Anekdot Suku Madura
Suku Madura termasuk suku yang cukup populer di Indonesia. Sesuai namanya, suku Madura berasal dari Madura, sebuah pulau kecil di propinsi Jawa Timur. Sebagai suku yang gemar merantau, keberadaannya tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai mata pencaharian seperti nelayan, pedagang, buruh, dan pengepul besi tua.
Karakter Orang Madura
Kebanyakan orang mengenal suku Madura dengan stereotip negatif berwatak keras dan mudah tersinggung. Tradisi carok yang sarat dengan kekerasan pun disinyalir bersumber dari karakter ini.
Namun, agaknya tak banyak orang tahu bahwa sifat keras orang Madura juga dipengaruhi oleh reaksi sebab-akibat. Mungkin kata ekspresif lebih tepat digunakan ketimbang keras. Ketika merespons sesuatu terkait perlakuan orang lain terhadap dirinya, mereka sangat ekspresif.
Jika perlakuan itu menyenangkan hatinya, mereka akan spontan mengungkapkan terima kasih. Sebaliknya, jika merasa diperlakukan tidak menyenangkan, mereka juga akan bereaksi keras.
Misalkan saja, ada kisah nyata tentang seorang Madura yang menghisap rokok di ruangan ber-AC. Seseorang yang merasa terganggu lantas menegurnya. Anda mungkin langsung menebak si Madura akan berang. Padahal tidak demikian. Ia justru merasa sangat bersalah dan kontan mematikan rokoknya yang masih panjang sambil buru-buru meminta maaf. Dengan wajah lugu ia mengatakan tidak tahu jika ada tanda larangan merokok.
Demikianlah sebenarnya karakter dasar orang Madura yang menghargai keterbukaan. Terlepas dari stereotip orang Madura yang keras, sebenarnya banyak juga karakter positif orang Madura yang patut ditiru seperti pekerja keras, disiplin, dan religius.
Anekdot Suku Madura
Gaya bicara blak-blakan dan logat yang terdengar lucu juga menjadi ciri khas yang membedakan suku Madura dengan suku lain. Tak heran, orang Madura kerap dijadikan objek aneka anekdot yang berkembang di tanah air.
Beberapa anekdot orang Madura berikut akan membuat Anda mau tak mau harus tersenyum.
Goblok vs Pinter
Suatu hari Anshori, seorang abang becak asal Madura bertindak nekad dengan menerobos lampu merah. Polisi yang tengah berjaga di pinggir jalan kontan menyuruhnya berhenti.
Polisi: Gimana sih? Lampu merah kok diterobos?
Ansori (dengan wajah lugu dan logat Madura yang kental): Wah, saya dak tau, Pak ...
Polisi: Guoblok kamu!
Ansori (ngedumel): De’ remmah (bagaimana) sampeyan ini, Pak? Kalo saya pinter ya dak mungkin mbecak, tak iyeh...”
Takut Tentara
Menurut gosip anekdot yang entah benar atau tidak, orang Madura itu takut tentara. Pada suatu hari, di sebuah bus kota yang berjubel penumpangnya. Seorang Madura mengajak bicara penumpang di sebelahnya yang berbadan kekar dan berambut cepak.
Dengan nada takut-takut, orang Madura itu bertanya, “Maaf Pak..., sampeyan polisi, ya?”
Orang berbadan kekar menjawab, “Bukan!”
“Sampeyan Angkatan Darat?”
“Bukan!”
“Ooh ..., Angkatan Laut, ya?”
“Bukan!”
“Angkatan Udara?”
“Bukan!”
Nada takut dalam suara si orang Madura berubah, berganti dengan nada marah. “Kurang ajar sampeyan!”
“Lho, kenapa?”
“Sampeyan... nginjek kaki saya, tak iyeh....!"
SIM Pinjaman
Dalam sebuah razia lalu lintas, seorang polisi lalu lintas menginterogasi seorang pengendara motor yang kebetulan adalah orang Madura.
“Mana SIM-nya?” tanya Pak Polisi.
“Ini, Pak. SIM teman saya,” jawab orang Madura lugu sambil menyodorkan selembar SIM.
“Naik motor kok pinjam SIM orang lain, heh? Ini pelanggaran! Kamu kena tilang!” hardik Pak Polisi sambil siap-siap menulis surat tilang.
“Sampeyan kok rah-marah? Saya dak nyolong. Saya pinjem SIM ini atas seizin yang punya, yaitu teman saya. Teman saya saja dak marah, eh, malah Pak Polisi yang rah-marah ... De’ remmah (bagaimana) sampeyan ini ...” sungut si orang Madura.






