Tanggung Jawab Sebagai Suami Istri
Ilustrasi suami istri
Ketika memutuskan akan melanjutkan hubungan dengan pasangan sebagai suami istri, banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Ini karena yang akan bersatu dalam pernikahan bukan hanya Anda dan pasangan Anda, tapi juga seluruh keluarga besar keduanya. Dan Anda akan menjalaninya selama sisa umur Anda. Segal macam perbedaan harus dibicarakan terlebih dahulu. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana menyikapi perbedaan itu. Cinta bisa terkikis kalau sering kecewa dan sangat sering berselisih paham. Jika selalu berkompromi, terkadang hati tak mampu berlapang dan dada terlalu sempit untuk melapangkan hati itu. Yang paling baik memang menikah dengan orang yang paling banyak kesamaannya dengan diri Anda.
Temukan Banyak Kesamaan
Jangan terlalu sennag dan bangga ketika mengatakan bahwa jatuh cinta kepada orang yang begitu berbeda dengan pribadi Anda adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Diawal membina hubungan mungkin menyenangkan. Namun, kalau lama-lama akan terlihat betapa tidak menyenangkannya bila satu senang ke pantai dan satunya senang ke gunung. Sesekali berbeda mungkin biasa saja. Tetapi kalau selalu berbeda dan suatu saat tidak ada yang saling mau mengalah, hati akan merasa jengkel.
Kejengkelan ini akan menjadi bara dalam sekam yang siap meledak hingga masing-masing akan mengatakan bahwa dialah yang paling banyak mengalah. Kalau kata-kata 'Akulah yang harus selalu mengalah', telah terlalu sering terucapkan, itulah pertanda bahaya. Tanda bahaya karena hati telah tidak dipenuhi dengan kasih sayang dan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang indah itu ketika getaran itu terus ada hingga sampai pun. Kerinduan selalu ada hingga kapan pun. Kalau hati telah meradang, berpisah 3 bulan pun malah tidak merasakan rindu sama sekali. Inilah tingkat bahaya yang luar biasa. Apalagi hingga tak mampu mengucapkan kata-kata mesra yang sangat sederhana, seperti 'I love you', 'Aku rindu', 'Aku butuh dekapmu', dan lain-lain.
Suami dan istri yang sudah kehilangan rasa cinta atau mungkin saja tidak pernah merasakan cinta yang menggebu akibat dari awal pernikahan mereka selalu ribut dan bertengkar, akan berpikir untyk berpisah. Kalau ada kesempatan, perpisahan itu pasti terjadi. Terkadang malah perpisahan terjadi ketika usia pernikahan baru menginjak bulan ketiga. Luar biasa tekanan yang dihadapi oleh kedua pengantin baru itu hingga mereka memutuskan untuk berpisah.
Pasangan yang merasakan indahnya cinta dan selalu ingin bersama karena selalu ada rindu yang menggebu, tidak mungkin akan berpisah. Jangankan bercerai, berpisah satu hari atau bahkan 6 jam saja mereka telah merasakan kehilangan dan mereka telah saling telepon untuk menanyakan keadaan. Pasangan pengantin baru seperti ini akan lengket terus dan selalu terlihat mesra. Dunia seolah milik mereka berdua. Apalagi kalau mereka bisa merasakan hubungan seks yang juga saling mengerti dan saling memahami. Perasaan cinta itu akan terus tumbuh hingga tak mau terpisahkan lagi.
Tidak mudah memang menemukan seseorang yang memang bisa hidup sejalan dan seiya sekata seperti gambaran itu. Inilah mengapa begitu banyak doa dipanjatkan agar diberi pasangan hidup yang menyejukan hati. Bila hati senang dan menerima pasangan dengan baik dan ikhlas, maka segala bentuk pengabdian yang harus dilakukan itu menjadi enteng. Bahkan pengorbanan tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus dikorbankan. Semua yang dilakukan atas dasar cinta yang mengiring masing-masing dari mereka melakukan banyak hal agar orang yang dicinta merasa disayangi dan dikasihi.
Asam Garam
Kehidupan pasangan suami istri senantiasa diwarnai asam manis kehidupan. Menyatunya dua pribadi dalam satu pernikahan tentu bukan perkara mudah. Oleh karenanya ada persyaratan cukup umur untuk menikah. Agar masalah-masalah yang timbul bisa diselesaikan dengan cara dewasa dan tidak berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan seperti perpisahan. Meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana berkomunikasi dan bagaimana menata hati adalah di antara hal yang harus terus dilakukan.
Manusia itu berkembang. Ketika sang suami berkembang secara ental dan spiritual terlalu cepat, maka mungkin ia akan kehilangan teman bicara karena sang istri tidak bisa mengimbangi. Begitupun sebaliknya. Yang paling baik adalah menjadikan pasangan sebagai teman terbaik dan sahabat sejati sehingga suami atau istri itu menjadi teman ngobrol dan diskusi yang paling menyenangkan. Kalau ini yang terjadi, itu artinya mereka berkembang bersama secara mental, spiritual, dan psikologis. Perkembangan yang dilakukan bersama-sama ini membuat keduanya saling bergantung satu sama lain sehingga berat untuk berpisah.
Cinta dalam persahabatan yang hakiki seperti dalam pernikahan ini akan menjadi salah satu penguat pernikahan yang sangat luar biasa. Keberadaan anak terkadang tdiak mampu menjadi penguat cinta. Yang paling penting memang hati kedua suami dan sitri tersebut. Kalau mereka sendiri mempunyai ikatan yang sangat kuat, tanpa kehadiran anak satu pun tidak akan menjadi masalah karena memang mereka merasa telah cukup dan merasa cukup hanya berdua. Mereka merasa senang dan tak merasa kesepian karena bisa saling melengkapi.
Memang tidak mudah mendapatkan pasangan yang begitu mengerti dan bisa diajak bersama-sama mengembangkan diri. Terkadang ada suami yang sangat rajin beribadah, sedangkan istrinya tidak. Begitupun sebaliknya. Kalau mereka sama-sama mempunyai tujuan untuk masuk surga, maka suami akan berkata bahwa ia ingin istrinyaitu menajdi bidadarinya di sana. Istri pun akan mengatakan bahwa ia ingin suaminyalah yang bersamanya di surga. Bagaimana mereka bsia bersatu di surga bila di dunia meereka memilih aktivitas kehidupan yang bertola belakang dengan jalan ke surga.
Saling mengerti dan mempunyai tujuan yang sama akan membuat keduanya semakin lengket dan tak terpisahkan. Godaan hidup yang bagaimana pun tak bisa memisahkan mereka. Mereka akan saling mendukung. Pasti ada rasa yang kurang dan ada rasa kehilangan ketika satu hari saja tiak bertemu dengan pasangan. Hat yang menyatu itu selalu ingin bersama. Mereka tak tergoyahkan oleh apapun. Ikatan yang mereka punya adalah ikatan yang suci yang akan menggiring mereka bersatu lagi di surga nanti.
Kewajiban dan Hak Suami dan Istri
Suami adalah kepala keluarga. Tentu kewajibannya adalah menghidupi seluruh anggota keluarganya, yaitu istri dan anak-anaknya. Sebagai pasangan, suami juga berkewajiban menafkahi istri secara batin. Sebagai ayah, seorang suami berkewajiban memberi kebutuhan dasar, pendidikan, dan kesehatan bagi anak. Sementara hak suami adalah dilayani istri. Juga sebagai kepala keluarga, suami berhak dihormati, dihargai, dan dipatuhi oleh istri dan anaknya. Sebagai seorang ayah, suami juga berhak mengarahkan masa depan anak.
Kewajiban istri adalah melayani, menghormati, dan mematuhi suami. Bahkan dalam hukum Islam, seorang perempuan menikah harus lebih mematuhi suaminya dahulu ketimbang orangtuanya, selama keduanya berada dalam kebaikan. Setelah memiliki anak, kewajiban istri ditambah dengan mengasuh dan mendidik anak.
Sementara hak istri adalah mendapatkan kasih sayang, perhatian, serta nafkah lahir dan batin dari suami. Juga sebagai ibu berhak mengarahkan masa depan anak. Dalam hal penghasilan suami dianggap kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, istri juga berhak untuk membantu suami menambah pemasukan keluarga. Tentunya dengan restu dari suami.
Anak berhak mendapat kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. Ia juga berhak dipenuhi kebutuhan dasarnya serta mendapat fasilitas pendidikan dan kesehatan yang baik dari orangtua. Oleh karenanya anak wajib menaati dan mematuhi orangtua. Anak harus sadar bahwa ia adalah aset orangtua dan orangtua pun harus tahu bahwa anak harus diperlakukan dnegan baik agar bisa menjadi aset yang luar biasa bermanfaat di dunia dan di akhirat.
Mengenai Keuangan
Pada beberapa keluarga kita sering mendengar adanya tabungan bersama antara suami istri untuk memenuhi kebutuhan bersama keluarga. Selama keduanya sepakat dan tidak memiliki keberatan apapun, hal tersebut boleh-boleh saja. Namun karena suami adalah kepala keluarga, seyogyanya ialah yang memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Sementara jika istri juga memiliki penghasilan, maka penghasilannya itu berhak digunakannya untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga atau untuk keperluan pribadinya.
Pada umumnya, dalam rumah tangga keuangan tersentralisasi pada salah satu pasangan yang memegang kendali pengeluaran rutin rumah tangga. Siapapun itu yang berperan seperti ini, hendaknya bersikap jujur dan terbuka kepada pasangannya. Tentu Anda tak ingin rumah tangga bermasalah hanya karena persoalan keuangan. Sepakatilah pos-pos rutin apa saja pengeluaran rumah tangga Anda tiap bulannya. Buat juga pos tabungan sebagai pos rutin agar tidak menabung sisa pengeluaran di akhir bulan.

