logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Tempat    Provinsi

Cakalele Tarian Maluku yang Eksotis


Ilustrasi tarian maluku

Apakah Anda tahu tarian Cakelele? Tarian Cakalele ini adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Maluku. Tarian Maluku tidak hanya itu saja, tapi tarian Cakalele ini adalah salah satu tarian tradisional yang sampai sekarang masih ada, meskipun jarang ditampilkan.

Tarian Tradisional

Masyarakat Indonesia sudah diperkenalkan dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia sejak masuk ke dunia pendidikan. Atau bahkan sudah diperkenalkan oleh orang tuanya.

Indonesia kaya akan seni dan budaya, ada banyak ragam seni dan budaya yang berkembang di Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, kita bisa mendapati seni dan budaya yang unik dan indah.

Jika harus menyebutkan, menuliskan atau menyusun keragaman seni dan budaya itu, pasti akan ada banyak seni dan budaya yang mungkin tidak dikenal. Bagaimana tidak, untuk satu daerah di mana kita tinggal saja ada begitu banyak keragamannya. Itulah bukti nyata betapa kayanya negara kita akan seni dan budaya.

Melalui tarian-tarian tradisional, baju adat, rumah adat, nyanyian daerah, dan lain sebagainya, masyarakat Indonesia mudah mengenal dan mempelajarinya. Tidak jarang kita lihat di pentas-pentas seni di sekolah sering ditampilkan tarian-tarian tradisional oleh para pelajar dengan memakai baju adat daerah tersebut.

Banyak cara untuk mengetahui dan mempelajari kebudayaan Indonesia. Dari belajar di sekolah, berteman dengan orang yang berbeda suku, atau melalui media-media, kita dapat mengenal kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan di Indonesia semakin sini semakin berkurang. Masyarakat Indonesia semakin terpengaruh oleh kebudayaan luar melalui perkembangan teknologi yang semakin canggih ini.

Melalui media-media yang semakin canggih, kebudayaan dari luar Indonesia masuk dan menarik perhatian masyarakat Indonesia. Kebudayaan yang ada di Indonesia sendiri dilupakan begitu saja. Padahal bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai dan mempelajari kebudayaannya sendiri.

Kemajuan teknologi saat ini memang besar pengaruhnya terhadap perkembangan negara Indonesia. Ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya untuk perkembangan ilmu pengetahuan memang besar, tapi tidak bisa dipungkiri dibalik itu semua ada dampak negatifnya.

Dampak negatif dari perkembangan teknologi tersebut, salah satunya berdampak pada bidang budaya. kebudayaan dari luar semakin banyak yang masuk, sehingga kebudayaan sendiri menjadi tersisih dan terlupakan.

Anak-anak zaman sekarang jarang yang mengenal lagu-lagu daerah atau lagu nasional karena sekarang industri musik di Indonesia sedang marak oleh musik lokal dan musik luar.

Jarang ada yang mementaskan tarian tradisional, sehingga anak-anak zaman sekarang tidak mengenal tarian tradisional. Mereka malah mengenal modern dance karena dianggap lebih popular.

Tayangan di televisi pun, jarang ada yang menampilkan tarian tradisional atau lagu-lagu daerah, yang ada kontes-kontes modern dance atau kontes menyanyi lagu-lagu popular.

Pelajaran di dekolah pun mengenai kebudayaan Indonesia kurang mendukung untuk menjadikan masyarakat Indonesia cinta kepada kebudayaannya sendiri, terutama tarian tradisional.

Apabila kita menanyakan pada anak zaman sekarang mengenai nama tarian tradisional yang ada di daerahnya sendiri, mereka akan bingung karena tidak pernah melihat dan mendengar tentang tarian tradisional.

Orang asing saja banyak yang mengunjungi Indonesia karena kebudayaannya. Mereka ingin mengenal dan mempelajari kebudayaan yang ada di Indonesia. Tapi, masyarakat Indonesia sendiri tidak hapal dengan kebudayaan yang ada di nusantara ini.

Padahal kebudayaan kita itu menjadi aset yang sangat besar bagi negara Indonesia. Apabila bukan masyarakat Indonesia yang mempelajarinya, bagaimana kita bisa memperkenalkan kebudayaan nusantara di dunia internasional.

Tarian tradisional apabila tidak dipelajari, bagaimana memperkenalkannya kepada orang asing. Jika tidak dipelihara, orang asing bisa saja membawa kebudayaan yang ada di Indonesia dan kemudian diakui sebagai kebudayaannya karena di Indonesia sendiri tidak dipelihara.

Banyak kasus seperti itu. Kebudayaan yang seharusnya milik bangsa Indonesia, malah diakui dan dipopularkan oleh negara lain. Itu akibat dari tidak dijaganya kebudayaan kita sendiri.

Untuk itu, menjaga kelestarian budaya juga sangat diperlukan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebudayaan sendiri, yaitu mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang ada di daerah sendiri. Kemudian, mempelajari kebudayaan yang ada di seluruh Indonesia. Setidaknya kita tahu kebudayaan yang ada di seluruh Indonesia, meskipun kita tidak dapat mempraktekannya, seperti tarian tradisional.

Selain itu, mengadakan pentas seni budaya dengan menampilkan pertunjukan kesenian daerah. Misalnya, menarikan tarian tradisional, menyanyikan lagu daerah, memakai pakaian adat, dan memainkan alat musik tradisional.

Memperkenalkan kebudayaan nusantara juga dapat melalui media elektronik, seperti televisi. Bahkan televisi itu adalah salah satu media yang berpengaruh besar dalam mengenalkan kebudayaan nusantara kepada masyarakat.

Situs internet juga dapat membantu menyebarkan kebudayaan nusantara, melalui iklan-iklan atau tayangan-tayangan kebudayaan. Dengan begitu, kebudayaan nusantara, terutama tarian tradisional, tidak akan hilang begitu saja dimakan waktu.

Di Indonesia terdapat berbagai macam tarian. Setiap daerah mempunyai tarian tradisionalnya. Berbeda suku, maka berbeda juga kebudayaannya, meskipun kadang-kadang terdapat beberapa kesamaan.

Seni tari tradisional kita pun sarat akan nilai moral dan sosial. Selalu ada cerita yang ingin disampaikan melalui gerakan-gerakan tubuh yang indah itu. Tak jarang di suatu lingkungan tertentu ada tarian yang tidak sembarang orang dapat menarikannya. Misalnya, tari Cakalele yang berasal dari Maluku ini.

Tarian Maluku Cakalele

Dulu, Cakalele digelar sesaat sebelum perang. Maksudnya agar para prajurit memahami falsafah perang itu sendiri dan mempertahankan kehormatannya habis-habisan. Namun, masa peperangan telah usai. Saat ini, tarian Maluku yang terkenal karena kemeriahannya ini dipakai untuk menyambut tamu kehormatan yang tiba di Maluku.

Tarian ini biasanya dilakukan oleh 30 orang. Mereka berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengenakan baju berwarna merah yang menjadi khas kstaria Maluku, membawa pedang dan tameng. Sedangkan perempuan menggunakan pakaian berwarna putih sembari menggenggam sapu tangan di tangannya.

Seperti layaknya tarian daerah yang lain, Cakalele mempunyai filosofi tersendiri. Warna merah yang mendominasi kostum para penari laki-laki menyiratkan bahwa pria Maluku menjunjung tinggi kehormatannya dalam berperang.

Warna merah juga menyimbolkan bahwa ksatria Maluku tidak pernah gentar menghadapai siapa pun dan memiliki rasa heroisme yang tinggi terhadap tanah kelahirannya. Pedang yang dibawa oleh penari menyimbolkan harga diri yang akan terus dipegang sampai mati oleh para prajurit.

Selain itu, unsur protes dalam juga ada dalam tarian ini. Tameng yang dipegang oleh prajurit dan teriakan keras mereka menyimbolkan bahwa ada ketidakpuasan terhadap pemerintah. Cakalele tidak hanya menampilkan laki-laki sebagai penarinya.

Laki-laki biasanya diriingi oleh perempuan yang memakai lenko, sapu tangan khas Maluku. Ini karena masyarakat Maluku percaya bahwa perempuan juga ikut andil dalam membuat para prajurit menang dalam berperang. Biasanya laki-laki dan perempuan menari berpasangan. 

Seperti tari modern, dalam pertunjukannya Cakalele tidak hanya diisi dengan nyanyian dari para penari. Cakalele menggunakan musik tradisional Maluku yang seperti kebanyakan musik tradisonal dari timur Indonesia, bunyinya sangat menghentak dan eksotis. Alat musik yang dipakai adalah tifa (perkusi), suling, dan kerang besar (bia).

Ketika musik dimainkan, penari Cakalele secara serentak membuat gerakan. Setelah itu mereka benyanyi bersama-sama. Nyanyain penyemangat bagi rakyat Maluku. 

Jika dimainkan di dalam ruangan, biasanya musik yang menjadi pengiring berdiri terpisah dengan para penari Cakalele. Namun, jika tarian Cakalele digelar untuk menyambut seseorang, maka biasanya para pemain musik ikut jalan beriringan dengan tamu dan para penari. 

Tarian Cakalele ini merupakan representasi dari Siwa Lima. Siwa Lima adalah filosofi hidup masyarakat Maluku. Siwa lima adalah sebuah cara memandang hidup sebagai sebuah persatuan dan kesatuan. Rakyat Maluku saling bergandengan tangan dalam menghadapi apa pun, selalu peduli akan saudaranya, dan memiliki karakter gotong royong yang kuat.

Dalam tarian Cakalele, setiap penari harus beriringan satu sama lain. Bahkan berpasang-pasangan. Ini memperlihatkan salah satu filosofi utama dalam Siwa Lima, yaitu menyatukan perbedaan yang ada. Siwa Lima pada dasarnya hampir sejalan dengan cara pandang Bhineka Tunggal Ika.

Cukup menarik sekali tarian Maluku tersebut. Masih banyak kebudayaan tradisional yang ada di Provinsi Maluku yang dapat Anda pelajari. Tidak hanya tarian saja, tapi adat istiadatnya dan kebudayaan lainnya yang dapat dipelajari. Semoga uraian tersebut bermanfaat dan menambah wawasan Anda.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kepulauan Riau - Provinsi Termuda Kedua di Indonesia
  • Jawa Timur - Pesona di Timur Pulau Jawa
  • Tifa Maluku: Alat Musik Gendang Bersuara Merdu
  • Sulawesi Tengah - Kota Megalitikum Nusantara?
  • PLN Jatim: Listrik Untuk Kehidupan Lebih Baik
  • Jembatan Suramadu - Jembatan Terpanjang di Asia Tenggara
  • Jelajah Wisata Kalimantan Timur
  • Memilih Hotel Murah di Bali, Cara Tepat Berlibur Hemat dan Meriah - A
  • Melihat Luasnya Palembang dalam Peta Palembang Sumatera Selatan
  • Peta Kalimantan Timur - Sejarah dan Potensi Ekonominya
  • Si Kepar dan Atu Belah, Cerita Rakyat Aceh Pilihan
  • Arti Batik Jawa Tengah Bagi Masyarakatnya
  • Gempa Bumi di Aceh : The Silver Lining for Indonesia
  • Alat Musik Jawa Timur: Mengenal Kesenian Kuntulan
  • Mengenal Suku Asli di Kalimantan Barat
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA