Suku Papua
Artikel ini membahas seputar suku Papua. Papua memang salah satu wilayah di Indonesia yang mempunyai eksotisme dan daya tarik tersendiri. Bukan hanya dari segi pemandangan alamnya, melainkan juga dengan keunikan yang ada pada suku-suku di dalamnya.Ada beragam suku Papua. Namun kali ini kita akan dibahas adalah mengenai suku Asmat dan suku Dani.
Suku Papua - Suku Asmat
Suku Asmat merupakan suku Papua yang tinggal di Merauke. Suku ini memang telah dikenal banyak orang karena mempunyai ide cemerlang yang tercermin dari ukiran kayu yang mereka hasilkan. Berdasakan populasi, suku Asmat terbagi menjadi dua, yakni sebagian memilih untuk tinggal di pedalaman dan sebagian lgai tinggal di pesisir.
Akan tetapi, kedua kelompok ini satu sama lain mempunyai perbedaan dalam segi struktur sosial. Contohnya saja dalam ritual, cara pandang hidup, dan juga dialek yang digunakan. Kemudian untuk para masyarakat yang tinggal di pesisir pantai, ada dalam 2 kelompok, yaitu suku Nin dan suku Bisman.
Telah terjadi banyak pertentangan yang ada di suku Asmat ini. Hal ini disebabkan banyaknya perbedaan yang ada di antara mereka. Namun, hal yang sangat miris yaitu ketika pertentangan terjadi, mereka tidak segan untuk membunuh musuhnya tersebut.
Mata Pencaharian
Kebiasaan yang ada pada suku Asmat dalam mencari makan dan bertahan hidup dengan beragam suku Papua lain ternyata hampir sama. Mata pencaharian dari suku Asmat ini yaiu berburu binatang di hutan. Binatang yang mereka buru antara lain babi hutan, rusa, burung, ular, dan masih banyak hewan yang lainnya. Bahkan, untuk makanan pokok, mereka meramu sendiri sagu yang ada. Sebagian dari suku asli Asmat ini juga ada yang berprofesi sebagi nelayan.
Rumah Suku Asmat
Suku Asmat merupakan salah satu suku yang sangat kuat memegang nilai-nilai serta filosofi hidup. Hal ini terlihat dari permbangun rumah tradisional yang dilakukan sendiri tanpa bantuan dari arsitektur mana pun.
Rumah tradisional adat dari suku Asmat dikenal dengn sebutan Jew. Jew merupakan rumah yang dibangun khusus untuk melaksanakan segala hal yang berhubungan dengan tradisi suku Asmat. Contohnya saat melakukan pekerjaan membuat tas tradisional (noken), acara rapat adat, mengukir kayu, serta tempat tinggal untuk para bujang. Jadi tidak heran bila rumah ini juga dikenal dengan nama rumah bujang.
Keunikan yang ada pada rumah ini adalah pada bentuknya yang panjang. Panjang dari rumah ini bisa mencapai 50 meter. Pada zaman dahulu, ketika tengah berlangsung kehidupan dari suku Asmat kuno, masyarakat belum mengenal paku. Jadi, dalam pembuatannya pun tidak memakai paku.
Ada lagi rumah tradisional adat dari suku asli Amat. Rumah ini dikenal dengan nama Tysem. Rumah ini juga disebut sebagai rumah untuk keluarga. Rumah ini memang dipakai tempat tinggal untuk mereka yang sudah berkeluarga. Pada umumnya, rumah Tysem ini bisa dihuni oleh 2 sampai dengan 3 keluarga. Memang ukuran dari rumah Tysem ini lebih kecil dibandingkan rumah Jew. Biasanya, rumah Tysem dibangun mengelilingi rumah bujang. Bahkan, 15 sampai dengan 20 rumah Tysem bisa mengelilingi satu buah rumah Jew.
Namun, bahan yang digunakan untuk membangun dua rumah adat ini hampir sama. Bahan yang digunakan yaitu bahan alami dari hutan sekitar wilayah suku Asmat. Bahan membangun rumah Tysem hampir sama dengan bahan pembuat rumah Jew. Semua dari bahan alami yang terdapat di hutan sekitar lokasi suku Asmat berada.
Kepercayaan Terhadap Roh Leluhur
Latar belakang dari suku Asmat adalah animisme. Memang hampir semua suku tradisional yang ada di berbagai pelosok dunia adalah penganut animisme. Hal-hal yang gaib, yaitu roh-roh dari leluhur mereka sampai saat ini masih dijaga. Kepercayaan tersebut mereka tuangkan ke dalam ukitran kayu. Namun dalam pembuatannya, mereka tidak menggunakan sketsa.
Mereka menganggap bahwa yang akan membantu mereka menyelesaikan ukiran patung tersebut adalah bimbingan yang datang dari roh leluhur mereka. Arwah dari leluhur mereka digambarkan dalam sebuah ukiran patung yang dikenal dengan nama Mbis. Untuk menemukan Mnis ini, Anda dapat dengan mudah melihatnya di suku Asmat, yaitu pada bangunan rumah Jew. Mbis diletakkan di rumah Jew untuk menjaga rumah dari roh-roh jahat.
Suku Papua - Suku Dani
Suku dani disebut juga dengan suku Parim. Suku ini merupakan salah satu suku yang tinggal di wilayah Papua. Suku Dani sangat memegang erat kepercayaan yang ada. Contohnya yaitu senantiasa menghormati orang-orang yang telah meninggal dunia. Penghormatan tersebut terlihat dari upacara adat yang di dalamnya terdapat prosesi pemotongan hewan babi.
Suku Dani adalah salah satu suku di Papua yang sampai saat ini masih menggunakan koteka. Koteka yang mereka pakai yaitu dibuat dari kundeng kuning. Sementara itu, para wanita masih memakai pakaian yang dibuat dari serat maupun rumput. Selain itu, suku Dani juga masih tinggal di rumah gubuk yang atapnya dibuat dari ilalang atau jerami.
Kepercayaan Suku Dani
Masyarakat suku asli Dani sebagian ada yang memeluk agama Kristen sebagai kepercayaannya. Hal ini disebabkan sekitar tahun 1935, Eropa memberikan pengaruh misionaris ke wilayah suku Dani. Walaupun begitu, sebagian juga ada yang masih menjaga kepercayaan sesuai adat suku Dani.
Kepercayaan tersebut berupa Atou, yaitu konsep kesaktian akan diberikan secara turun-temurun kepada para kaum lelaki dari nenek moyang mereka. Kesaktian yang dimaksud yaitu kesaktian menghindari, mengobati atau bahkan menyembuhkan penyakit, dan juga kesaktian menjaga kebun. Mereka juga dibekali kesakian untuk bercocok tanam, yaitu kesaktian berkebun. Suku Dani juga mempunyai lambng sendiri yang dikenal dengan sebutan Kaneka. Simbol ini akan digunakan ketika pelaksanaan upacara tradisi yang sifatnya keagamaan.
Rumah Suku Dani
Rumah adat dari suku Dani mempunyai bentuk bundar, pintu ukuran mungil, serta memiliki atap yang terbuat dari jerami. Rumah adat ini dikenal dengan nama Honai. Rumah Honai ini bisa ditemukan di lembah baliem yang merupakan tempat tinggal dari suku Dani. Memang Honai merupakan salah satu rumah adat dari suku asli Dani. Dari segi ukuran memang kecil, hanya menggunakan kayu untuk dindingnya, dan jerami untuk bagian atapnya. Selain itu, ada pula rumah adat lainnya di suku Dani, yaitu Ebe’ai.
Bentuk bangunan kedua rumah adat tersebut memang sama. Hal yang membedakan adalah jenis kelamin para penghuni dari rumah adat tersebut. Para kaum laki-laki tinggal di rumah adat Honai, sedangkan rumah adat Ebe’ai merupakan tempat tinggal para kaum wanita.
Ternyata pemilihan jerami sebagai atapnya dan kayu sebagai dindingnya mempunyai alasan tersendiri. Jerami dan kayu merupakan bahan yang sangat baik untuk mendatangkan hawa sejuk ke dalam rumah adat tersebut. Namun bila udara di dalam rumah terasa dingin, terdapat satu perapian yang ada di bagian tengah rumah tersebut. Bagi mereka, asap yang timbul dari perapian tersebut bukan masalah karena pintu dari rumah adat ini selalu tertutup. Jadi dalam cuaca panas maupun dingin, mereka akan tetap merasa nyaman.
Masih banyak lagi keunikan dari beragam suku Papua. Tradisi adat yang ada memang dipegang erat oleh masyarakat tersebut. Rasa hormat terhadap nenek moyang mereka tunjukkan dengan menjaga segala budaya dan kelestaran alam yang ada di Papua.

