Suku Devayan

“Tak usah takut anak cucuku, tsunami itu mandi-mandimu dan gempa itu ayun-ayunanmu,” Ucap tetua di pulau Simeulue, tempat suku Devayan menetap. Turun-temurun di ucapkan, dengan sekuat hati diingat oleh setiap handai taulan suku Devayan. Pada saat tsunami menghantam Aceh, Desember 2004, ‘hanya tujuh korban jiwa’ yang direnggut bencana dari tanah Simeulue.
Ini karena di kalangan suku Devayan, telah dipersiapkan ‘peringatan dini’ dan rasa awas terhadap bencana gempa dan tsunami. Kecanggihan teori dan teknologi modern, akan takluk oleh penanganan bencana dari suku ini.
Cukup melihat tanda-tanda alam. Jangan serakah apabila melihat ikan-ikan terkapar pada saat air surut petanda akan muncul tsunami. Dan di setiap penjuru disediakan ruang untuk lari ke atas bukit. “Nga linon fesang smong,” Setiap ada gempa, akan menyusul tsunami. Tertanam dalam hati, dan jiwa terselamatkan.






