Tafsir
Tahukah Anda tafsir dari surat Al-Fatihah? Bagi yang belum mengetahui tafsir dari Surat Al-Fatihah, simak pembahasan lengkapnya di artikel ini!
Surat Al-Fatihah adalah surat pertama di dalam kitab suci Al-quran. Surat yang terdiri atas 7 ayat ini masuk dalam kelompok surat Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan ketika Nabi Muhammad berada di Kota Mekkah.
Surat ini dinamakan Al-Fatihah karena letaknya ada di urutan pertama dari 114 surat dalam Al-quran. Semua ulama sependapat dan sepakat bahwa surat yang diturunkan secara lengkap ini adalah inti sari dari semua kandungan Al-quran yang selanjutnya dirinci oleh surat-surat setelahnya.
Tafsir Surat Al-Fatihah
Tahukah Anda kandungan makna dalam Surat Al-Fatihah? Tema-tema global dalam Al-quran seperti keimanan, masalah tauhid, tentang ibadah, janji serta kabar gembira bagi orang yang beriman, ancaman bagi orang kafir, dan lain sebagainya, semuanya terkandung dalam surat Al-Fatihah.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan kandungan surat Al-fatihah.
1. Makna Ayat Pertama
Bismillahirrahmaanirrohim (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
Makna dari bacaan basamallah ini yaitu memulai bacaan sambil meminta barokah dengan menyebut seluruh nama Allah. Meminta kebarokahan kepada Allah SWT artinya memohon tambahan dan peningkatan amal kebaikan sekaligus pahala-Nya.
Pada intinya, barokah itu kepunyaan Allah dan akan memberikannya pada siapa saja yang Dia dikehendaki. Jadi, barokah itu bukan kepunyaan manusia yang dapat mereka berikan pada siapa saja yang dikehedaki.
Allah SWT merupakan sesembahan satu-satunya yang berhak diibadahi disertai dengan rasa cinta takut, serta harap. Semua bentuk ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah. Sementara itu, Ar-Rahman dan Ar-Rahiim merupakan dua nama Allah yang maknanya Allah itu mempunyai kasih sayang sangat luas dan agung. Selain itu, rahmat-Nya mencakup segala sesuatu.
2. Makna Ayat Kedua
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin (Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin).
Itulah bunyi ayat pertama dari Surat Al-Fatihah. Makna dari ayat tersebut adalah segala puji dan sifat-sifat yang tinggi serta sempurna hanya milik Allah SWT. Tak ada seorang pun yang pantas mendapat pujian sempurna kecuali Allah SWT sebab hanya Allah pengatur dan penguasa yang ada di alam ini.
Allah-lah Sang Penguasa Tunggal dan tak ada sesuatu apa pun yang berserikat dengan Kuasa-Nya. Selain itu, tak ada sesuatu apa pun yang bisa luput dari kuasa-Nya. Jika ada yang mengatur selain Allah SWT, bumi, langit, dan seluruh alam ini pasti akan hancur.
Allah pula lah Sang Pemberi rezeki, mengaruniakan nikmat yang tak terhingga, dan rahmat yang tiada tara. Tak ada satu orang pun yang bisa menghitung nikmat yang didapatkannya. Di sisi lain, manusia pun tak akan sanggup dan tak mampu membalasnya. Amalan dan sikap syukur manusia tak akan sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Oleh sebab itu, Allah SWTlah yang paling berhak memeroleh segala pujian maha sempurna.
3. Makna Ayat Ketiga
Arrahmaanirrahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang)
Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang terdapat dalam ayat tersebut merupakan dua nama sekaligus sifat Allah Swt. Ar-Rahman bermakna lebih luas daripada makna Ar-Rahim. Ar-Rahman bermakna bahwa Allah SWT mencurahkan rahmat-Nya pada semua makhluk ciptaan-Nya, baik itu yang beriman maupun yang kafir.
Sementara itu, Ar-Rahim mengandung makna bahwa Allah SWT hanya mengkhususkan rahmat-Nya bagi kaum mukminin. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Ahzab ayat 43 berikut.
“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43)
4. Makna Ayat Keempat
Maalikiyawmiddiin (Yang menguasai di hari pembalasan)
Para ulama dan ahli tafsir sudah menafsirkan makna addin dalam ayat ketiga Surat Al-Fatihah sebagai hari pembalasan dan perhitungan pada hari kiamat nanti. Digunakan untuk apa umur kita? Masa muda kita dihabiskan untuk apa? Dari mana kita mendapatkan harta dan dibelanjakan untuk apa? Intinya, tak ada satu orang pun bisa lepas dan menghindar dari perhitungan amal perbuatan yang dilakukannya selama di dunia.
Allah pun telah berfirman dalam Surat Al-Infithar ayat 17-19. Arti dari ayat ini adalah sebagai berikut.
“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 17-19)
5. Makna Ayat Kelima
Iyyaakana'buduwa-iyyaakanasta'iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan). Dilihat dari kaidah etimologi bahasa Arab, ayat keempat Surat Al-Fatihah ini memiliki uslub (kaidah) yang fungsinya memberikan penegasan dan penekanan. Penekanannya yaitu tak ada yang berhak disembah dan dimintai pertolongan kecuali Allah SWT. Menyembah selain Allah itu adalah batil. Oleh karena itu, sembahlah Allah semata.
Sementara itu, permohonan meminta tolong kepada Allah setelah perkara menyembah memperlihatkan bahwa manusia itu sangat membutuhkan pertolongan Allah. Jadi, mohonlah pertolongan hanya pada Allah SWT. Kita tidak dibenarkan bersandar dan bertawakal kepada selain Allah sebab semua perkara ada di tangan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Hud ayat 123.
“Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)
6. Makna Ayat Keenam
Ihdinaashshiraathalmustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus)
Makna dari jalan yang lurus dalam ayat tersebut yaitu jalan terang, jelas, dan mengantarkan manusia yang berjalan di atas jalan tersebut sampai kepada Allah serta berhasil menggapai surga Allah. Hakikat shirathal mustaqiim (jalan lurus) yaitu memahami kebenaran sekaligus mengamalkannya.
Sementara itu, yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus adalah hidayah agar mampu memeluk erat agama Islam dan meninggalkan jauh semua agama lainnya. Selain itu, maksud dari hidayah di atas jalan lurus yaitu hidayah untuk dapat mengerti sekaligus mengamalkan rincian-rincian ajaran agama Islam.
Dapat disimpulkan bahwa ayat ini adalah salah satu doa paling lengkap yang mencakup berbagai kebaikan dan manfaat bagi seorang hamba. Oleh karena itu lah, setiap umat Islam wajib membaca ayat ini di setiap rakaat shalat sebab memang manusia itu sangat membutuhkan doa ini.
7. Makna Ayat Ketujuh
Shiraathalladziinaan'amta'alayhim ghayrilmaghdhuubi'alayhim walaadhdhaalliin (Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.)
Siapakah yang dimaksud orang-orang yang diberik kenikmatan dalam ayat tersebut? mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah berikut.
“Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui.” (QS. An-Nisaa’: 69-70)
Sementara itu, orang yang dimurkai dalam ayat tersebut yaitu orang yang telah mengetahui kebenaran tetapi tak mau mengamalkan kebenaran tersebut. Sementara itu, orang yang sesat adalah mereka yang tak mengamalkan kebenaran disebabkan oleh kebodohan dan kesesatan mereka sendiri.
Dalam ayat ini terdapat sebuah motivasi serta dorongan yang ditujukan pada kita semua agar menempuh jalan orang-orang saleh. Ayat ini pun merupakan peringatan untuk manusia agar menjauhi jalan yang ditempuh oleh orang-orang sesat dan juga menyimpang.
Nah, itulah ringkasan dari tafsir Surat Al-Fatihah. Isi surat ini benar-benar sangat menakjubkan. Bahkan, Rasulullah pun menyebut Surat Al-Fatihah sebagai surat paling agung dalam kitab suci Al-quran. Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

