Suku Jawa

Orang Jawa, menurut Clifford Geertz peneliti asal Amerika Serikat, terbagi tiga bagian. Yang Priyayi, yang Nyantri, dan yang abangan. Pendapat itu kata banyak orang ngawur, wong amrik gendheng lali –orang amerika gila ngga sadar diri, bak nenek menegak tuak.
Karena tidak mungkin kategori Agama, Santri dan Abangan digabung dengan kategori sosial, Priyayi. Namun, pendapat itu tidak salah karena orang Jawa memang terdiri dari orang yang masih senang disebut nyantri, berdekatan dengan Kyai, hidup mati demi Agama Islam.
Dan adapula yang ningrat, dengan gelar maha hebat, berbahasa kromo inggil, bahasanya kaum keraton. Lantas ada yang abangan, senang mempraktikan kejawen, masih berIslam tapi Islam mixing, dengan tradisi kerohanian Keraton dan tradisi kerohanian pesantren.
Suku Jawa yang split tiga jenis itu, merupakan suku dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Masyarakatnya, lebih banyak petani, sehingga kental ada stratifikasi sosial, dari tingkatan kepala dusun sampai dengan menak, dari rakyat jelata sampai untuk tuan tanah, untuk mengatur perihidup dan rizki dari Tuhan, kepada suku Jawa.
- Eksotisme Solo
- Suku Jawa - Dicintai dan Dibenci
- Suku Jawa, Suku Terbesar di Indonesia
- Pola Kehidupan Orang Jawa, Nerimo Ing Pandum
- Adat Istiadat Suku Jawa: Kehamilan Hingga Kematian
- Rumah Adat Suku Jawa di Yogyakarta
- Menguak Asal-usul Suku Jawa
- Joglo, Rumah Adat Suku Jawa yang Eksotik
- Tradisi dan Karakter Khas Suku Jawa






