logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Pendidikan    Sekolah    SMP

Mengenal Tanah Lempung


Ilustrasi tanah lempung

Barang-barang keramik tentu sudah sangat akrab bagi kita, baik yang tinggal di pedesaan maupun di perkotaan. Barang-barang keramik dimiliki orang dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai pernak-pernik kecil, seperti asbak, guci-guci kecil, hingga peralatan rumah tangga, seperti pot tanaman, dan kuali. Barang-barang itu dibuat dari tanah lempung atau tanah liat yang sebenarnya tidak bisa ditemukan di sembarang tempat. Lantas, apa sebenarnya tanah liat atau tanah lempung itu?

Pembentukan dan Jenis-Jenis Tanah Lempung

Tanah liat alias lempung merupakan tanah dengan kadar mineral lempung yang tinggi. Tanah jenis ini memiliki leburan silika yang sangat halus. Tanah liat terbentuk akibat melapuknya batuan silika karena terpengaruh asam karbonat. Ciri khas tanah ini adalah kering, lengket, dan menggumpal dan melunak jika terkena air.

Tanah lempung dihasilkan oleh alam. Berasal dari pelapukan kerak bumi yang sebagian besar tersusun oleh batuan feldspatik, terdiri dari batuan granit dan batuan beku. Kerak bumi terdiri dari unsur-unsur, seperti silikon, oksigen, dan alumunium. Aktivitas panas bumi membuat pelapukan batuan silika oleh asam karbonat. Kemudian, membentuk tanah lempung. Hanya ada dua jenis tanah lempung di bumi ini, yaitu tanah liat primer dan sekunder.

1. Tanah Liat Primer

Ini adalah jenis tanah liat yang berasal dari pelapukan batuan feldspatik yang dipicu tenaga endogen dari batuan induk yang tidak berpindah. Mengingat sifat tanah liat ini tidak berpindah tempat, ia lebih murni daripada jenis tanah liat sekuder.

Tanah liat jenis ini memiliki ciri putih atau putih kusam. Warna itu terbentuk karena tanah liat ini tidak terbawa oleh air dan tidak pernah bersentuhan dan bercampur dengan bahan organik dalam tanah seperti humus, daun-daun busuk, dan sebagainya. Yang disebut tanah liat primer ini, misalnya kaolin, feldspatik, kwarsa dan dolomite, bentonite. Biasanya, tanah jenis ini ditemukan di tempat yang tinggi jika dibandingkan dengan tanah sekunder.

2. Tanah Liat Sekunder

Kebalikan dari tanah liat primer, jenis tanah liat ini berasal dari pelapukan batuan feldspatik yang mengalami perpindahan jauh dari batuan induknya oleh tenaga eksogen. Dalam perjalanan perpindahannya, ia tercampur dengan bahan-bahan organik dalam tanah yang mengubah sifat-sifatnya, baik secara kimia maupun fisika.

Proses perjalanannya yang panjang membuatnya tercampur berbagai bahan dan menjadikannya memiliki warna yang beragam yaitu krem, abu-abu, coklat, merah jambu, dan kuning. Ketika dibakar, akan berubah menjadi krem, abu-abu muda, hingga coklat muda ke coklat tua. Tanah liat sekunder juga memiliki sifat lebih plastis dan berdaya susut lebih besar daripada jenis primer. Tanah liat sekunder dapat dibagi menjadi 4.

  1. Tanah Liat Tahan Api (Fire Clays). Jenis tanah ini biasanya berwarna terang ke abu-abu gelap menuju hitam. Biasanya, diperoleh di alam dalam wujud bongkahan yang menggumpal dan padat. Jenis ini tahan dibakar pada api dengan suhu tinggi tanpa mengubah bentuknya. Misalnya, alumina dan silika.

  2. Tanah Liat Stoneware. Jenis tanah liat ini juga tidak mengalami perubahan bentuk pada saat pembakaran gerabah (earthware). Titik leburnya berada pada suhu sekitar 14.000 derajat celcius. Biasanya, jenis tanah liat ini menjadi materi utama untuk membuat benda-benda keramik seperti yang biasa kita temui. Bisa seluruhnya menggunakan jenis ini, bisa pula mencampurnya dengan bahan lain.

  3. Tanah Liat Ball Clay. Jenis ini biasa disebut tanah liat sedimen. Memiliki butir yang halus dengan daya pastis tinggi. Pada umumnya berwarna abu-abu.

  4. Tanah Liat Merah (Earthenware Clay). Tanah jenis ini bisa sangat melimpah di alam. Memiliki tingkat plastis sedang yang membuatnya mudah dibentuk, memiliki warna bakar merah coklat. Titik leburnya berada pada suhu sekitar 11.000 hingga 12.000 derajat celcius. Umumnya, digunakan sebagai bahan utama pembuatan genteng dan gerabah kasar maupun halus.

Membangun Fondasi di Atas Tanah Lempung

Dalam membuat fondasi bangunan, harus ada kesesuaian antara bentuk fondasi dengan jenis tanah tempat dibangunnya bangunan tersebut. Sifat tanah harus menjadi pertimbangan pendukung perencanaan fondasi. Penting bagi para perencana untuk memahami apakah tanah tersebut sanggup menahan beban yang disalurkan oleh fondasi, dan apakah tanah tersebut stabil dan tidak mudah kembang susut.

Di beberapa daerah dengan jenis tanah berlempung, membangun fondasi harus dilakukan dengan baik, direncanakan secara matang, dan dipertimbangkan baik-baik. Ini karena sifat dan karakteristik tanah liat yang khas. Tanah liat disebut juga sebagai tanah hitam. Tanah hitam ini sangat mudah kembang susut. Di musim hujan, tanah ini akan mengembang karena menyerap banyak air; sedangkan di musim kemarau tanah cenderung menyusut bahkan pecah-pecah. Singkatnya, tanah hitam cenderung tidak stabil dan kurang suportif dalam mendukung bangunan yang didirikan di atasnya.

Akibatnya, konstruksi beton dan dinding bata bangunan akan mudah retak bahkan patah. Ini karena konstruksi beton dan dinding bata memang mudah retak saat menerima beban tarik. Jika dibiarkan saja dan hanya ditambal, keretakan dan patahan bisa timbul kembali sewaktu-waktu. Agar hal ini tidak terjadi, sebaiknya tanah hitam terlebih dahulu distabilisasi sebelum didirikan fondasi di atasnya. Stabilisasi ini bisa dilakukan dengan mengganti lapisan tanah hitam dengan jenis tanah lain yang aktivitas kembang susutnya relatif lebih stabil, memasang tiang pancang mini, serta membuat fondasi sumuran.

Proses stabilisasi dengan mengganti lapisan tanah bisa dilakukan jika lapisan tanah hitam relatif tidak terlalu dalam, sehingga tidak perlu melakukan penimbunan dan penggalian terlalu dalam. Adapun tanah pengganti yang biasa digunakan adalah tanah padas, semen, belerang, serta tanah yang sudah dicampur dengan kapur. Sementara itu stabilisasi dengan memasang tiang pancang mini berarti menancapkan batang-batang kayu atau bambu mulai dari permukaan tanah hitam hingga tembus ke tanah keras yang lebih stabil. Pemasangan bisa dilakukan secara manual. Ukuran tiang-tiang pancang bisa disesuaikan dengan lebar fondasi dan berat beban yang harus dipikul oleh fondasi. Adapun jarak pemasangannya adalah sekitar 30 - 50 cm.

Cara stabilisasi lainnya adalah dengan membuat fondasi sumuran. Dalam fondasi ini, tanah hitam digali hingga muncul tanah yang lebih baik kondisi dan kestabilannya. Kemudian beton siklop dan beton silinder dimasukkan ke dalam unuk menahan dinding tanah hitam tersebut.

Apakah Tanah Lempung Aman Dimakan?

Di negara-negara miskin yang warganya terkena wabah kelaparan, tanah liat menjadi solusi untuk mengenyangkan perut. Bahkan di beberapa wilayah di dunia, di mana makanan tidak sulit didapatkan, orang-orang memakan tanah liat karena memakan tanah tersebut sudah menjadi bagian dari adat istiadat mereka. Namun apakah tanah liat aman dimakan?

Penelitian demi penelitian menemukan bahwa tanah liat bukan saja aman dimakan tetapi juga bermanfaat bagi sistem pencernaan. Tanah liat rupanya dapat memberi rasa nyaman dalam perut serta menjaga si pemakan dari gangguan virus dan bakteri jahat. Penelitian menunjukkan bahwa tanah liat mampu mengikat senyawa berbahaya seperti virus, mikroba, dan zat-zat pathogen lainnya. Tanah liat yang dikonsumsi akan menjelma menjadi masker dan melapisi dinding usus sehingga terjaga dari berbagai jenis penyakit.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar mereka yang tertarik secara alami untuk memakan tanah liat adalah ibu hamil dan anak-anak. Sekitar 60% - 70% ibu hamil di dunia tertarik untuk memakan tanah liat, bukan karena rasanya yang 'unik' tetapi karena mereka merasa terdorong secara alami untuk memakan tanah tersebut. Rupanya ini merupakan strategi tubuh untuk melindungi diri. Tubuh memberi sinyal kepada otak untuk mengonsumsi tanah liat karena baik untuk melindunginya dari beragam patogen, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Tanah lempung pun ternyata dapat membantu proses penyerapan makanan di dalam tubuh.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kreativitas Mengatasi Tanah Tandus Berkapur di Gunung Kidul
  • Jenis Tanah Organosol dan Penggunaannya
  • Manfaat Belajar Biologi
  • Suksesi Hutan Bakau
  • PIDATO, Seni Penyaluran Pendapat
  • Pengertian Hutan: Tak Sekadar Sekumpulan Pohon
  • Hutan Tropis di Indonesia
  • Beragam Fungsi Lidah
  • Pelestarian Hutan Melalui Pembuatan Hutan Kota
  • Tanah Vulkanis - Tanah Berunsur Hara Tinggi - ANNEAHIRA.COM
  • Sekolah Kampung Dapat Juga Menjadi Sekolah Terbaik
  • Ayo, Jaga Bumi Kita dari Penggundulan Hutan
  • Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove
  • Gunung Marapi, Gunung Berapi Paling Aktif di Indonesia
  • Definisi Gerak dalam Fisika Gerak
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA