logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Cinta & Persahabatan    Puisi    Kumpulan Puisi Cinta Romantis    Syair Cinta

Sajak dan Syair Cinta

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Cinta menjadi tema yang tak pernah kering untuk dibicarakan. Syair cinta selalu menghiasi karya sastra, khususnya puisi. Perasaan senang ketika jatuh cinta atau perasaan sedih ketika ditinggal cinta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja.

Remaja, dengan segala problematikanya, akan tumbuh menjadi sosok seorang dewasa yang sempurna jika dihidupi oleh cinta. Cinta pulalah yang memberikan harapan hidup bagi setiap orang.

Beberapa puisi saya berikut bertema cinta. Cinta yang dipaparkan tentunya bukan sekadar ungakapan perasaan, melainkan berusaha mengajak pembaca untuk lebih memaknai makna cinta.

Ladang Cinta

            : daf

kutanam benih cinta
dihamparan ladangmu
yang membentang laksana
sajadah sujudku

benih itu perlahan tumbuh
mengakar dalam kerinduan
pucuk-pucuk segar yang diselimuti
embun mengekalkan bening yang memesona

akan kutancapkan lagi jutaan benih cinta
di ladangmu yang makin merona
yang makin membuatku tergila-gila!

Kota Kelahiran, 10/12/2003

Solilokui 1

riak awan begitu dalam menyapaku
irisan cahaya yang mengelebat
memberi luka yang paling kanan
oh cahayaMu yang menghangatkan jiwaku

maka sebaiknya aku lepas saja
menggantungkan duka pada duri
yang menancap di tiang langit
betapa pun kau akhirnya menitikan air mata

hujan begitu jelas  memberi isyarat
bahwa di ujung jembatan sana
cahaya lain akan menjemputku
membaca peta kehidupan dan
berlayar menyelusuri cinta yang abadi

Kota Kelahiran, 18/12/2003

Solilokui 2

masihkah aku menggenggam pedang dan perisai?
sedang gemuruh hati meluluhlantakkan batu karang
yang angkuh?

sesungguhnya hatiku bukanlah batu
tubuhku pernah merasa lemas
terkapar di ladang sayur yang kutanam sendiri

sesungguhnya hatiku bukanlah batu
sudah berapa ratus kali mataku
tak henti-hentinya mengalirkan
sungai luka

masihkah aku menggenggam pedang dan perisai?
sedang aku tak lagi berperang dengan badai

Kota Kelahiran, 18/12/2003

Dedaun Matamu

matamu begitu purba menyimpan rahasia daun yang resah
gugur pula kelopak bunga, ranting, dan tubuh yang meranggas
aku berdiri, mencoba menatap jendela dengan gorden merah saga
menyisir jejak langkah yang menebarkan manis wajah
dan angin begitu sunyi menyelinap dalam kerinduan yang pasrah

kubaca gurat matamu. dalam keresahan ini kusampaikan sekali lagi
betapa awan yang diiris menjadi tetesan hujan
memberikan nafas bagi perawan yang berdiri di ujung jalan
dan aku di sini menggigil, di pojok lain yang lebih sepi
jangan pernah kau beranjak dari hatiku
karena aku sudah begitu lekat pada mata purbamu

Kota Kelahairan, 21/12/2003

Rindu Batu-Batu

kerinduan adalah siasat
untuk mewujudkan sebuah pertemuan

kerinduan adalah taktik
untuk melumpuhkan segala bentuk kebimbangan

kerinduan adalah politik
untuk mengalahkan segala bentuk kecemburuan

kerinduan adalah strategi
untuk melenyapkan segala bentuk kecurigaan

kerinduan adalah cahaya
dalam kesunyian

kerinduan adalah kepasrahan
dalam kecintaan

“Sungguh, rinduku bagai batu-batu
suatu saat akan kulemparkan rinduku ini
tepat di dadamu!”

Kota Kelahiran, 01/01/2001

Rahasia Daun

Tuhan,
takdir apa yang Kau rahasiakan
pada wajah daun yang purba itu?
di saat kuberhasil menatapnya
dengan sempurna, dan
menerjemahkan sorot matanya
yang begitu gaib penuh cinta

Tuhan,
sampai waktu mengisahkan derita
ataupun mengabarkan gembira
aku tetap belum dapat membaca
peta rahasia itu
mungkinkah di sepertiga bagian malam
yang entah, Kau menunjukkannya
padaku?

Kota Kelahiran, 18/04/2004

Berkali-kali Kugambari Wajahmu

berkali-kali kugambari wajahmu dengan tinta ini
kulukis alis matamu dalam iringan lagu klasik
dan senyummu kurupai monalisa yang anggun
dan matamu, akh… itulah yang paling aku suka
maka kucicipi saja barang sebentar
di saat makan siang atau kusimpan untuk penutup
makan malam

berkali-kali kugambari wajahmu dengan tinta ini
tapi kanvas hatimu tak pernah sampai pada tepian
paling akhir
inikah yang disebut menggapai bulan dengan ujung jari?

berkali-kali kugambari wajahmu dengan tinta ini
tapi, pernahkah kau lukis wajahku dalam rindumu?

Kota Kelahiran, 16/01/2004

Saat Hujan Menjelang Jam 4 Sore

titik-titik hujan menimpali daun palem, genting, dan sandal jepit
yang terlantar begitu saja di sisi hati yang kering
gemuruh dan kilatan cahaya berkejaran seperti sedang
bermain kucing-kucingan
tanah lapang menjadi basah dan air comberan menjadi deras
melintas jalan raya yang makin kumuh
klakson-klakson kendaraan saling bersahutan,
seperti tarian yang memaksa menghentikan hujan

menjelang jam empat sore
hujan tiba-tiba berhenti begitu saja
dan udara terasa dingin diterbangkan angin
dengan bergegas aku pulang melewati jalanan becek
melewati sesosok bayangan yang berjalan tanpa semangat
sekilas kutatap wajahnya yang tertutup rambut basah
ada senyum yang dipaksakan

sesaat mataku bertatapan dengan matanya
segera aku percepat langkah melewati harum tubuhnya
tapi, siapa dia?
seperti aku pernah mengenalnya

Kota Kelahiran, 04/05/2004

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Puisi-puisi Romantis Tagore
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA