Suku Maba
Indonesia memang kaya akan beragam suku bangsa. Salah satu suku yang ada di Indonesia, yaitu Suku Maba. Lalu, bagaimana kehidupan Suku Maba? Untuk mendapatkan jawabannya, Anda bisa mendapatkan informasi tersebut di artikel ini.
Suku Maba merupakan salah satu suku terbesar yang ada di wilayah Kabupaten Halmahera Timur (Haltim). Suku ini kaya akan gaya bahasa. Gaya bahasa ini disebut dengan logat. Selain itu, keunikan lain terlihat dari dalam hal agama maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat Maba.
Dilihat dari segi statistik, wilayah Maba termasuk wilayah yang cukup strategis di Kabupaten Halmahera Timur. Mata pencaharian Suku Maba sangat beragam. Akan tetapi, sebagian besar masyarakatnya memilih untuk berprofesi sebagai pelaut dan petani. Suku Maba tekenal dengan sikap ramah tamahnya, saling menghargai, saling menghormati satu sama lain sehingga rasa kekeluargaan dan kebersamaan semakin erat.
Asal Usul Suku Maba di Chad
Selain di Indonesia, Suku Maba pun ada di Negara Chad. Namun, Suku Maba di Indonesia dan di Chad tentu berbeda. berikut ini penjelasan mengenai Suku Maba yang ada di Negara Chad.
Pada awalnya, kehidupan Suku Maba sangat lekat dengan animisme. Akan tetapi, kedatangan salah saorang tokoh, yaitu Abdelkerim, telah membawa Suku Maba keluar dari kepercayaan animisme dan beralih memeluk agama Islam. Pada saat itu, Suku Maba disebut sebagai Suku Wadday.
Kedatangan Abdelkerim membawa banyak pengaruh termasuk berhasil membebaskan Suku Maba atau Suku Wadday ini dari belenggu para penjajah. Dengan jasa Abdelkerim yang begitu besar bagi Suku Maba, masyarakat membuat keputusan untuk menjadikannya sebagai sultan yang pertama. Konon katanya, Abdelkerim merupakan keturunan Abbas yang tidak lain paman dari Nabi Muhammad.
Sampai dengan saat ini, para sultan yang terdapat dalam Suku Maba masih dipilih dari keturunan Abbas. Hingga akhir abad 19, para sultan tersebut mempunyai kewenangan untuk memberikan perintah dari sebuah kota yang dikenal dengan Wara. Selama bertahun-tahun lamanya, Suku Maba berhasil membangun istana kerajaan yang megah, sebuah mesjid besar, dan bangunan lainnya. Semua gedung yang berhasil mereka bangun dibuat dari bahan dasar batu. Meskipun sebenarnya, awalnya mereka hanya mengenal bangunan yang dibuat dengan beratapkan rumbia.
Belakangan ini, Suku Maba memutuskan untuk meninggalkan Kota Wara dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Abeche. Pada akhirnya, Abeche diputuskan sebagai ibu kota. Banyak Suku Maba asli yang lebih memilih untuk pindah ke Sudan. Meskipun begitu, Suku Maba tetap menjaga kepercayaannya dengan menganut agama Islam. Bahkan, sekitar 500.000 jiwa Suku Maba sudah masuk agama Islam. Padahal, banyak kebudayan dan tradisi nenek moyang mereka yang kental dengan unsur-unsur animisme.
Bagi Suku Maba yang masih bertahan di dalam kota, mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa menggunakan bahasa Arab Chad. Bahasa Arab Chad merupakan bahasa yang digunakan dalam perdagangan. Bahkan, Suku Maba telah menguasai baca tulis bahasa Arab Chad hampir 90 persen. Tempat tinggal dari Suku asli Maba yang disebut dengan Dar Wadday terletak di wilayah utara Gurun Sahael.
Iklim di kediaman Suku Maba memiliki curah hujan hanya 300 hingga 400 mm. Sebagian besar Suku Maba memilih untuk bercocok tanam millet. Millet merupakan salah satu jenis gandum yang berbiji kecil. Tanaman hasil dari kegiatan bercocok tanam Suku Maba, yaitu bawang, buncis, jagung, kacang tanah, dan sayuran lainnya. Hasil panennya nanti akan dibagi dua, sebagian untuk dijual dan sebagian untuk keperluan pribadi.
Kaum Maba bukan hanya berprofesi sebagai petani, ada juga yang memilih menjadi peternak. Hewan yang mereka pilih untuk diternakkan di antaranya kambing dan sapi. Kedua hewan ini mempunyai manfaat yang sangat banyak, salah satunya hewan sapi yang bermanfaat bukan hanya dagingnya, tapi juga susunya juga.
Akan tetapi, di tengah kemakmuran Suku Maba, mereka dihinggapi dengan permasalahan yang begitu kompleks, yaitu air bersih. Sebagian besar Suku Maba yang tinggal di pedesaan kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-harinya, terutama untuk minum.
Salah satu desa yang mengalami kesulitan air bersih terparah terletak di dekat Sungai Wadi. Wadi merupakan sebuah sungai yang sangat kering. Para masyarakat Maba yang hendak mengambil air dari sungai ini, terlebih dahulu harus menggali tanah sedalam 20-50 meter, untuk mendapatkan air bersih. Akan tetapi, tanah di sungai ini teksturnya cukup keras sehingga sulit untuk digali.
Memang ada beberapa lembaga yang terbentuk untuk pengembangan masyarakat yang bergerak khusus dalam masalah pengadaan air dan pengolahan sungai untuk irigasi keperluan pertanian. Lembaga ini mempunyai pengaruh yang besar untuk meningkatkan persediaan pangan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan.
Memang, pemerintahan Negara Chad berada di tangan muslim karena mayoritas penduduknya beragama islam. Akan tetapi, dalam konstitusi, Chad bukanlah negara yang berdasarkan hukum Islam. Bahkan, di Chad tetap diizinkan untuk menyebarkan kabar tentang injil. Hal ini membawa dampak bagi Kaum Maba. Sebagian Kaum Maba yang tinggal di Chad telah membentuk kelompok kecil untuk orang-orang yang beragama Kristen.
Secara teoritis, memang Chad membebaskan rakyatnya dalam memilih agamanya masing-masing. Akan tetapi, dalam kenyataannya orang-orang yang beragama Kristen sering mendapat cacian dan hinaan di depan umum. Bukan hanya itu, orang-orang yang beragama Kristen juga dilarang berdagang di Chad karena dianggap menjual barang-barang haram.
Bahkan, ada kasus yang membuat orang-orang Kristen ini diseret menuju pengadilan di hadapan sultan. Orang-orang Kristen ini dilempari batu dan diancam akan dibunuh jika tetap bertahan dalam kepercayaannya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, orang Kristen mendapatkan kedamaian dan ketenangan di negara tersebut.
Orang-orang yang beragama Kristen mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara Chad. Mereka juga mendapatkan ketenangan dalam menjalankan kehidupan dengan beragamanya.
Berikut ini doa-doa yang biasanya dilantunkan oleh orang-orang Kristen di Chad.
“Doakan kelompok kecil orang-orang percaya dari suku Maba, supaya mereka terus tumbuh dalam iman dan tetap setia kepada Tuhan.”
“Minta Tuhan supaya memberikan lebih banyak hikmat marifat dan cinta kasih kepada para misionaris yang melayani di kawasan itu, agar mereka dapat mengajar orang-orang percaya bagaimana menghayati iman mereka secara kontekstual (sesuai dengan budaya setempat).”
“Melihat dari banyaknya mesjid, sekolah madrasah, dan lembaga pendidikan Islam yang bermunculan (yang sebagian besar dibiayai dari luar negeri), tampaknya masyarakat cukup haus akan pengetahuan dan ingin maju. Berdoa agar kehausan itu membuka jalan bagi pekabaran Injil.”
“Alkitab belum juga diterjemahkan ke dalam bahasa orang Maba. Berdoa agar Tuhan menyediakan para penerjemah,yang melakukan pekerjaan penerjamahan Alkitab tersebut.”
Dari kehidupan kaum Maba tersebut, Anda bisa mengambil hikmahnya bahwa semua agama itu pada umumnya mengajarkan pada hal-hal yang baik, yang membedakannya hanya pada cara menjabarannya. Untuk itu, jangan jadikan sebuah perbedaan sebagai salah satu pemicu perdebatan, tetapi buatlah untuk mewarnai kehidupan. Dengan adanya saling pengertian satu sama lain, akan manciptakan kedamaian dan ketenangan.
Kaum Maba merupakan kaum yang sangat memegang teguh agama Islam. Agama Islam telah membawa mereka terbebas dari kesengsaraan penjajah. Bahkan, mereka merasa agama Islam merupakan membuka pintu terang bagi kehidupan mereka.
Sekian artikel mengenai Suku Maba. Semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca.

