logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Pendidikan    Sekolah    SMP    Tanah Tandus

Kreatifitas Mengatasi Tanah Tandus Berkapur di Gunung Kidul

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Tanah tandus berkapur di Gunung Kidul telah menyebabkan daerah ini kekurangan air pada setiap musim kemarau setiap tahunnya. Air bersih yang berwarna bening dan tidak berbau adalah sesuatu yang sangat istimewa dan berharga sama dengan seekor kambing untuk setiap tanki bermuatan 6000 liter.

Kalau pun ada sumur, jarak air ke bibir sumur bisa mencapai 30 meter. Kadang air itu tak terlihat dari bibir sumur. Bagaimanakah masyarakat Gunung Kidul berteman dengan tanah tandus berkapur yang ada di sekitarnya?

Tanaman Kacang Tanah

Bila mengadakan touring ke Gunung Kidul, salah satu kabupaten yang terletak di Selatan Yogyakarta, Anda akan menyaksikan jenis tanaman yang sama sepanjang jalan, yaitu singkong, pohon jati, jagung, kacang tanah, dan kacang mete. Bukannya penduduk tidak ingin menanam jenis tanaman palawija, tapi jenis tanah Gunung Kidul yang tandus dan berkapur membuat petani tidak mempunyai banyak pilihan.

Salah satu cara yang dilakukan petani untuk sedikit menyuburkan tanah tandusnya adalah dengan menanam kacang tanah. Kacang tanah dari Gunung Kidul cukup bagus. Selain kacang tanah, petani juga memanfaatkan kotoran ternak, sapi, kerbau, ayam, dan kambing, sebagai pupuk kandang yang juga cukup bermanfaat bagi pembentukan unsur hara tanah.

Kacang Mete, Jati, dan Wisata Minat Khusus

Tanah berkapur sangat disukai oleh tanaman kacang mete. Oleh karenanya tidaklah mengherankan kalau tanaman ini menjadi emas putih yang sangat diandalkan oleh para penduduk Gunung Kidul. Selain itu, ada juga pohon jati yang juga menjadi tabungan bagi masyarakat.

Pohon-pohon jati tersebut terkadang terpaksa ditebang sebelum usia yang cukup tua. Uangnya untuk membeli air bersih yang semakin langka pada saat musim kemarau.

Sebenarnya ada beberapa sungai bawah tanah yang ada di Gunung Kidul. Tapi, untuk membuat tanah tersebut mengalir ke permukaan bukanlah hal yang mudah dan murah. Pemerintah telah berusaha mengangkat air tersebut ke permukaan. Proyek Bribin kini sudah memperlihatkan hasilnya.

Selain itu, saat ini pemerintah Gunung Kidul sedang mengembangkan wisata minat khusus menyusuri goa-goa yang banyak terdapat di kabupaten dengan tanah berbukit-bukit ini.

Selain itu, hutan wisata Wanagama yang merupakan hutan buatan karya Universitas UGM juga menjadi tempat wisata minat khusus selain ada beberapa desa wisata yang menawarkan cara pembuatan batik dengan pewarna alami.

Pembangkit Listrik Tenaga Kotoran Manusia

Keadaan tanah yang tandus dan berkapur ternyata membuat beberapa penduduk Gunung Kidul menjadi sangat kreatif. Ada sebuah pesantren yang menggratiskan biaya pendidikan bagi para santrinya yang memegang kartu miskin dan SPP hanya Rp20.000 bagi yang tidak mempunyai kartu miskin. Tapi dengan syarat para santri itu mau dididik menjadi petani modern yang profesional dan cerdas.

Program yang ada di pesantren tersebut di antaranya adalah pembangkit listrik tenaga biogas yang berasal dari kotoran manusia. Jadi, jangan heran kalau Anda berkunjung ke pesantren itu, Anda dilarang pulang sebelum mengeluarkan kotoran di tempat yang sudah disediakan. Kotoran alami Anda adalah souvenir yang sangat dinanti-nantikan oleh pesantren ini.

Selain program pembangkit listrik tenaga biogas, para santrinya diajarkan bagaimana memanfaatkan kotoran ternak berupa, sapi, kambing, dan kerbau yang menjadi ‘asuhan’ para santri tersebut.

Lalu, bagaimana mengatasi tanah tandus berkapur sehingga bisa ditanami tanaman palawija dan tanaman buah-buahan yang bermanfaat bagi kehidupan pesantren dan juga untuk biaya pendidikan selama di pesantren tersebut.

Pesantren Al Hikmah namanya. Pesantren ini beralamat di  Karang Mojo, Gunung Kidul. Ketuanya Harun Al Rasyid. Tingkatan sekolah yang ada di sana adalah SMP, SMA, dan SMK Jurusan busana dan karya ukir.

Lulusan SMK langsung terserap di dunia kerja bahkan masih ada  tawaran yang belum terpenuhi. Jumlah santrinya  700-an. Jumlah santri dan staf pengajar serta para pengunjung ternyata masih kurang untuk memenuhi target pembangkit listriknya.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Beragam Fungsi Lidah
  • Gunung Marapi, Gunung Berapi Paling Aktif di Indonesia
  • Anatomi Lidah Manusia
  • Resam, Tanaman Pengganggu Bernilai Jual
  • Sekolah Kampung Dapat Juga Menjadi Sekolah Terbaik
  • Penggunaan Majas dalam Karya Sastra
  • Cara Efektif Mencegah Erosi Pantai
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA