sriwijaya. Berdasarkan catatan tersebut pula, bangsa Melayu-Buddha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa di sana.

Pada abad yang sama, Langkasuka di Semenanjung Melayu pun menjadi bagian kerajaan. Daerah tersebut meluas ke Pan Pan dan Trambalingga yang berada di sebelah utara Langkasuka pada masa berikutnya. Samaratungga menjadi penerus Kerajaan Sriwijaya dengan periode kekuasaan dari 792 hingga 835. Namun, dia tidak melakukan ekspansi militer, tapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa.

Pada masa kepemimpinannya, didirikanlah Candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada 825. Hingga kini, Candi Borobudur selalu dijadikan pusat perayaan Tri Suci Waisak oleh umat Buddha dari berbagai penjuru dunia.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Tanah Lot, Wisata Bali yang Terkenal
  • Berbagai Objek Wisata Menarik di Ubud
  • Pantai Tanjung Benoa Bali dan Mengeksplorasi Pulau Penyu
  • Villa Bali - Akomodasi Nyaman di Pulau Dewata
  • Gunakanlah Bali Driver, Agar Wisata Anda Berkesan
  • Pantai Dreamland Bali - Tanah Impian di Bali
  • Penginapan Murah di Bali - Semurah apa?
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA