Suku Sunda

Orang Sunda diciptakan oleh Tuhan, ketika Beliau sedang tertawa terbahak-bahak dan sedang berbaring mengopi ditepian sawah, melihat aliran jernih mata air mengairi persawahan, burung bangau memenuhi langit kembali dari utara yang dingin, mampir di sawah mencari ikan Beunteur.
Tanah Sunda menjadi tanah terakhir di Nusantara yang kebagian sinar pagi matahari, dan menjadi yang paling akhir melihat terbenamnya matahari ke selatan samudera Hindia. Tidak heran orang Sunda adalah orang yang paling akhir ikut bagian dalam bagian sejarah Indonesia. Seperti berakhirnya penjajahan Belanda, di Linggarjati, dan berakhirnya kekuasaan Jepang di Sunda Kelapa.
Suku ini mewarisi tiga sungai pembelah pulau, Ciliwung, Citarum, dan Cisadane, sehingga bertani menjadi sumber pencaharian. Memilih pendekatan kebijaksanaan dalam pandangan hidupnya, menjadikan suku Sunda bukan suku yang haus kekuasaan dan ketenaran.
Istilah Sineger atau penengah dalam cara pandang orang sunda masih dipakai sampai saat ini. Sikap dan ciri perilakunya dimiripkan dengan orang Swabia di Jerman, dan ciri-ciri orang penghuni Danube lainnya. Bersikap defensif, dan menolak offensif, karena tanah air sendiri begitu indah dan kecukupan, untuk apa merantau?
- Sunda, Tak Hanya di Jabar
- Belajar Sistem Kekerabatan Suku Sunda
- Ngahuma, Mata Pencaharian Suku Sunda
- Mengenal Suku Bangsa Sunda dan Bahasanya
- Perempuan dalam Budaya Suku Sunda
- Keunikan Bahan Rumah Adat Suku Sunda
- Keunikan Bahan Rumah Adat Suku Sunda
- Rumah Tradisional Adat Suku Sunda
- Sensasi Iket ala Pakaian Adat Suku Sunda
- Adat Istiadat Suku Sunda, Sebuah Kekayaan Indonesia






