Mengingat Sumber Akhlak
Ilustrasi sumber akhlak ?
Jika seseorang memiliki niat buruk pada orang lain, tentu yang dilakukan dan dibicarakan akan menuju keburukan orang tersebut. Misalnya, jika hati seseorang sudah diliputi amarah dan dendam, meski tidak pernah diungkapkan, seseorang itu akan terus menyindir melalui omongan atau berlaku tidak semestinya, asal tujuannya membalas dendam dan menyakiti orang lain bisa tersampaikan. Begitupun sebaliknya.
Dari mana lagi kita mengingatsumber akhlakjika bukan melalui hatiseseorang sendiri. Hati seseorang yang tidak memiliki penyakit hati, seperti iri, dengki, sombong, dendam, membuat pengetahuan akhlak dan perilaku layak kepada seseorang akan terlaksana dengan baik. Artinya, yang terpancar dari dalam hati itu akan berupaakhlakul karimahatau akhlak yang baik.
Ketulusan bersikap serta keikhlasan memberi sikap hormat dan baik kepada orang lain jarang ditemui zaman sekarang ini. Yang jelas terjadi di kehidupan sekitar kita adalah adanya pamrih seseorang dalam bersikap. Misalnya, jika kita mengingat kehidupan di kantor. Bagaimana seorang teman kita mati-matian mendukung atasan.
Apa yang dikatakan atasan merupakan sabda. Sementara ketika teman kita itu bergaul dengan teman sebaya, serasa kurang agresif dalam memberi sikap baik. Hasil perbincangan pun, biasanya akan dibawa menghadap kepada atasan. Tentu sikap seperti itu banyak terjadi zaman sekarang.
Demi jabatan dan demi menjadi kepercayaan atasan, sikap seseorang bahkan tidak terkendali. Dalam kacamata teman ataupun atasan, tentu akan menempati sudut pandang yang buruk. Tidak pernah disukai.
Cara pandang seseorang mengenai makhluk sekitar tentu akan membawa peran yang besar pada kelayakan tingkah dan akhlak. Bagaimana tidak, cara pandang ini akan menentukan bagaimana seseorang menghargai dan menghormati.
Yang kaya akan diperlakukan baik, sebaliknya yang miskin akan diperlakukan semena-mena. Bahkan, hanya orang yang baik pada kita yang diperlakukan baik, tidak bagi yang berlaku biasa atau bahkan buruk kepada kita.
Cara pandang seperti itu salah dalam pandangan Islam karena Rasulullah sendiri tidak mengajarkan untuk membenci seseorang walaupun itu orang kafir. Rasulullah, bahkan, memberi perlakuan baik kepada orang yang telah dengan sengaja berniat menyakiti.
Secara tidak langsung, jika ada sebuah pertanyaan tentang mengingat sumber akhlak, jawaban paling sederhana, yaitu bersumber dari hati. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri pendidikan dari keluarga, pendidikan formal yang pernah diterima, dan lingkungan tempat tumbuh pun berpengaruh.
Dengan demikian, sudah pasti bisa diketahui tentang cara pandang seseorang terhadap orang lain. Tentu, tingkah laku seseorang akan dengan mudah ditebak. Yang disebut dengan akhlak seseorang akan tergambar jelas.
Yang tergambar belum tentu berasal dari dalam hati. Yang ada dalam hati belum tentu juga akan tergambar dalam tingkah laku dan perkataan. Perkataan dan perilaku pun tidak selamanya selalu menggambarkan isi dalam hati.
Bila dalam sudut pandang, kita menorehkan sedikit pemahaman bahwa setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Setiap individu tak pernah sama. Setiap individu memiliki kekurangan maupun kelebihan. Sama seperti diri kita sendiri. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui dan memahami diri sendiri dan selalu mengoreksi diri sendiri.
Tentu saja, jika dalam sudut pandang kita ada hal semacam itu, kita akan dengan mudah memahami orang lain sekaligus mudah dalam mengambil sikap dan berperilaku.
Adanya kepastian dalam diri kita untuk tidak terjangkit penyakit hati, sementara tanpa peduli sikap yang lain kepada kita. Yang jelas, jika sumber akhlak dalam diri kita baik, tentu akhlak yang keluar juga baik.
Bila sumber mata air jernih dan yang dilewati juga batuan tidak berlumpur, tentunya air yang mengalir di atasnya akan jernih pula. Batuan-batuan di sana akan tampak dengan indah. Sama juga jika sumber akhlak kita baik, ketulusan hati, cara pandang dalam segala hal, maupun pendidikan tentangakhlakul karimah, tentunya keindahan-keindahan akan terlihat.
Namun, tantangan tak akan pernah berhenti. Mempertahankan memiliki sumber akhlak yang baik itu lebih sulit. Dan yang paling sulit lagi adalah memiliki akhlakul karimah sampai akhir hayat kita karena godaan dari lingkungan sekitar akan selalu datang menghampiri.
Sumber Akhlak -Al Quran dan Hadist
Sebenarnya, sumber akhlak hanya bersumber pada Al Quran dan Hadist. Kedua sumber tersebut merupakan landasan atau acuan dari segala sesuatu tindakan yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai sumber akhlak, di dalam Al Quran dan Hadist pun dijelaskan mengenai arti baik dan buruk dari setiap tindakan yang dilakukan manusia.
Sumber akhlak secara Islam merupakan sistem moral atau akhlak yang berdasarkan pada akidah yang diwahyukan Allah Swt kepada rasulnya kemudian disampaikan kepada umatnya. Sumber akhlak Islam bersumber pada Al Quran dan Hadist. Hal itu sesuai yang disebutkan dalam hadist berikut ini.
Dari Anas bin Malik berkata: Nabi bersabda: “Telah kutinggalkan atas kamu sekalian dua perkara yang apabila kamu berpegang kepada keduanya, maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Rasul-Nya (hadist).
Nabi Muhammad merupakan nabi terakhir yang wajib diketahui. Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah Swt ke dunia ini bertujuan untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini seperti yang telah dijelaskan Allah Swt dalam firman-Nya yang berbunyi:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah."(QS. Al Ahzab: 21)
Ayat dan Hadist di atas jelas menyatakan bahwa segala bentuk perilaku di dunia ini harus bersumber darai Al Quran dan Hadist. Ayat di atas pun dengan jelas menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan utusan Allah untuk umat manusia. Oleh karena itu, Al Quran dan Hadist merupakan sumber akhlak dalam Islam yang menjadi dasar perilaku umat manusia di dunia ini.
Sumber Akhlak – Macam-macam Akhlak
Secara garis besar, akhlak dibagi menjadi dua macam, yaitu akhlak yang terpuji (Al-Akhlaqul Mahmudah) dan akhlak yang tercela (Al Akhlaqul Madzmumah). Akhlak yang terpuji atau Al-Akhlaqul Mahmudah adalah perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan makhluk lainnya yang bisa membawa nilai positif bagi umat manusia.
Sementara itu, akhlak yang tercela atau Al Akhlaqul Madzmumah adalah suatu tindakan negatif terhadap Tuhan, sesama manusia, dan makhluk lainnya sehingga menimbulkan nilai dan suasana negatif dalam kehidupan umat.
Sumber Akhlak -Ruang Lingkup Akhlak
Secara garis besar, ruang lingkup akhlak dibagi menjadi tiga macam, yaitu akhlak kepada Allah Swt, akhlak kepada manusia, dan akhlak terhadap lingkungan.Yang dimaksud dengan akhlak kepada Allah adalah suatu pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Dengan kata lain, akhlak kepada Allah berarti sikap dan perbuatan yang seharusnya dilakukan manusia sebagai makhluk Allah kepada Allah sebagai pencipta. Di dalam Al Quran dan hadist, banyak dijelaskan mengenai bagaimana manusia sebagai makhluk harus berakhlak mulia kepada Allah sebagai pencipta.
Sementara itu, akhlak kepada manusia dapat diartikan sebagai suatu perilaku manusia terhadap sesamanya. Di dalam Al Quran dan hadist sebagai sumber akhlak, banyak dijelaskan bagaimana manusia harus bersikap terhadap sesama manusia. Misalnya, memahami bahwa diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.
Selain akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia, ada juga akhlak terhadap lingkungan. Yang dimaksud dengan akhlak terhadap lingkungan adalah suatu perbuatan terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan oleh Al Quran terhadap lingkungannya bersumber dari fungsi manusia. Dengan kata lain, bagaimana cara manusia mengayomi, menjaga, dan memelihara alam agar alam tetap asri dan tidak terganggu.
Itulah penjelasan mengenai sumber akhlak. Semoga penjelasan tersebut dapat bermanfaat bagi Anda.

