logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Laut    Suku Laut

Suku Laut di Perairan Malaka - Mereka Berbeda!

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Pernah mendengar tentang suku laut? Pasti sebagian dari Anda belum begitu familiar dengan nama salah satu suku itu. Ya, suku laut memang merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia yang namanya masih cukup jarang terdengar. Meskipun demikian, suku laut tetap memiliki posisi yang sama dengan suku-suku kebudayaan yang ada di Indonesia.

Keunikan yang dimiliki oleh Suku Laut bisa jadi mungkin hanya dimilliki oleh Indonesia. Bukan satu hal yang ajaib sebenarnya, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Wilayah Indonesia sebagian besar yang merupakan perairan memungkinkan warganya untuk hidup di perairan.

Suku Laut bisa Anda temui di Batam, Kepulauan Riau. Keunikan suku laut ini bahkan pernah diliput di salah satu televisi swasta. Pada acara itu, warga suku laut digambarkan apa adanya tanpa dilebih-lebihkan. Keadaan rumah mereka yang terbuat dari tumpukkan kayu dan beratapkan rumbia juga digambarkan dengan jelas.

Seperti namanya, mereka lebih mengenal keadaan laut daripada keadaan daratan. Rumah yang terbuat dari tumpukkan kayu dan rumbia itu juga dibiarkan terapung di atas air. Semua aktivitas dilakukan oleh suku laut di atas air. Mungkin ada beberapa hal yang bisa mereka lakukan di atas daratan, tetapi itupun hanya sebagian kecil. Sebagian besar mereka habiskan di atas permukaan air.

Mengenal Masyarakat Suku Laut

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Lebih dari 17.000  pulau besar dan kecil membentang, dari Sabang hingga Merauke. Di dalamnya, hidup berbagai macam suku adat dan budaya yang berbeda. Kita adalah negera yang kaya akan budaya, suku dan ras. Salah satunya adalah suku laut.

Suku laut merupakan orang-orang yang hidup di sekitar kepulauan Riau. Tepatnya di kabupaten Lingga. Mungkin jarang orang yang mengenal suku laut. Karena, suku laut adalah orang-orang yang terisolir dari perkembangan zaman. Mereka tidak seprimitif suku anak dalam di Jambi. Namun, suku laut mungkin terlupakan oleh pemerintah karena banyak di antara mereka yang masih buta huruf. Hal ini menandakan bahwa kurangnya perhatian pemerintah pada warganya.

Kehidupan Masyarakat Suku Laut

Orang suku laut merupakan orang-orang yang mengadalkan penangkapan ikan sebagai nafkah hidup mereka. Mereka berprofesi sebagai nelayan. Kebanyakan dari mereka tinggal di atas rumah perahu yang terapung di muara sungai. Terkadang hidup mereka masih nomaden, dengan cara berpindah-pindah. Untuk itu mereka hanya mengenal kelompoknya atau sukunya sendiri. Masyarakat suku laut cenderung memisahkan diri dari kelompok atau suku lain.

Suku laut terdiri dari beberapa klan seperti suku mampor, suku mantang dan suku barok. Mereka sangat kuat terhadap garis keturunannya. Seperti adat melayu umumnya, suku laut mengambil garis ayah sebagai garis keturunan. Sehingga mereka harus dapat mewarisi sifat-sifat ayahnya. Mereka sangat patriarki.

Orang laut atau suku laut, begitu orang melayu pedalaman menyebutnya. Dulunya, mereka adalah perompak di lautan. Mereka merupakan orang-orang kuat yang menguasai selat malaka. Bagi kerajaan Sriwijaya dan kesultanan Johor, mereka merupakan kelompok yang sangat penting. Budaya hidup di laut menjadikan mereka mata rantai, yang menjaga hubungan perairan antara kerajaan-kerajaan di kepulanan Riau dan Malaka.

Mereka hidup dan berbudaya selama berabad-abad di atas lautan. Mereka lahir, kawin dan mati di lautan. Laut adalah bagian dari kehidupan mereka. Namun, kehidupan itu membuat mereka menjadi krisis identitas. Mereka sering masuk ke wilayah Malaysia dan menikah dengan suku laut yang ada di sana, maka kewargaan negara mereka patut dipertanyakan. Mereka seperti tidak perduli dengan kehidupan politik. Tidak penting bagi mereka menjadi orang Indonesia atau orang Malaysia. Cukup panggil mereka 'orang laut'.

Novel berjudul 'Laskar Pelangi', yang ditulis Andrea Hirata juga sedikit mengupas tentang kehidupan dan kebudayaan suku laut. Diceritakan tentang suku laut yang tinggal di wilayah Bangka Belitung. Mereka disebut orang-orang sawang. Orang-orang yang kuat dan hidup dengan kehormatannya. Laut adalah jiwa dan naluri manusianya.

Konon kabarnya, orang-orang suku laut sanggup menyelam sedalam 30 hingga 50 meter kedalam lautan tanpa menggunakan bantuan tabung oksigen. Mereka menyelam guna menangkap ikan, seperti tripang, bawal, kakap, cumi-cumi, bahkan hiu.

Menurut ahli sejarah, mereka sudah tinggal di laut sejak awal tahun masehi. Untuk itu laut sudah menjadi rumah mereka. Pemerintah Indonesia pernah sedikit peduli pada suku terasing ini. Misalnya membuatkan rumah semi permanen  yang sangat sederhana di pinggiran pantai, baik yang ada di kepulauan Riau atau di Bangka Belitung. Ternyata mereka meninggalkan rumah itu dan kembali kelautan.

Catatan terakhir tentang suku laut adalah yang berada di melayu Belitung dan hanya tinggal 50 kepala keluarga. Itu pun keberadaannya sangat sulit ditemui, karena cara hidup mereka yang sering berpindah-pindah. Bukan tidak mungkin, jika pemerintah masih saja apatis terhadap suku terasing, mereka akan punah bersama kebudayaannya.

Kebudayaan dan Kepercayaan Suku Laut

Salah satu kebudayaan mereka yang terkenal adalah tari campak laut. Tarian ini mirip tarian melayu yang dipadukan dengan berbalas pantun. Konon kabarnya, orang-orang suku laut ini sangat pandai berpantun. Karena pantun itu lahir dari kebudayaan mereka.

Dalam kepercayaan, masyarakat suku laut masih menganut animisme. Tapi beberapa diantara mereka sudah ada yang memeluk agama Islam, walaupun Islamnya masih bercampur dengan kepercayaan nenek moyang. Mereka sangat mempercayai takhayul tentang keramatnya suatu benda atau daerah. Bahkan ketika pergi melaut, mereka menggunakan hitungan tanggal dan weton untuk mengetahui hari keberutungan atau hari naas mereka. Mereka ahli membaca bintang dan bulan. Bagaimana tidak, mereka hidup di lautan. Dan satu-satunya petunjuk di laut selain kompas adalah bintang.

Suku laut selalu memegang komitmen kuat akan kehormatan dan jati diri mereka. Mereka tidak mau beralih pada profesi lain selain nelayan. Mereka juga tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau daratan. Alam merupakan sumber kehidupan mereka tanpa ada kepentingan yang lain. Misalnya mengeruk kekayaan alam dengan sangat besar, serta berdalih untuk kepentingan rakyat. Laut digunakan hanya untuk kepentingan perut, tanpa dalih apa-apa. Mereka adalah orang-orang yang lugu namun punya harga diri.

Suku Laut, Berbeda!

Keberadaan suku laut dikawasan Indonesia memang berbeda. Meskipun diakui sebagai salah satu suku yang berada di Indonesia, kehidupan mereka jelas sekali berbeda dengan kehidupan suku-suku kebanyakan yang umumnya hidup di daratan.

Mereka memegang teguh nilai-nilai kehidupan yang diturunkan oleh para leluhurnya. Itulah sebabnya mengapa hingga kini suku laut masih “betah” berada di daerah perairan atau laut. Suku laut merasa dengan hidup dilaut, mereka akan jauh lebih tenang. Sebuah cara pandang yang memang harus dihargai.

Meskipun keberadaannya masih menjadi kontroversi antara dua negara, Indonesia dan Malaysia, masyarakat suku laut tampak tidak terlalu memusingkan hal itu. Bagi mereka selama ada laut, masalah kewarganegaraan bukan lagi menjadi soal.

Suku laut memang benar-benar berbeda. Mereka semakin memperkaya kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Bagaimanapun keadaannya, masyarakat suku laut merupakan bagian dari nusantara. Melengkapi gugusan kebudayaan dari barat ke timur Indonesia.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA