Tarian Piring dari Ranah Minang
Ilustrasi tarian piring
Di daerah Sumatera Barat ada sebuah tarian adat yang masih sering ditarikan oleh masyarakat suku Minangkabau, yaitu Tarian Piring. Tarian ini melambangkan rasa suka cita atas hasil panen tanaman mereka. Karena itulah, gerakan-gerakan tarian ini seperti gerakan orang yang sedang bercocok tanam.
Gerakannya cepat dan diiringi musik yang berirama cepat pula. Tarian ini dapat ditarikan secara berpasangan maupun berkelompok. Alat musik yang digunakan untuk mengiringinya adalah talempong dan saluang.
Seni Keramik Piring, Cikal Bakal dari Tarian Piring
Museum Vorderasiatisches di Jerman, mengoleksi temuan sebuah piring Samarra yang berumur 5.000 tahun SM yang ditemukan di dataran Baghdad-Irak. Benda purbakala tersebut berbahan dasar keramik dan berlukis motif yang sangat indah.
Dahulu, seni keramik adalah seni yang diminati dan dikagumi. Apalagi dilukis asli oleh buatan tangan, bukan hasil industri massal buatan mesin. Sebenarnya antara zaman dahulu dan zaman sekarang sama saja, alat ini digunakan sebagai alat makan dan juga interior hiasan ruangan.
Seni keramik pada awal abad XXI ditandai dengan kebudayaan pasca-modernisme mulai mencari kombinasi budaya primitif sampai budaya kekinian untuk menemukan tatanan nilai baru. Perkembangan seni bisa saja memproduksi benda-benda seni keramik dalam berbagai ornamen dan olahan.
Seni keramik di Indonesia berpeluang besar karena material keramik di Indonesia berlimpah dan berkualitas seni tinggi dan juga murah. Dengan adanya bahan yang melimpah akan membuat biaya produksi menjadi semakin kecil sehingga harga jual juga semakin murah.
Dengan ditemukannya seni keramik maka kita bisa mengenal jenis piring yang terbuat dari keramik atau bahan porselen. Piring yang kita gunakan juga lebih indah dan bersih dengan adanya bahan dari porselen ini. Lebih jauh piring ini juga digunaka dalam seni tradisional, yaitu tarian piring.
Sejarah Tarian Piring
Dahulu, masyarakat Minangkabau menganut kepercayaan kepada dewa-dewi. Tarian piring ini awalnya ditarikan sebagai wujud rasa hormat, pemujaan dan rasa gembira terhadap para dewa menjelang masa panen.
Setelah masuknya Islam, tarian piring tidak lagi diperuntukkan sebagai pemujaan, tetapi lebih cenderung untuk penyemarak suasana pesta pernikahan Hingga saat ini, tidak ada yang bisa memastikan kapan tepatnya tarian ini mulai ada di Sumatera Barat.
Namun banyak yang memperkirakan bahwa tarian piring sudah ada di tanah melayu sejak sebelum berkuasanya kerajaan Sriwijaya, sekitar 800 tahun yang lalu.
Proses Pelaksanaan Tarian Piring
Berikut ini adalah proses yang biasa dijalani oleh para penari piring sebelum mempersembahkan tariannya.
- Persiapan awal. Terdiri dari latihan gerak tari, latihan pernafasan, serta menentukan jumlah piring yang akan digunakan. Penari juga sudah memastikan kondisi piring harus dalam keadaan baik dan tidak retak atau sumbing. Kemudian penari akan mengenakan dua buah cincin khusus, satu di jari tangan kanan dan satu di jari tangan kiri.
- Pembukaan tarian. Begitu alat musik berbunyi, penari akan memulai tarian dengan memberi hormat kepada pasangan pengantin sebanyak tiga kali.
- Masa proses menari. Setelah memberi hormat kepada pasangan pengantin, penari akan mengambil piring yang sebelumnya sudah diletakkan di hadapan pengantin. Kemudian penari akan menari dengan mengayunkan piring ke kanan dan ke kiri, sambil sesekali diputar ke atas kepala atau ke bawah lengan.
Penari akan menghentak-hentakkan jarinya yang sudah memakai cincin khusus tadi ke piring, hingga menghasilkan bunyi ting-ting. Lalu, penari juga akan menari sambil menginjak piring-piringnya hingga pecah, tapi sama sekali tidak melukai kaki para penari itu. Selama proses menari ini, penari sama sekali tidak boleh membelakangi pasangan pengantin.
- Penutupan tarian. Setelah semua piring selesai diinjak, penari akan mengakhiri tariannya dengan penutupan, yaitu dengan memberi hormat kembali kepada pasangan pengantin sebanyak tiga kali.
Pada perkembangannya, tarian piring kini sudah sering dibawakan di panggung-panggung pertunjukan dan pagelaran kebudayaan, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di manca negara. Orang asing sangat menggemari tarian ini karena gerakannya yang dinamis dan tidak monoton, serta karena keunikan yang dimiliki tarian ini.
Karena itulah para penarinya acap kali mendapat undangan untuk menari di luar negeri. Dengan begitu kita berharap agar ciri khas kebudayaan Indonesia akan tetap lestari agar bisa terus membanggakan negeri ini.
Tarian Piring dan Kesenian Minangkabau
Masyarakat suku bangsa Minangkabau memiliki cerita masa lalu yang berkenaan dengan keberadaannya saat ini. Konon, sebuah kerajaan asing zaman dahulu datang ke Sumatra untuk melakukan penaklukan. Maka berkumpullah para tokoh masyarakat, berembuk mencari cara untuk mencegah pertempuran tanpa harus takluk tanpa perlawanan. Maka, diusulkanlah pertandingan mengadu kerbau.
Ternyata, tentara dari kerajaan asing itu menyetujui. Mereka membawa kerbau besar dan galak untuk aduan, sedangkan masyarakat suku bangsa Minangkabau setempat mengeluarkan anak kerbau yang sengaja dibuat kelaparan dan diberi pisau pada tanduknya. Anak kerbau itu menyangka kerbau besar sebagai induknya dan langsung menyerbu hendak menyusu. Maka, kalahlah si kerbau besar.
Dari peristiwa itulah, konon, kata Minangkabau berasal, yakni minang yang artinya 'menang', dan kabau yang artinya 'kerbau'. Suku bangsa Minangkabau pun hadir bersamaan dengan berjalannya waktu. Selanjutnya, kata Minangkabau digunakan untuk menyebut sebuah kenegerian yang terletak di Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Kebudayaan suku bangsa Minangkabau mengenal istilah Tali Nan Tigo Sapilin, yaitu tiga elemen utama yang berperan menjaga keutuhan budaya dan adat istiadat. Tiga elemen itu adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak.
Secara umum, suku bangsa Minangkabau merupakan masyarakat yang demokratis dan egaliter. Musyawarah untuk mufakat adalah bentuk yang selalu mendapatkan aktualitasnya dalam berbagai sistem sosial.
Sebagai masyarakat dengan tradisi urban dan migran, suku bangsa Minangkabau mengenal seni beladiri sejak lama, dalam bentuk silat tradisional yang khas. Gerakan silat tersebut, bahkan, terintegrasi dalam kesenian tari randai dan tari piring yang banyak disajikan untuk meramaikan pesta adat.
Ikon utama suku bangsa Minangkabau adalah rumah adat yang disebut Rumah Gadang. Rumah tersebut mencerminkan budaya demokrasi, biasanya dibangun di atas tanah keluarga induk dalam suku tersebut secara turun-temurun. Berbentuk persegi panjang dengan atap melengkung mencuat ke atas seperti tanduk kerbau.
Tidak terlalu berbeda jauh dengan keberadaan suku bangsa lainnya di Indonesia, suku bangsa Minangkabau juga memiliki beberapa kebudayaan yang khas. Kebudayaan tersebut meliputi pakaian adat yang biasa dikenakan dalam upacara pernikahan, makanan khas dari suku bangsa Minangkabau yang terkenal seperti rendang dan balado, serta tarian tradisional seperti tarian piring.
Suku Minangkabau mempunyai beragam jenis kesenian tradisional, musik, tari-tarian, upacara adat, bela diri, pantun, dan sebagainya. Unsur-unsur kesenian tersebut sangat dikenal hingga di kancah nasional dan Asia Tenggara. Berikut ini merupakan beberapa jenis kesenian Minangkabau.
1. Seni Musik dan Pantun
Masyarakat Minangkabau mempunyai beberapa alat musik tradisional yang khas, seperti rabab, saluang, dan lain-lain. Rabab adalah alat musik gesek, sementara saluang adalah semacam seruling dari pipa bambu. Dari instrument-instrumen tersebut, lahir berbagai kesenian musik.
Kesenian Minangkabau dalam bentuk rabab adalah pertunjukan menyampaikan “kaba” atau kabar yang diiringi dengan alunan musik yang populer di daerah Pesisir Selatan Sumatera Barat, Pariaman, dan Solok.
Kemudian, ada saluang jo dendang, yang berarti 'musik saluang disertai nyanyian'. Kesenian masyarakat Minangkabau saluang biasa ditampilkan pada perayaan di desa-desa atau acara keluarga. Saluang juga digunakan untuk mengiringi permainan bagurau, yaitu lantunan pantun-pantun tentang keluh kesah, rayuan, atau sindiran.
Kentalnya nuansa Islam di kalangan masyarakat Minangkabau yang berpadu dengan kebudayaan setempat melahirkan salawat dulang, yaitu kesenian menabuh dulang (nampan kuningan) oleh dua orang tukang salawat sambil mendendangkan syair. Salawat dulang biasanya ditampilkan di masjid-masjid atau surau.
2. Seni Tari
Daerah Sumatera Barat terkenal dengan tari-tari daerah yang atraktif sekaligus sarat makna. Di antaranya ada tari pasambahan, yaitu tarian yang dipersembahkan kepada tamu istimewa sebagai ucapan selamat datang.
Kesenian masyarakat Minangkabau selanjutnya adalah tarian piring yang sangat terkenal. Tarian ini dilakukan dengan gerakan cepat, sementara para penarinya memegang piring pada kedua telapak tangan.
Orang yang menyaksikan tari piring pasti akan terpukau melihat kelincahan para penari yang meliuk ke sana ke mari dan menggerakkan tangan bolak-balik tanpa menjatuhkan piring-piring tersebut. Tarian ini biasanya diiringi musik dari saluang dan talempong.
3. Bela Diri
Jenis kesenian masyarakat Minangkabau ini sangat istimewa karena tidak semua daerah memiliki seni bela diri tradisional. Silek, atau silat minangkabau, adalah seni bela diri yang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu.
Bagi masyarakat Minangkabau, khususnya kaum laki-laki, silek menjadi bagian penting dari pendidikan dasar yang harus dipelajari anak laki-laki, di samping Agama Islam.
Silek dipelajari di kampung-kampung di mana sekumpulan anak berlatih di bawah bimbingan guru. Gerakan-gerakannya memiliki cita rasa seni yang tinggi karena serupa dengan tari-tarian.
Silek telah melekat dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi unsur penting dalam kebudayaan Minangkabau. Tercatat terdapat sebelas aliran silek yang berkembang hingga kini.

