Hal-Hal Penting Dalam Supersemar
Ilustrasi supersemar
Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret merupakan surat perintah yang ditandatangani oleh Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Surat ini merupakan perintah untuk mengkondisikan keamanan pada waktu tersebut.
Surat ini dikatakan juga sebagai surat 'sakti' yang ditujukan kepada Soeharto, yang waktu itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban atau lebih dikenal dengan singkatan Pangkopkamtib. Perintah yang ada di dalam surat tersebut adalah pemberian kewenangan kepada Pangkopkamtib untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk mengamankan kondisi negara pada saat itu.
Supersemar ini ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno setelah memperhatikan kondisi keamanan negara yang semakin memburuk pada suasana revolusi tersebut. Berbagai kondisi di lapangan memungkinkan terjadinya kondisi yang mengancam keselamatan bangsa dan negara. Untuk hal tersebut, harus ada sosok yang mengkondisikan keamanan tersebut. Pengkondisian tersebut bertujuan agar negara terhindar dari kondisi yang buruk.
Walaupun di kemudian hari, saat sekarang ini, tumbuh dan berkembang wacana bahwa Supersemar yang diterbitkan dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno adalah palsu. Tetapi setidaknya jika kita analisa dengan pikiran sehat, maka surat perintah yang diterbitkan tersebut memang berusaha mengkondisikan keamanan masyarakat.
Supersemar diterbitkan untuk mengantisipasi serta menghadapi kondisi negara yang sedang rawan. Kondisi bangsa yang begitu berbahaya membutuhkan kesigapan dalam mengambil keputusan penanganan. Dan pemerintah (dalam hal ini Presiden Soekarno) telah mengambil langkah tepat dengan menerbitkan supersemar tersebut.
Inti Supersemar
Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerbitan Supersemar ini didasarkan pada kondisi di masyarakat, negara yang saat tersebut sangat genting, tidak aman. Hal ini merupakan langkah cepat yang diambil oleh presiden dengan harapan kondisi segera tertangani. Apalagi pada saat tersebut, kondisi negara memang belum stabil disebabkan masih banyaknya kerusuhan-kerusuhan di berbagai wilayah, bahkan di ibukota Jakarta.
Hal ini tentunya sangat mengkawatirkan keamanan masyarakat secara umum. Presiden menganggap perlu untuk menangani dan memulihkan kondisi. Dengan dasar perhitnan tersebut, maka dikeluarkanlah Surat Perintah Sebelam Maret atau Supersemar. Surat ini ditandatangai oleh Presiden Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.
Jika kita mempelajari isi supersemar tersebut, maka kita dapat mengemukakan beebrapa inti supersemar, yaitu:
1. Dasar Pengingatan
Supersemar yang diterbitkan dan ditandatangani oleh Presiden Soekarno dengan mengingat tingkatan revolusi saat itu, serta kondisi politik secara nasional maupun internasional. Hal ini merupakan hal penting yang harus segera diambil/diputuskan oleh Presiden sebagai Panglima Revolusi.
Pada saat itu, kondisi politik memang sedang tidak stabil. Di mana-mana terjadi kerusuhan yang mengancam keamanan bangsa dan negara.
Bahkan hanya itu, keamanan diri pribadi presiden atau pimpinan-pimpinan yang lain juga masih mengkawatirkan. Sehingga perlu langkah efektif agar mereka dapat dijamin keamanan hidupnya.
Di samping kondisi tersebut, penerbitan Supersemar didasarkan pada Perintah Harian Panglima Tertinggi Angkatan bersenjata/Presiden/Panglima Besar Revolusi, yang diterbitkan pada tanggal 8 Maret 1966. Dengan memperhatikan hal ini, maka perlu ditindaklanjuti dengan pengkondisian lapangan.
Jika pada tanggal tersebut tidak dikeluarkan surat perintah, dikawatirkan kondisi yang sudah gawat menjadi semakin gawat. Kegawatan yang dimungkinkan pada saat tersebut terkait dengan eksistensi bangsa dan negara.
2. Dasar Pertimbangan
Pertimbangan yang diambil presiden pada saat menerbitkan Supersemar adalah perlunya ketenangan dan kestabilan pemerintahan dan jalannya revolusi. Dengan pertimbangan ini, maka setidaknya kondisi yang tidak aman dan nyaman harus segera dilakukan tindakan nyata untuk pengkondisiannya. Hal ini perlu dilakukan mengingat jika dibiarkan, maka dapat menyebabkan terancamnya bangsa dan negara.
Ketenangan dan kestabilan pemerintahan merupakan salah satu prasyarat agar kegiatan kenegaraan dan pemerintahan lancar. Kondisi ini memungkinkan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan nyaman dan tidak terancam. Dan untuk hal tersebut, kita harus dapat mengkondisikan keamanan secara cepat dan tepat.
Tidaklah mungkin presiden secara langsung turun tangan menyelesaikan masalah di masyarakat. Sebab ada banyak personal yang mempunyai tugas membantu pekerjaannya. Presiden tinggal memberikan perintah untuk menangani setiap permasalahan yang berkembang di masyarakatnya.
Pertimbangan kedua yang diambil oleh presiden pada saat menerbitkan Supersemar adalah adanya jaminan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI, dan rakyat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar serta segala jajaran-jajarannya. Dalam hal ini, presiden menganggap perlu untuk menerbitkan surat perintah sebab segala kondisi sudah dijamin terkendalikan.
Presiden menerbitkan supersemar pada saat tersebut dengan alasan adanya janji atau jaminan penerima surat perintah bahwa pimpinan besar revolusi akan terjamin kepemimpinannya serta kewibawaannya. Dengan demikian, maka presiden berharap walaupun kondisi politik dan lingkungan tidak stabil, tetapi tapuk kepeminpinan dan kewibawaan pimpinan, presiden tetap terjaga baik.
Dengan adanya pelaksana surat perintah, maka setidaknya berkewajiban menjaga agar presiden dan jajarannya tetap terjaga dengan sebaik-baiknya.
3. Dasar Keputusan
Selanjutnya, dengan memperhatikan hal-hal diatas, diambillah keputusan penugasan dan job diskripsi untuk tugas tersebut. Secara jelas kita mengetahui bahwa surat ini ditujukan kepada Letnan Jenderal Soeharto yang pada saat itu menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat. Sementara itu, job description yang dijabarkan dalam surat tersebut adalah:
- Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu.
Hal ini untuk menjamin keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya revolusi. Juga menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/ Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia, serta melaksanakan dengan pasti ajaran Pemimpin Besar Revolusi.
Secara jelas, presiden memberikan kewenangan kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk melakukan langkah-langkah efektif dan dibutuhkan dalam upaya menciptakan keamanan secara menyeluruh. Pelaksana kegiatan, dalam hal ini Letkol Jenderal Soeharto, berkewajiban untuk menjamin keamanan, ketenangan, serta kestabilan jalannya pemerintahan, begitu juga halnya dengan jalannya revolusi bangsa.
Pada sisi lainnya, job diskripsi yang diberikan kepada Soeharto adalah menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pimpinan Besar Revolusi/Mandataris MPRS. Hal ini dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa dan negera Republik Indonesia serta melaksanakan ajaran Pemimpin Besar Revolusi.
- Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan panglima-panglima angkatan-angkatan lain secara baik baik.
Berdasarkan job diskripsi ini, maka setidaknya kita dapat mengetahui bahwa presiden memerintahkan kepada Jenderal Soeharto untuk melakukan koordinasi dengan angkatan lainnya agar pelaksanaan tugas lebih efektif. Koordinasi dengan angkatan lainnya bertujuan agar tercipta kerja yang sinergis di antara sekian banyak elemen keamanan, pengaman negara.
Koordinasi antarangkatan merupakan satu keharusan yang tidak dapat diabaikan. Sebab negara dan lingkungan kita terdiri atas wilayah utama, yaitu darat, laut, dan udara. Dengan perintah koordinasi ini, maka diharapkan masing-masing angkatan dapat menjalankan tugas dan kewajiban masinmasing.
Soeharto sebagai penerima perintah harus segera melakukan koordinasi agar dapat segera melaksanakan isi Supersemar yang dimaksudkan. Semakin cepat koordinasi dilakukan, maka semakin cepat merealiasi semua perintah yang ada dalam Supersemar tersebut.
- Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dengan tugas dan tanggung jawabnya.
Selanjutnya setelah penerima Supersemar melaksanakan isi perintah tersebut, maka berkewajiban untuk melaporkan hasilnya. Hal ini diharapkan dapat menjadi informasi penting bagi presiden sehingga dapat lebih pas dalam menghadapi kondisi yang ada.
Hal ini merupakan sesuatu yang wajar sebab pimpinan membutuhkan informasi lengkap mengenai hasil kegiatan yang diperintahkan. Dengan demikian, maka pimpinan dapat segera mengkondisikan atau memprogramkan kegiatan lanjutan setelah kondisi terasa nyaman dan aman.
Dan pelaksana perintah dalam Supersemar tersebut memang berkewajiban untuk membuat laporan terkait dengan segala hal yang dilakukan. Hal ini merupakan gambaran progres dari kegiatan yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya. Laporan adalah hal terpenting dari setiap kegiatan yang kita lakukan. Dengan laporan tersebut, maka tuntaslah kegiatan kita.
Dengan memperhatikan isi Supersemar ini, maka setidaknya kita dapat mengetahui dan memahami betapa urgennya penerbitan Supersemar pada saat itu. Dan penentuan sosok yang ditunjuk melaksanakan perintah tersebut secara organisasi memang sudah tepat. Presiden memerintahkan Menteri Panglima Angkatan Darat dengan perhitungan bahwa sosok ini bertanggung jawab terhadap keamanan dan kenyamanan serta kestabilan kondisi negara.
Sepertinya, hal itulah yang perlu kita pahami terkait alasan mengapa Supersemar diterbitkan Presiden Soekarno.

