Tari Serimpi - Tari Klasik dari Tanah Jawa
Ilustrasi tari serimpi
Tari Serimpi merupakan tarian klasik yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Tari Serimpi menjadi klasik karena dibawakan pertama kali pada abad ke delapan belas.
Saat itu Pakubuwono IV yang menjabat sebagai pimpinan Keraton Surakarta Hadiningrat menciptakan tarian yang melambangkan ‘kematian’.
Tari Serimpi awalnya bernama Srimpi Sangopati yang merujuk pada satu pengertian yaitu calon pengganti raja. Seperti kebanyakan tarian khas Jawa, Tari Serimpi juga diiringi oleh alat musik gamelan. Ada ciri khusus yang bisa kita temukan pada saat melihat pertunjukkan tari yang bernuansa mistis ini. Gerakan lemah gemulai tangan-tangan penarinya menjadi sesuatu yang akan sering kita temui.
Tari serimpi identik dengan jumlah penari sebanyak empat orang. Paling banyak lima orang saja. Hal ini bukan tanpa sengaja karena kata ‘srimpi’ mengacu pada persamaan kata dari bilangan empat.
Tari Serimpi merupakan simbol dari empat unsur yang ada di dunia. Keempat unsur itu adalah api atau grama, udara atau angin, air atau toya, dan tanah atau bumi. Jadi, masing-masing dari penari mengemban empat simbol tersebut.
Banyak yang mencoba mengamati Tari Serimpi ini dari segi mistis. Hal ini bukan tanpa alasan. Setiap kali memerhatikan para penari yang melakukan gerakan lemah gemulai berdurasi empat puluh lima menit hingga enam puluh menit itu, mereka bagaikan terbawa ke alam yang lain. Hanya menari, tanpa ada interaksi dengan penonton. Alunan gamelan Jawa membuat Tari Serimpi semakin terasa aura mistisnya.
Esensi Tari Serimpi
Tari Serimpi bercerita tentang hal baik dan hal buruk yang saling berseteru. Kadang juga membiaskan masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia akibat pertikaian yang terjadi antara hawa nafsu dan akal pikiran.
Salah seorang pengamat budaya, Dr. Priyono mengungkapkan bahwa kata Tari Serimpi mempunyai akar kata ‘impi’ atau dalam bahasa Indonesia adalah ‘mimpi’ sehingga tidak heran jika kita melihat para penari membawakan tarian seperti terbawa ke alam lain atau alam mimpi.
Tari Serimpi, sejak kemunculan pertamanya khusus dipersembahkan untuk kalangan petinggi yang ada hubungannya dengan istana Yogyakarta.
Tari yang khusus dibawakan oleh empat orang perempuan ini digelar untuk menyambut kedatangan tamu agung. Seiring berjalannya waktu, Tari Serimpi mulai mengadakan penyesuaian dengan kebutuhan budaya di tengah-tengah era globalisasi.
Mengingat akar budaya nasional adalah budaya daerah maka tari serimpi mengalami perubahan. Yang terlihat jelas adalah waktu yang dibutuhkan untuk satu kali penampilan pertunjukkan.
Durasi menjadi lebih singkat, namun tidak mengurangi esensi Tari Serimpi secara garis besar. Dengan begitu, Tari Serimpi tetap memiliki keindahan dan terutama jati dirinya sebagai tarian tradisional.
Tari Serimpi Pandelori
Tari ini adalah bentuk Tari Serimpi khas Yogyakarta yang dibawakan oleh empat orang penari. Mereka membawakan sebuah kisah perseteruan antara Dewi Sirtupilaeli dan Dewi Sudarawerti yang memperebutkan cinta dari Wong Agung Jayengrana, pangeran dari Negeri Arab.
Yang indah dari tari serimpi ini adalah pesan moralnya. Perseteruan di antara keduanya tidak berakhir kalah atau menang tetapi berakhir dengan awal dari persaudaraan keduanya. Sang Pangeran Arab pun menikahi keduanya.
Tari serimpi ini meski dipadukan dengan cerita dari budaya negara lain, namun tidak meninggalkan pakem Tari Serimpi itu sendiri. Gerakan Tari serimpi Pandelori memiliki keragaman yang tidak sedikit.
| Ragam gerak tersebut memiliki arti tersendiri. Di antaranya : |
| Sembahan sila – seleh - ndhodhok. Lalu berdiri. Panggel - nggruda sebanyak satu kali - mayuk jinjit. Lalu nggruda sebanyak tiga kali - seblak noleh. |
| Sendhi gedrug kiri ajeng-ajengan. |
| Lampah sekar tawing kanan lanjut tawing kiri – kengser - tangan kiri ditekuk encot - gedruk kanan - pendhapal cangkol udhet pada bagian kiri. |
| Seleh kanan - sendhi minger adu kanan – cathok kanan kipat . Pudhak mekar – mancat kanan encot sebanyak dua kali – sendhi ngracik adhep dhepan – gedruk kanan maju – gedruk kiri seleh. |
| Tinting kanan (buat diagonal) encot – tinting kiri (bertukat posisi) – nglereg cathok kanan – kipat. |
| Mandhe udhet. |
| Trisik – maju kanan kipat kanan. |
| Ulap ulap enchot lamba – mancad kiri – sendhi minger. |
| Ngenceng encot sebanyak satu kali – sendhi maju sebelah kiri – mayuk jinjit (saling berhadapan). Gedrug kanan nglereg – gedrug kiri sambil ambil keris – gedrug kanan. |
| Pedhapan minger kanan – seleh tangan kanan – usap suryan dengan keris – mancad kiri. |
| Trisik puletan – kembali berdekatan – nyuduk – encot encot – nyuduk. |
| Pendhapan puletan. |
| Nyuduk – kengser ndhesek – 1 dan 2 ke kanan – 3 dan 4 ke kiri. |
| Penari 2 dan 3 nyuduk – 1 dan 4 endha – 2 kejar 1 – 3 kejar 4 – trisik puletan – kembali berdekatan – nyuduk – mundur bersamaan. |
| Maju kiri seleh kiri – gedruk kanan mancad kanan encot encot – ingsut – encot encot mancad gedrug kanan nglereg kanan – gedrug kiri sambil mnyarungkan keris. |
| Nyamber puletan – kicat boyong – nggrudha jengkeng sebanyak satu kali – sendhi nglayang – nyembah – sila panggung. Sembahan ndhodhok – berdiri – kapang kapang – masuk – selesai. |
Tari Serimpi Renggawati
Tarian klasik yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono V ini dibawakan oleh 5 orang penari. Tema cerita dari Tari Serimpi Renggawti adalah ‘Angling Darmo’ dengan sambil membawa seekor burung miliwis putih dan sebatang pohon.
Tari Serimpi Cina
Yang berbeda dari tari ini adalah para penari mengenakan baju khas daratan Cina. Tari serimpi ini dibawakan di Istana Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tari Serimpi Pramugari
Dinamakan Tari Serimpi Pramugari karena iringan musiknya menggunakan gending pramugari. Perlengkapan lain yang digunakan oleh panari dalam membawakan tarian hasil karya Sultan Hamengkubuwono VII ini adalah pistol.
Tari Serimpi Pistol
Tari Serimpi Merak Kasimpir
Tari serimpi yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono VII ini menggunakan alat musik gendhing merak kasimpir untuk mengiringi para penari.
Jemparing atau panah dan pistol merupakan perlengkapan yang dipakai oleh penarinya.
Seperti namanya, Tari Serimpi buah karya Sultan Hamengkubuwono VII ini menggunakan pistol sebagai properti tari. Meski begitu, penari tetap memperlihatkan lenggak lenggok nan lemah gemulainya.
Tari Serimpi pada prinsipnya sama dengan Tari Bedhaya Sanga. Persamaan keduanya terletak pada tema yang menggambarkan hal-hal abstrak yang menjadi cikal bakal munculnya sikap manusia. Seperti hawa nafsu dan akal budi, sikap baik dan buruk, dan penentuan hal yang benar dan salah.
Ikon pusaka keraton Yogyakarta ini diharapkan bisa dilestarikan oleh para pecinta seni tari tradisional meski mereka tidak berada dalam lingkungan kesultanan. Berarti, keberlangsungan seni tari tradisional seperti Tari Serimpi ini ada di tangan generasi muda.
Jangan pernah mengharapkan mereka yang berkecimpung lama dalam seni tari ini tetapi kita bisa memulai menjadi bagian dari yang melestarikan. Salah satunya dimulai dengan mengenali Tari Serimpi, mempelajari sejarahnya dan mengikuti perkembangan budayanya.

