Suku Kutai Sudah Dikenal Sejak 3000 Tahun SM
Suku Kutai adalah salah satu suku bangsa yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur dengan jumlah penduduk sekitar 10,43% dari jumlah penduduk di Propinsi Kalimantan timur. Beberapa suku lain yang ada di Kalimantan Timur ini adalah Suku Banjar sekitar 12,19% dari jumlah penduduk Kalimantan Timur, kemudian Suku Paser 8,77%, Suku Bugis 14,44%, Minahasa 6,81%, China 16,76%, Jawa 29,76%, Batak 3,21% dan yang paling sedikit adalah Suku Gorontalo sebanyak 0,06%.
Nama Kutai sendiri sejak abad ke-4 sudah disebut-sebut dalam berita India yang menyebut negeri Kutai dengan nama Quetaire. Sementara dalam referensi di negeri China, telah pula disebut-sebut nama negeri Kutai dengan sebutan ”Kho They” yang kurang lebih berarti Kerajaan Besar. Begitu pula dalam kitab karangan Mpu Prapanca ”Nagara Kertagama”, dalam salah satu bagiannya disebut-sebut nama Tunjung Kute yang tak lain adalah Kerajaan Kutai.
Cikal-bakal nenek moyang Suku Kutai tak bisa dipisahkan dari migrasi besar-besar pada 1500 SM yakni kedatangan suku Yunan dari Cina. Salah satu kelompok pengembara ini sampai pula ke Kalimantan Timur dengan rute perjalanan dari Yunan melalui Hainan, Taiwan, Philipina kemudian sampai ke Kalimantan Timur.
Tentu saja saat itu perjalanan dari Cina ke Kalimantan Timur ini bukanlah pekerjaan sulit seperti perjalanan laut sekarang ini. Pada 1500 tahun SM pengaruh kutub utara sangat kuat, beberapa lautan membeku, sehingga hanya dengan menggunakan perahu kecil bercadik dan diberi sayap dari batang bambu, akan dengan gampang menyeberangi Selat Karimata dan Laut Cina Selatan sebelum akhirnya sampai di Kalimantan.
Para pengembara dari Cina ini diduga ras Negrid dan Weddid yang sekarang sudah punah. Lalu, pada sekitar 500 tahun SM kembali terjadi migrasi besar-besaran ke daerah Kalimantan, dan mereka inilah yang diduga kuat sebagai nenek moyang cikal bakal Suku Kutai.
Sebagai bagian tak terpisahkan dari keberadaan Propinsi Kalimantan Timur, Suku Kutai termasuk salah satu suku yang memiliki bahasa daerah sendiri. Secara umum komunikasi di Kalimantan Timur adalah menggunakan bahasa Indonesia.
Namun demikian, suku-suku besar penduduk Kalimantan Timur ini memiliki bahasa daerahnya sendiri. Selain bahasa Kutai, di Kalimantan Timur dikenal dan dipakai pula bahasa daerah Banjar, Bugis, Jawa dan Paser.
Demikian pula dengan adat-istiadat yang tetap dipegang teguh masyarakat Kalimantan Timur. Salah satu perkawinan yang masih bisa kita saksikan sampai hari ini adalah perkawinan adapt Suku Kutai. Begitu pula dengan suku-suku besar lainnya seperti Dayak, Banjar, Jawa dan Bugis, masih tetap memelihara adat istiadat perkawinan tradisional tersebut.
Secara umum, propinsi Kalimantan Timur yang ibu kota propinsinya di Balik Papan dikenal sebagai daerah utama penghasil minyak, sehingga tidak aneh kalau Propinsi Kalimantan Timur dijuluki Banua Patra atau Kota Minyak.
Potensi minyak di propinsi Kalimantan Timur terutama di daerah Balikpapan, Samboja, Muara Badak dan Sanga-sanga sudah sejak lama membuat bangsa lain tergiur untuk memilikinya.
Sejarah kemudian mencatat pada saat pemerintah Hindia Belanda mencengkramkan kuku kekuasaanya di nusantara, mereka kemudian membeli daerah Balikpapan dan sekitarnya dari Sultan Kutai Kertanegara. Sejak saat itulah dibangun kilang minyak dan perumahan untuk pegawai dan kantor operasional.
Erat hubungannya dengan pembangunan kilang minyak besar oleh pemerintah Hindia Belanda ini, pada saat itu terjadilah perpindahan penduduk terutama para pekerja dari Jawa. Tidak mengherankan jika di Propinsi Kalimantan Timur ini, suku Jawa termasuk suku terbesar dengan jumlah sekitar 29,76% dari jumlah penduduk Kalimantan Timur.






