logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Industri & Perdagangan    Ritel    Usaha Ritel

Benarkah Supermarket Solusi Berbelanja Nyaman dan Praktis?


Ilustrasi supermarket

Pasar adalah sebuah istilah ekonomi untuk menyatakan sekumpulan konsumen suatu produk dalam penjualan komoditi-komoditi pemenuh kebutuhan dan keinginan. Namun, pasar yang dikenal luas oleh masyarakat awam ialah pasar yang menjadi salah satu sarana dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Baik itu pasar tradisional maupun pasar modern atau supermarket.

Pasar adalah pusat perdagangan baik barang maupun jasa yang disediakan oleh para produsen untuk kemudian dikonsumsi oleh masyarakat secara umum. Bagaimana dengan supermarket? Pasar modern ini banyak bermunculan dengan nama dagang beragam. Bahkan kemunculannya sangat menjamur hingga ke daerah-daerah kecil.

Padahal pada masa lalu, daerah-daerah kecil jarang sekali dilirik oleh kaum kapitalis untuk mendirikan cabang usahanya. Mengapa kehadiran supermarket ini begitu marak di tengah-tengah masyarakat? Fungsi kehadiran supermarket dalam dunia ekonomi modern disebut-sebut merupakan solusi atas kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi ditengah-tengah keterdesakan waktu.

Ya, dengan kompleksitas kepentingan, masyarakat modern memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaannya. Bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan yang sangat mereka butuhkan pun, terkadang harus diluangkan di waktu-waktu yang sempit.

Karena melihat peluang tersebutlah, para pemilik modal melirik strategi perdagangan cepat. Sistem ini pertama kali berkembang di negara-negara sibuk seperti negara-negara yang terdapat di Amerika, dan Asia Timur seperti Jepang dan Korea. Waktu yang dibutuhkan untuk berbelanja di supermarket memang diperkirakan lebih singkat dari waktu yang dibutuhkan untuk berbelanja di pasar-pasar tradisional.

Ini disebabkan oleh sistem harga tanpa penawaran yang diberlakukan di supermarket. Pelanggan tidak perlu mengadakan interaksi tambahan dengan pedagangnya (baca: tawar menawar). Di tempat ini pula, para pelanggan dapat langsung tepat sasaran. Misal, saat pelanggan membutuhkan bahan-bahan untuk membuat kue, mereka tidak perlu berkeliling mencari kios yang menjual bahan kue.

Di pasar modern ini, pelanggan cukup mencari pelayan untuk menanyakan kebutuhannya. Pelayan tersebut secara otomatis akan menunjukkan tempat di mana kebutuhannya berada. Pasar memang memiliki ruang yang lebih luas daripada supermarket.

Oleh karena itu, pasar dijadikan pusat perdagangan hampir di seluruh dunia. Beragam komoditi dihadirkan di pasar oleh lebih dari satu pedagang. Dengan begitu, tak perlu takut kehabisan barang yang dibutuhkan jika Anda mencarinya di pasar.

Namun masalahnya, keluasan ruang justru menjadi kendala tersendiri bagi orang-orang yang memiliki tingkat kesibukan yang tinggi. Keluasan ruang dan ketersediaan barang-barang yang lebih lengkap tidak menjadi nilai lebih bagi mereka. Supermarket menjadi alternatif yang mereka pilih untuk memenuhi kebutuhannya, dengan alasan kepraktisan.

Selain itu, interaksi yang sangat singkat di supermarket jelas mempersingkat pula proses pemenuhan kebutuhan. Meski jika ketersediaan barang di pasar modern tak terjamin, mereka lebih memilih untuk kembali lagi di kemudian hari daripada mencarinya di kesempatan yang sama. Lagi-lagi dengan alasan efisiensi waktu.

Hal lain yang memberikan nilai lebih bagi para pelanggan yang memilih untuk berbelanja di supermarket daripada di pasar adalah faktor kenyamanan. Mengapa pasar modern ini lebih nyaman untuk dikunjungi oleh sebagian besar masyarakat? Ya, memang karena alasan kenyamanan.

Beragam komoditi yang di pasok di pasar dalam jumlah besar, dengan menggunakan berbagai macam kendaraan jelas memperlihatkan kesemrawutan. Hal ini terjadi pada banyak lokasi pasar di dunia, khususnya di Indonesia.

Kesibukan yang berlangsung di pasar dalam usaha-usaha pemenuhan kebutuhan, tak akan memberikan kesempatan bagi para pedagangnya untuk berpikir tentang kenyamanan. Entah itu mengenai kerapian tempat, keamanan, bahkan yang menjadi masalah terbesar ialah sampah yang tersebar hampir di seluruh sudut pasar.

Hal itulah yang menjadi nilai negatif terselenggaranya pasar-pasar tradisional. Terlepas dari masalah efisiensi waktu, tampaknya kenyamanan juga merupakan alasan mengapa masyarakat lebih memilih untuk berbelanja di pasar modern dari pada di pasar tradisional.

Supermarket - Sejarah dan Perkembangannya

Sebagian dari Anda mungkin mengetahui supermarket setelah tumbuh berkembang seluas ini, bukankah begitu? Ya, beberapa dekade terakhir, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan perkembangan pasar modern yang seringkali Anda kenal sebagai supermarket. Pasar modern ini menjadikan bahan makanan sebagai salah satu komoditi utamanya.

Namun, seiring dengan perkembangannya yang kian pesat, komoditip un dikembangkan. Kini pasar modern juga menyediakan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga lain, lengkap dengan kebutuhan lifestyle. Akhirnya, mereka juga hadir dengan nama lain, toserba, atau toko serba ada.

Sebetulnya, pasar modern ini berkembang karena adanya kebutuhan dari industri-industri pengepakkan bahan makanan untuk memasarkan produknya. Outlet pertama yang berdiri sebagai tempat berdagang yang memiliki sistem pasar modern ini bernama dagang Mom and Pop Outlets, yang berkembang di beberapa kota besar.

Pada Tahun 1970an, masyarakat lebih familiar dengan sistem perdagangan yang diberlakukan oleh supermarket ini dengan didirikannya pasar modern dengan nama dagang Hero Toserba. Supermarket ini kemudian juga mengembangkan dirinya dengan bentuk minimarket modern dengan nama dagang Kem Chicks pada Tahun 1971.

Pada mulanya, Kem Chicks hanya menjual komoditi berupa telur ayam, meneruskan usaha pertama pemiliknya, Bob Sadino. Namun setelah bergerak sukses, Kem Chicks melepaskan diri dari Hero, dan merangkak perlahan menjadi pasar modern yang lebih besar.

Akhir Tahun 70an, persaingan dimulai. Setelah kemunculan Hero dan Kem Chicks, muncul pasar modern baru dengan nama dagang Gelael. Lalu ada pula Toko bernama dagang Duty Free, toko tersebut menyediakan makanan atau minuman beralkohol yang jarang dikonsumsi oleh orang Indonesia. Jadi, memiliki sasaran pasar para ekspatriat.

Kemudian beberapa toko kecil modern berdasarkan etnis tertentu juga dibuka dengan pengaruh kebudayaan India, Korea, dan Jepang. Tokoini entu saja memiliki sasaran pasar orang asing yang datang dari ketiga negara tersebut.

Pada akhir Tahun 80an dan di awal Tahun 90an, beberapa retail skala kecil (minimarket) mulai menjamur. Kedua jenis pasar modern tersebut membentuk jaringan kecil di kota-kota besar, di tengah kematangan perekonomian yang mereka hadapi.

Dengan semakin menjamurnya pasar-pasar modern, muncul pula banyak anggapan kontroversial. Anggapan ini menyebut bahwa peningkatan pasar modern di tengah-tengah masyarakat akan menggerus keberadaan pasar-pasar tradisional.

Hal itu disebabkan oleh adanya kemungkinan para konsumen pasar tradisional untuk berpindah ke pasar modern. Pasar-pasar modern lebih memiliki keberanian untuk menempatkan diri di tengah-tengah kerumunan masyarakat atau di dekat tempat tinggal mereka. Dengan begitu, walaupun harganya lebih mahal daripada pasar tradisional, mereka akan memilih berbelanja di pasar tradisional dengan alasan efektivitas.

Di Tahun 90an, Makro muncul sebagai pusat grosir terbesar pertama Indonesia. Nama dagang ini merupakan bentuk kerjasama dengan salah satu perusahaan dagang yang berpusat di Belanda. Jadi, sudah ada campur tangan saham asing dalam bisnis ini. Dilanjutkan oleh kehadiran Carrefour (franchise retail yang berpusat di Prancis), sebagai pesaing utama Makro di saat itu.

Pada tahun-tahun tersebut, Indonesia mengalami perkembangan dalam sektor perekonomian. Tumbuhnya ritel-ritel supermodern yang semakin menjamur ini dijadikan sebuah tolok ukur bagi pertumbuhan ekonomi. Pihak-pihak investor asing beramai-ramai menanam saham pada usaha yang mulai bertumbuh ini.

Produsen-produsen asing pun tak mau kalah geliatnya dari para penanam saham. Mereka berharap apa yang mereka datangkan ke Indonesia sebagai komoditi dagang melalui pasar-pasar modern tersebut mempunyai penggemarnya masing-masing. Benar saja, banyak produk asing yang terangkat berkat andil keberadaan pasar modern di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Supermarket dan Konsumerisme

Kemunculan supermarket serta retail-retail rekanannya ke tengah-tengah masyarakat Indonesia memang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka. Baik dari segi efisiensi waktu, maupun dalam efektivitas pergerakan.
Namun di luar manfaatnya, kehadiran pasar modern ini mengundang kontroversi sejak kelahirannya hingga saat ini.

Kemeriahan pasar modern ini disinyalir menjadi sumber kejatuhan bagi keberadaan pasar tradisional. Tumbuh berkembangnya pasar modern, akan semakin menggerogoti keberlangsungan pasar tradisional.

Coba saja Anda lihat, beberapa pasar tradisional di kota besar tergusur oleh ambisi para penanam investor untuk menjadikannya pasar dengan sistem modern atau setidaknya pusat perdagangan semi modern. Hal ini dapat menghilangkan kekhasan pasar.

Saya ambil contoh, di kota Bandung, beberapa pasar tradisional di sulap menjadi pusat perdagangan dengan konsep semi modern. Misalnya, Pasar Kebon Kalapa, Pasar Cicadas, hingga Pasar Baru. Ditambah lagi beberapa retail baru bertumbuh di tempat-tempat yang bahkan terkesan dipaksakan.

Perkembangan ini akan juga mengurangi kepedulian generasi muda terhadap budaya pasar tradisional. Hal ini justru dapat memperdalam kemampuan mereka untuk bersosialisasi bersama masyarakat secara umum, yang dapat dilatih dalam interaksi pasar.

Alhasil, banyak pemuda saat ini yang tumbuh di mall, dan menjadi lebih individualis. Meski memang bukan ini penyebab utamanya, namun hal ini turut pula mempengaruhi pembentukan karakter mereka.

Konsumerisme juga merupakan isu utama yang seringkali diangkat dalam menjamurnya pasar-pasar modern di masyarakat. Betapa tidak, meski harga yang ditawarkan di pasar modern jelas lebih tinggi daripada harga komoditi di pasar tradisional. Pasar modern ini menjadi alternatif utama bagi mayoritas masyarakat di masa kini untuk memenuhi kebutuhannya.

Jika ditanyakan, pasti mereka menjawab dengan alasan kenyamanan dan efisiensi waktu. Namun di luar itu ada alasan lain. Berbelanja di pasar modern mampu memberikan prestis bagi siapa yang melakukannya. Alasannya, tidak ada barang bermutu rendah yang didagangkan di pasar modern. Artinya, dengan berbelanja di pasar modern, selain membeli manfaat, Anda juga akan membeli merek.

Oleh karena itu, atmosfer konsumerisme sangat terasa di tengah-tengah keberadaan pasar modern ini. Selain itu, betapa telah terbiasanya masyarakat di masa kini untuk memilih berbelanja di pasar modern daripada pasar-pasar tradisional.

Supermarket dan retail modern lainnya dijadikan sebagai bagian dari gaya hidup dan ajang meningkatkan prestasi. Sebagai hal-hal yang menyumbang perkembangan jati diri sebagai individu konsumeris.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Alfamart - Solusi Belanja Puas Harga Pas!
  • Bangunan Jaya Berawal dari Ritel Toko Bangunan
  • Yuk Membeli dan Menjual Kembali Grosir Kaos Jogja
  • Distibutor Pulsa Peluang Bisnis yang Anti Krisis
  • Pasar Tradisional dan Kemajuan Zaman
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA