Tanah Vulkanis - Tanah Berunsur Hara Tinggi - ANNEAHIRA.COM
Ilustrasi tanah vulkanis
Indonesia kaya akan sumber daya alam. Lahan pertanian dan perkebunan tersebar di seluruh pelosok negeri. Tidak heran jika Indonesia disebut sebagai negara Agraris, penduduknya bermatapencaharian petani. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya tanah vulkanis di wilayah kepulauan Indonesia yang terbentuk dari materi letusan gunung berapi.
Materi yang terdiri dari abu vulkanik tersebut dimuntahkan ke daratan. Kemudian, mengalami pelapukan, sehingga membentuk mineral dan zat unsur hara yang berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah.
Pengetahuan Tentang Tanah
Di dunia pendidikan, anak-anak telah cukup lama mengenal beragam jenis tanah. Dengan demikian, diharapkan mereka bisa lebih mengenal alam Indonesia dengan baik. Dimulai dengan permainan membentuk benda mini dari tanah liat ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, hingga mengetahui proses menanam tumbuhan di atas tanah pada lahan yang berbeda saat bersekolah di level menengah pertama.
Juga pada sekolah menengah atas mereka belajar bagaimana tembikar yang terbuat dari tanah liat melalui pembakaran di atas suhu 10000C memiliki nilai ekonomis tinggi dan mampu bersaing dengan produk serupa dari negara lain. Sekolah menjadi tempat paling efektif dalam memberikan informasi mengenai tanah dan fungsinya bagi keberlangsungan sumber daya alam di bumi.
Secara tidak langsung, siswa diajari untuk melestarikan alam dengan mengenal jenis dan struktur tanah saat melakukan praktik bercocok tanam di lahan luar sekolah maupun saat meneliti kandungan tanah di laboratorium. Dalam teori pelajaran Biologi SMP, anak-anak diajarkan karakteristik tanah yang terdapat di seluruh dunia, terutama Indonesia.
Tanah adalah lapisan-lapisan alami yang mengandung berbagai mineral. Ketebalan lapisan-lapisannya berbeda-beda, bergantung material awal yang menentukan karakternya berdasarkan morfologis, fisik, kimia, dan mineral.
Tanah terdiri atas partikel-partikel pecahan batu yang telah mengalami perubahan akibat proses kimia dan lingkungan, seperti cuaca, erosi, dan lain-lain. Bisa dikatakan, tanah adalah gabungan dari unsur-unsur mineral dan organik yang berbentuk cukup padat.
Partikel-partikel tanah bersifat longgar, membentuk struktur lapisan yang berpori. Pori-pori tersebut mengandung larutan tanah (cair) dan udara (gas). Oleh karena itu, tanah seringkali disebut sebagai sistem yang memiliki tiga bentuk.
Hampir semua jenis tanah mempunyai tingkat kepadatan di antara 1 sampai dengan 2 gram/cm³. Tanah juga biasa disebut bumi, yang menumbuhkan segala macam kehidupan di atas planet ini.
Secara umum, susunan tanah (dengan bahan induk mineral) terdiri atas 50% bahan padatan (45% berupa bahan mineral dan 5% berupa bahan organik), 25% air, dan 25% berupa udara.
Sementara itu, pada tanah organik, seperti gambut, bahan padatan pada tanah tersebut terdiri atas 5% bahan organik dan 45% bahan mineral. Bahan organik dalam tanah ini terdiri atas 10% mikroorganisme, 10% akar, dan sisanya humat. Walaupun jumlah tidak banyak, fungsinya sangat penting.
Susunan tanah dan juga struktur tanah yang berongga-rongga menjadi tempat bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Selain itu, tanah pun menjadi habitat bermacam-macam mikroorganisme. Tanah juga dijadikan sebagai tempat hidup bagi sebagian hewan darat. Tekstur susunan tanah bermacam-macam dan bisa dikelompokkan menjadi berikut ini.
- Tekstur kasar, misalnya pasir, pasir berlempung.
- Tekstur agak kasar, misalnya lempung berpasir dan lempung berpasir halus.
- Sedang, antara lain lempung berpasir sangat halus, lempung berdebu, dan debu.
- Tekstur halus, misalnya tanah liat berpasir, tanah liat berdebu.
Tekstur tanah ini juga dipengaruhi oleh kandungan air yang terdapat dalam tanah. Jika diuraikan proses pembentukan susunan tanah dimulai dari bebatuan yang mengalami pelapukan, baik pelapukan secara fisika maupun pelapukan secara kimiawi.
Pada saat pelapukan, bebatuan tersebut akan menjadi lunak dan berubah bentuknya sehingga dapat dikatakan sebagai bahan tanah. Bahan tanah ini akan mengalami proses pelapukan terus menerus dan berlangsung dalam waktu bertahun-tahun sampai akhirnya bahan tanah tersebut menjadi tanah.
Kalian tahu batu bara dan bagaimana terbentuknya? Ya. Batubara terbentuk dari tanah, tapi tidak semua tanah dapat membentuk batubara. Batubara hanya dapat terbentuk dari tanah organik yang berwarna hitam, dan memiliki kandungan mineral yang sangat sedikit.
Meskipun begitu, tanah jenis ini tetap dapat ditanami karena bentuk fisiknya yang gembur. Namun sayang, jangan berharap hasil tanaman yang kalian tanam di atas tanah organik akan optimal, hasil tanaman di lahan ini justru jauh di bawah optimal.
Berbeda dengan tanah organik, tanah non-organik memiliki banyak sekali kandungan mineralnya. Mineral ini membentuk partikel penyusun tanah, yaitu pasir, lanau (debu), dan lempung. Komposisi ketiga partikel penyusun tanah ini yang kemudian memengaruhi warna tanah. Berikut ini ukuran pembentuk mineral di dalam tanah.
- Partikel pasir memiliki ukuran sekitar 200 mikrometer hingga 2.000 mikrometer.
- Partikel debu memiliki ukuran sekitar 2 mikrometer sampai kurang dari 200 mikrometer.
- Partikel lempung memiliki ukuran kurang dari 2 mikrometer.
Semakin halus ukuran partikel tanah tersebut, maka luas permukaan partikel per satuan bobot semakin besar. Partikel tanah dengan permukaan yang lebih luas memberi peluang lebih banyak terjadinya reaksi kimia. Partikel lempung per satuan bobot mempunyai luas permukaan lebih luas dari pada partikel tanah lainnya (debu dan pasir).
Reaksi-reaksi kimia yang berlangsung di permukaan tanah berupa lempung lebih banyak dibandingkan yang berlangsung di permukaan tanah berupa partikel debu dan pasir per satuan bobot yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa partikel lempung merupokan komponen susunan tanah paling aktif terhadap reaksi kimia sehingga berkontribusi menentukan sifat kimia tanah dan juga mempengaruhi kesuburan tanah. Berikut ini beberapa jenis tanah.
1. Tanah Vulkanis
Tanah ini memiliki kandungan unsur hara yang tinggi sehingga sangat subur. Tanah ini dapat dikatakan hadiah dari letusan gunung berapi. Tanah vulkanik terdapat di daerah dekat lereng gunung berapi. Tanah vulkanis memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
- Tanahnya subur.
- Mengandung unsur hara yang tinggi.
- Merupakan hasil pelapukan materi letusan gunung berapi.
- Mudah menyerap air dan berwarna lebih gelap.
- Terdapat di sekitar wilayah gunung berapi.
2. Tanah Humus
Seperti namanya, tanah humus merupakan jenis tanah yang tidak diragukan kesuburannya. Tanah ini merupakan hasil pembusukan sisa-sisa pepohonan. Tanah humus memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
- Tanahnya gembur.
- Warnanya kehitaman.
- Merupakan hasil pelapukan fosil tumbuhan dan hewan yang membusuk.
- Baik untuk lahan pertanian karena daya serap airnya yang tinggi
3. Tanah Lempung atau Tanah Liat
- Tanahnya sulit menyerap air, sehingga tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian.
- Tekstur tanahnya cenderung lengket bila dalam keadaan basah dan kuat menyatu antara butiran tanah yang satu dengan lainnya.
- Dalam keadaan kering, butiran tanahnya terpecah-pecah secara halus.
- Merupakan bahan baku pembuatan tembikar dan kerajinan tangan lainnya yang dalam pembuatannya harus dibakar dengan suhu di atas 10000C.
4. Tanah Kapur
- Tanahnya tidak subur dan sangat tidak cocok untuk lahan pertanian.
- Merupakan hasil pelapukan batuan kapur.
- Dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan kerajinan keramik.
- Dalam pertanian, tanah kapur yang sifat basanya tinggi dapat dimanfaatkan untuk menetralkan kadar keasaman tanah.
Tanah Vulkanis
Salah satu di antara sekian banyak jenis tanah adalah tanah vulkanis, yaitu lapisan bumi yang terbentuk dari materi-materi letusan gunung berapi yang telah lapuk. Tanah vulkanis sangat subur karena mengandung unsur-unsur hara yang tinggi. Kita bisa menjumpai tanah vulkanik di wilayah-wilayah sekitar lereng gunung berapi.
Ketika sebuah gunung api meletus, ia akan memuntahkan aneka partikel yang panas ke udara. Kemudian, menyebar ke lingkungan sekitarnya. Salah satu material yang dikeluarkan gunung api adalah abu vulkanis.
Ketika pertama kali muncul, abu yang sangat panas dan pekat ini bisa membahayakan, sehingga harus dihindari. Namun, begitu kondisi mendingin, abu yang melapisi permukaan tanah tersebut akan menunjukkan keajaiban dalam meningkatkan kesuburan.
Tanah vulkanik dibentuk dengan tambahan abu vulkanik dari gunung berapi yang meletus. Abu vulkanik merupakan hasil dari peleburan dan pembakaran bahan-bahan mineral.
Lapisan tanah yang dilapisi abu tersebut kemudian menjadi sangat kaya mineral dan bisa menumbuhkan aneka tanaman dengan baik tanpa memerlukan tambahan pupuk. Namun, jika tanah vulkanis diberi tambahan pupuk organik atau kotoran hewan, kondisinya akan semakin prima.
Tidak mengherankan jika banyak orang yang tetap memilih untuk tinggal di sekitar gunung berapi. Meskipun letusan gunung berapi sangat menakutkan dan membahayakan, manfaatnya sangat banyak, salah satunya menyuburkan tanah, sehingga penduduk bisa menjadikan lahan-lahan di lerengnya sebagai lokasi pertanian yang menjanjikan.
Daerah-daerah pertanian yang diusahakan di wilayah bertanah vulkanis banyak terdapat di Indonesia, yang memang memiliki banyak gunung berapi aktif, di antaranya di bagian utara Pulau Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, Halmahera, Sulawesi, dan lain-lain. Pulau Jawa dan Sumatera yang memiliki lebih banyak gunung berapi dari daerah lain otomatis memiliki tanah vulkanis yang paling luas.

