Mengenal Tanah Gambut
Ilustrasi tanah gambut
Definisi
Tanah gambut disebut juga organosol karena memiliki kandungan organik yang tinggi. Kandungan organik tersebut didapatkan dari sisa-sisa penimbunan dan pembusukan tumbuhan yang belum selesai, namun sudah berlangsung dalam waktu yang sangat lama.
Proses pembusukan yang belum tuntas tersebut disebabkan kondisi tanah yang langka oksigen. Akibatnya, proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikro organisme aerob menjadi terhambat.
Ciri Tanah Gambut
Lahan yang biasa terdapat tanah gambut adalah daerah berawa dengan memiliki ciri berikut.
- Selalu digenangi air.
- Memiliki beragam jenis pohon yang belum selesai melakukan proses dekomposisi.
- Perakarannya khas.
- Dapat tumbuh pada tanah yang asam.
Jenis Gambut
a. Berdasarkan Kandungan Organiknya
Tanah gambut sangat kaya dengan unsur organik. Berdasarkan kandungan organiknya ada dua jenis gambut, yaitu:
- Tanah mineral: mengandung bahan organik antara 15-20%
- Tanah organik: mengandung bahan organik antara 20-25%
b. Berdasarkan Faktor Pembentuknya
Tanah gambut terbentuk dengan cara yang berbeda-beda. Berdasakan faktor pembentuknya, ada 3 jenis tanah gambut.
1. Gambut Topogen
Tanah gambut yang terbentuk karena topografi di daerah tersebut. Biasanya, di daerah tepi pantai yang cekung sehingga hampir selalu digenangi air.
Tanah gambut ini masih banyak mengandung mineral yang diperoleh dari lapisan dasar cekungan, air hujan maupun sisa-sisa tumbuhan mati yang berasal dari tanaman paku-pakuan dan semak belukar.
Karena tidak terlalu asam dan mengandung unsur hara yang banyak, gambut ini masih bisa dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan.
2. Gambut Ombrogen
Tanah gambut ini sebenarnya berasal dari gambut topogen, seperti tanah mangrove yang mengering. Namun, mendapat hujan asam terus-menerus sehingga keasamannya menjadi lebih tinggi dari gambut topogen dengan PH sekitar 3,0-4,4. Gambut jenis ini agak sukar dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan karena kurang subur.
3. Gambut Pegunungan
Sesuai namanya, tanah gambut ini terletak di daerah pegunungan. Terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan di daerah beriklim sedang, seperti sphagnum. Contohnya, gambut di dataran tinggi Dieng.
Tingkat Kematangan
Gambut dibedakan atas dekomposisi tumbuhan asalnya. Untuk mengetahui matang-tidaknya tanah gambut, dapat dilakukan pengetesan dengan cara mengambil segenggam tanah gambut lalu memerasnya. Berdasarkan hasil pemerasan, ada 3 tingkat kematangan gambut, yaitu:
1. Fibrik (Gambut Mentah)
Bila setelah pemerasan dilakukan, tersisa > ¾ bagian serat tertinggal di telapak tangan. Disamping itu, kadar abunya 3,09% dan kadar bahan organiknya 45,9%.
2. Hemik
Bila setelah pemerasan dilakukan, tersisa ¼ hingga ¾ bagian serat tertinggal di telapak tangan, sedangkan kadar abu 8,04% dan kadar bahan organik 51,7%.
3. Saprik (Gambut Matang)
Bila setelah pemerasan dilakukan, tersisa < ¾ bagian serat tertinggal di telapak tangan.
Gambut saprik memiliki kadar abu 12,04% dengan kadar bahan organik 78,3%.

