logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Dayak

Suku Dayak Asli - Suku Dayak Ma'anyan


Ilustrasi suku dayak asli

Menurut kepercayaan suku Dayak asli Ma’anyan, Allah yang Maha Agung telah menciptakan manusia pertama yang diberi nama Datu Mulia Munta, Maha Raja Mula Ulun. Dan, sebagai pasangannya diciptakanlah manusia kedua berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Dara Mula Lapeh, Suraibu Hengkang Ulun.

Dari kedua manusia itulah yang akhirnya menciptakan masyarakat suku Dayak Ma’anyan dengan tempat hidup mereka disebut Tane Tipak Sulau. Suku Dayak Ma’anyan ini diduga hidup di daerah Marabahan (Kabupaten Barito Kuala) karena kuburan Nini Punyut ditemukan di sebuah pulau kecil ditengah danau di Marabahan ini yang disebut Tamak Sapala.

Siapa Nini Punyut?

Menurut cerita, pada Zaman purba setelah Datu Mula Munta dan Dara Mula Lapeh memperanakkan begitu banyak anak, sehingga menjadi masyarakat suku Dayak Ma’anyan, kehidupan masyarakat sangatlah liar. Tidak ada hukum adat, tidak ada pemimpin, dan tidak ada peraturan apa pun yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

Margasatwa pun ikut tidak bias diatur. Semua kehidupan pada masa itu sangat kacau balau. Pertumpahan darah, perkelahian, hubungan seks sedarah, hubungan manusia dengan binatang. Kekacauan ini membuat prihatin Sang Pencipta.

Akhirnya Allah menjatuhkan segumpalan benang kusut sebesar buah kelapa yang disebut Tundun Taking disertai pesan bahwa siapa saja dari antara mereka, baik manusia maupun margasatwa, yang dapat menguraikan kekusutan benang kusut itu tanpa terputus, maka ia akan menjadi pemimpin yang memberikan keputusan hukum adat bagi siapa saja yang bersalah.

Seluruh penduduk bergantian mencoba, namun tidak ada satupun yang berhasil. Lalu, datanglah Etuh yang dipanggil Nini Punyut. Ia dalah seorang perempuan tua yang lusuh dan berpenampilan sangat kotor.

Dengan kesabaran, telaten, dan iman yang sangat kuat kepada Allah, Nini Punyut berhasil membuka simpul demi simpul kekusutan benang tersebut dengan sangat sempurna. Dan, Sang Pencipta akhirnya menepati janjinya untuk menjadikan Nini Punyut yang bijaksana dan sabar ini sebagai pemimpin suku Dayak Ma’anyan.

Sejak dipimpin Nini Punyut, kehidupan masyarakat Dayak Ma’anyan menjadi teratur. Antara manusia dan hewan hidup berdampingan dengan rukun. Hukum adat yang ditetapkan Nini Punyut juga membuat kehidupan antar manusia menjadi lebih baik.

Mereka mulai berladang untuk menghidupi kebutuhan mereka, berkebun untuk mendapatkan berbagai macam buah-buahan, dan ketika agama Hindu masuk ke daerah mereka, suku Dayak Ma’anyan langsung berbaur, sehingga masyarakat Dayak Ma’anyan dalam kehidupan sosialnya juga mengenal adanya kasta-kasta.

Suku Dayak Ma’anyan ini juga ditemukan di daerah Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara yang dapat dibuktikan dengan adanya Candi Laras. Persebaran penduduk suku Ma’anyan dikarenakan peperangan antarsuku yang pernah terjadi, sehingga yang selamat akhirnya meninggalkan desa mereka dan bermukim di daerah yang baru.

Keanekaragam Suku Budaya Indonesia

Negara yang terdiri dari ribuan pulau membuat Indonesia terdiri dari beragam suku budaya. Ada banyak suku yang mendiami berbagai wilayah di tanah air ini, selain dari suku Dayak tadi. Hingga pelosok-pelosok, terdapat lebih dari seribu suku bangsa yang ada di Indonesia. Setiap suku memiliki keanekaragaman masing-masing. Beberapa suku yang ada di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut.

  • Pulau Sumatera. Di Pulau Sumatera ada suku Aceh, Batak, Gayo, Komering, Mentawai, dan masih banyak lagi suku lainnya.
  • Pulau Jawa. Di pulau ini, Anda bisa menemukan suku Jawa, Badui, Betawi, Bawean, Tengger, Sunda, dan lain-lain.
  • Pulau Kalimantan. Di Kalimantan, tinggal suku Dayak, Pontianak, Limbai, Bawo, Kutai, Tunjung, Bakung, dan lain sebagainya.
  • Pulau Bali dan Nusa Tenggara. Di kedua pulau ini terdapat suku Bali, Kore, Sumbawa, Sasak, Flores, dan lain-lain.
  • Pulau Sulawesi. Di Pulau Sulawesi, Anda akan menjumpai suku Gorontalo, Sangir, Minahasa, Bajau, Makasar, dan suku-suku lainnya.
  • Pulau Maluku. Pulau Maluku dihuni oleh berbagai suku, seperti Buru, Aru, Ambon, Pagu, Ternate, Tidore, Seram, dan lain-lain.
  • Pulau Irian Jaya. Di pulau yang sering disebut juga dengan Papua ini ditinggali oleh suku Asmat, Aero, Gebe, Sawung, Sentani, Sawuy, Dani, dan masih banyak lagi suku-suku lainnya.

Keragaman suku juga disertai dengan keragaman budaya. Itulah yang membuat suku budaya Indonesia sangat dikenal bangsa lain karena budayanya yang unik. Berbagai bidang budaya mewarnai keragaman suku ini.

Keragaman suku budaya ini harus dilestarikan. Tantangan terberat adalah menghadapi era globalisasi ini di mana banyak orang yang menganggap bahwa semua yang berbau tradisional sudah ketinggalan jaman. Sudah saatnya kita sebagai warga negara Indonesia turut melestarikan suku budaya yang ada.

Kebudayaan di Indonesia semakin hari semakin terkikis. Masyarakat Indonesia semakin terpengaruh oleh kebudayaan luar melalui perkembangan teknologi yang semakin canggih ini, sehingga melupakan kebudayaan sendiri.

Pelajaran tentang kebudayaan hanya didapatkan di sekolah saja. Itu pun hanya teori saja yang diterima oleh para siswa, prakteknya jarang. Jadi, yang diterima oleh para siswa tentang kebudayaan Indonesia tetap kurang.

Pelajaran dari luar sekolah lebih berpengaruh pada seseorang dari pada pelajaran yang diterimanya di bangku sekolah. Untuk itu, perlu adanya dukungan dari luar sekolah untuk membantu seseorang mempelajari kebudayaan Indonesia.

Misalnya, pendidikan bahasa daerah yang dipelajari di sekolah tidak dapat dipraktekan oleh seorang siswa apabila di luar sekolahnya dia tidak menggunakan bahasa daerah tersebut.

Begitu juga tentang kebudayaan di Indonesia. Kebudayaan Indonesia semakin hilang di telan waktu. Penyebabnya karena perkembangan zaman yang memengaruhi masyarakat Indonesia dari kebudayaan luar yang banyak masuk ke Indonesia.

Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia melupakan kebudayaan sendiri. Pengaruh dari luar memang sangat kuat untuk mempengaruhi kebudayaan yang ada di Indonesia.

Memang perkembangan zaman itu dapat mengubah suatu negara dan masyarakatnya sendiri. Akan tetapi, perubahan tersebut harus dibarengi dengan norma-norma dan kebudayaan yang berlaku di negara ini.

Pengaruh atau kebudayaan dari luar yang masuk ke Indonesia harus disaring terlebih dahulu. Harus ada penyeleksian, mana yang baik dan mana yang buruk untuk kemajuan negara ini. Jangan asal menerima begitu saja pengaruh atau kebudayaan dari luar.

Perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat kebudayaan dari luar Indonesia masuk dan perkembang. Dalam berbagai bidang, pengaruh dari luar itu ada, bahkan sampai mengubah sistem yang telah berlaku di negara ini.

Dalam bidang kebudayaan saja, banyak hal yang berubah karena perkembangan zaman tersebut. Kebudayaan tradisional, mulai dari bahasa, suku, adat istiadat, tarian, pakaian, rumah adat, dan lain sebagainya, mulai jarang dipelajari dan dihapal oleh masyarakat, terutama generasi mudanya.

Pelajaran yang diterima di dunia pendidikan tidak cukup untuk membuat para generasi muda mencintai dan menghapal kebudayaan sendiri. Hal tersebut karena pengaruh dari kebudayaan luar tadi yang masuk ke negara ini.

Bahasa daerah saja sudah jarang didengar dari para generasi muda. Mereka lebih memilih berbahasa Indonesia dan bahasa asing. Menurut mereka itu lebih gaul dan modern.

Berbahasa asing boleh saja, tapi bukan berarti melupakan bahasa daerah sendiri. Apabila bahasa daerah terus menerus dilupakan, maka lama-lama akan hilang dan punah karena tidak ada lagi orang yang memakai bahasa daerah tersebut.

Masyarakat lebih tertarik untuk mempelajari budaya dari luar dari pada budaya negara sendiri. Alasannya, agar tidak ketinggalan zaman dan lebih gaul, menurut anak zaman sekarang.

Mengenal budaya sendiri dan mempraktekkannya di dalam sebuah pentas seni, seharusnya menjadi kebanggaan bagi masyarakat sendiri. Sebenarnya, negara yang maju adalah negara yang mencintai dan mengharagai kebudayaannya sendiri.

Apabila kita tidak menghargai kebudayaan sendiri, bagaimana kita dapat menghargai diri sendiri di luar sana. Kebudayaan dalam negeri seharusnya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia di dunia internasional sana.

Orang asing yang berkunjung ke Indonesia saja ingin mengetahui dan mempelajari kebudayaan Indonesia karena mereka tertarik pada kebudayaan yang ada di Indonesia. Akan tetapi, mengapa penduduk pribuminya sendiri malah malas dan gengsi untuk mempelajari kebudayaan sendiri.

Bagaimana masyarakat Indonesia memperkenalkan budaya sendiri di kancah internasional apabila masyarakatnya sendiri kurang pengetahuannya tentang kebudayaan sendiri.

Untuk itu, kebudayaan yang ada di Indonesia ini, perlu dirawat dan dilestarikan oleh masyarakatnya sendiri. Kalau bukan masyarakat sendiri sudah tidak dapat melestarikan kebudayaan tersebut, maka kebudayaan itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya para pewaris ilmu budaya.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan kebudayaan tradisional. Dengan mempelajarinya dan tentu saja dengan mempraktekkannya. Selain itu, mewariskan ilmu budaya tradisional kepada para generasi muda sejak usia dini, sehingga mereka mencintai kebudayaan sendiri.

Meskipun pengaruh kebudayaan dari luar mempengaruhi mereka, tapi karena sejak usia dini sudah ditanamkan cinta kebudayaan sendiri, maka dengan sendirinya mereka akan menyaring kebudayaan dari luar.

Suku budaya yang ada di Indonesia memang berbeda-beda, tapi bukan berarti dengan perbedaan tersebut Indonesia menjadi terpecah belah. Justru dengan perbedaan tersebut, masyarakat Indonesia dapat bersatu untuk saling melestarikan kebudayaan Indonesia.

Kerja sama anatara suku yang satu dengan yang lainnya untuk melestarikan budaya yang ada di negeri ini. Jangan saling menghina atau menjelekkan kebudayaan dari daerah yang berbeda budaya. Hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan antar suku budaya.

Mari kita sama-sama melestarikan kebudayaan Indonesia, meskipun berbeda suku dan bahasa, tapi tetap satu. Semoga informasi mengenai suku Dayak asli dan suku budaya Indonesia tersebut bermanfaat.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Cerita di Balik Patung Suku Asmat
  • Mengenal Jenis Pakaian Adat Suku Dayak
  • Mata Pencaharian Suku Dayak
  • Mengenal rumah adat suku Dayak
  • Tradisi dan Upacara Adat Suku Dayak
  • Mengenal Pakaian Suku Dayak
  • Suku Dayak Kekayaan Tradisi Indonesia
  • Tradisi Khas Suku Dayak Kalimantan
  • Mengenal Berbagai Tradisi Suku Dayak
  • Adat Istiadat Suku Dayak, Menyatu Dengan Alam
  • Suku Dayak di Kalimantan
  • Benarkah Asal Usul Suku Dayak Berasal dari Keturunan Bangsa China?
  • Tradisi Suku Dayak Pedalaman, Ngayau
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA