Seputar Perkembangan Tafsir Alquran

Metodologi tafsir Alquran adalah ilmu tentang metode menafsirkan Al-Quran. Istilah metodologi tafsir dan metode tafsir harus dibedakan pemahamannya. Metodologi tafsir dimaknai sebagai sebuah ilmu tentang metode penafsiran. Sedangkan, metode tafsir adalah langkah atau cara-cara menafsirkan. Dalam hal ini yang menjadi sumber kajiannya adalah Al-Quran.
Al-quran dan Tafsir
Al-Quran adalah pedoman dan petunjuk hidup manusia. Fungsi Al-Quran sangat penting bagi manusia di dunia. Al-Quran menjadi penuntun manusia menuju jalan yang benar demi memperoleh kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak. Barangsiapa yang berpegang teguh pada Al-Quran, niscaya tidak akan sesat selama-lamanya.
Untuk menjadikan Al-Quran sebagai pedoman, diperlukan pemahaman yang benar. Memahami Al-Quran dengan benar tidaklah mudah. Sejarah mencatat, ada beberapa kosakata dalam Al-Quran yang tidak dimengerti oleh para sahabat Nabi, bahkan Umar bin Khatab pun pernah kesulitan dalam memahaminya.
Oleh karena itu, dalam memahami ayat-ayat Al-Quran diperlukan penafsiran.Untuk menafsirkan Al-Quran dengan benar, tidak cukup dengan menguasai bahasa Arab secara baik, tetapi diperlukan pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang berhubungan dengan ilmu tafsir, seperti sebab turunnya ayat (asbâb nuzûl al-âyât) dan lain-lain.
Metodologi Tafsir Klasik dan Modern
Metode tafsir Al-Quran sudah mulai berkembang pada zaman sahabat. Dilihat dari kajian atau cara menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, dikenal ada dua pembagian metodologi tafsir, yaitu medode tafsir muttaqadim (klasik) dan metode tafsir muattaakhir (modern).
Metodologi Tafsir Klasik
Metode tafsir Al-Quran yang dilakukan ulama-ulama klasik dikenal ada tiga jenis.
1. Metode Tafsir Al-Ma’tsur
Metode tafsir ini berdasarkan pada tafsir yang diberikan oleh ayat-ayat Al-Quran (menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran), Al-Quran dengan sunnah, dan perkataan para sahabat. Para ahli tafsir yang menggunakan metode ini di antaranya, At-Thabari, Ibnu Katsir, Al-Suyuthi, dan Ibnu Mas’ud Al-Baghawi.
2. Metode Tafsir Al-Ra’yi
Ayat-ayat Al-Quran ditafsirkan berdasarkan sumber pemikiran atau ijtihad para ahli tafsir. Penafsiran ini mengikuti tuntunan kaidah bahasa Arab dan kesusastraannya, serta kaidah ilmu pengetahuan. Di antara ahli tafsir yang menggunakan metode ini adalah Baidhawi, An-Nasafi, imam Al-Khazin, dan Imam Ar-Razi.
3. Metode Tafsir Isyari
Metode ini digunakan dalam memahami ayat-ayat Al-Quran berdasarkan makna ayat yang zahir dan batin. Makna zahir mudah dipahami oleh akal sedangkan makna batin adalah isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik ayat-ayat tersebut. Tafsir yang menggunakan metode ini adalah Ibnu Araby, An-Naisabury, dan Al-Alusy.
Metode Tafsir Modern
Metode Tafsir modern dikenal ada empat jenis.
1. Metode Tafsir Tahlili
Metode tafsir ini menggunakan teknik analisis. Metode ini menafsirkan Al-Quran dengan menguraikan dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al-Quran. Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Quran. Tafsir dengan metode ini antara lain tafsir Al-Maraghi.
2. Metode Tafsir Ijmali
Metode ini menafsirkan Al-Quran secara umum, singkat, dan menyeluruh. Metode tafsir ini menjelaskan makna setiap kalimat dengan bahasa yang ringkas. Metode ini memberi kemudahan dan pemahaman kepada orang yang membacanya. Namun, kedalaman makna dari ayat-ayat yang ditafsirkan tidak terbahas secara tuntas karena keringkasannya.
3. Metode Tafsir Muqarin
Metode ini didasarkan pada perbandingan antara ayat dengan ayat atau ayat dengan hadits. Bahkan, membandingkan pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan segi-segi perbedaan.
4. Metode Tafsir Maudhu’i
Metode ini dikenal dengan metode tematik, yaitu dengan mengumpulkan ayat-ayat yang bertalian dengan satu topik pembahasan. Kajiannya disesuaikan dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, dan mempelajari penjelasan ayat tersebut dengan mendalam. Kemudian menyimpulkan masalah dari ayat-ayat yang ditafsirkan dengan cermat.






