logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Tempat    Provinsi    Tarian Tradisional Aceh

Tarian Tradisional Aceh - Tari Saman dengan Gerakannya yang Magis

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Dibandingkan daerah lain di Nusantara, tarian tradisional Aceh memiliki perbedaan mencolok. Salah satunya, pada komposisi gerak berkelompok yang menciptakan irama gerak magic.

Irama gerak yang dirasa memiliki kandungan nilai-nilai magis ini pada praktiknya menyuguhkan sebuah pemandangan luar biasa. Sebuah keseragaman dan keserasian antara hentakan musik dan gerak. Keindahan semakin menjaid ketika para penari seragam menggunakan pakaian yang sama. Sebuah tarian tradisional Aceh yang dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan tarian saman.

Secara umum, tarian tradisional Aceh adalah tarian yang dibawakan secara massal. Penari dari tarian tradisional Aceh biasanya terdiri lebih dari satu. Jarang sekali ditemukan tarian perorangan atau tari berpasangan. Dalam tarian tersebut, biasanya terdapat seorang syekh yang memimpin sebagai simbol amir atau pemimpin negara. Hal ini karena estetika seni Aceh lahir dari corak kesultanan Islam yang memerintah Aceh dalam kurun waktu yang panjang.

Pengaruh Islam dalam setiap gerak tarian tradisional Aceh tidak bisa dihapuskan. Ketika menyaksikan para penari tarian tradisional Aceh, Anda pasti akan jarang melihat pemandangan yang cenderung erotis. Entah dari gerakan penarinya maupun pakaian yang dikenakan. Coba perhatikan!

Unsur keislaman juga sangat kental dalam tarian tradisional Aceh ini. Anda bisa merasakannya lewat alunan nada-nada dari lagu pengiring tarian tradisional Aceh tersebut. Dalam setiap alunan musik, syair-syair yang ikut dilantunkan pun sebagian besar berupa pujian kepada Nabi Muhammad Saw atau pujian terhadap kebesaran Allah SWT.

Tarian Tradisional Aceh – Tari Saman

Salah satu tarian tradisional Aceh yang menonjol adalah Saman. Sampai sekarang, tarian tradisional Aceh ini masih menjadi primadona pertunjukan, baik di dalam maupun di luar negeri. Diperagakan oleh belasan penari yang duduk berjajar, vokabulernya terbilang sederhana, hanya berupa tepuk tangan, gerak kepala dan badan yang dientakkan ke kanan dan ke kiri.

Tarian tradisional Aceh ini diciptakan oleh ulama dataran tinggi Gayo, Syekh Saman. Awalnya, hanya berupa permainan rakyat yang disebut Pok Ane, lalu disisipi syair-syair pujian kepada Allah swt, dan menjadi media dakwah Islam yang sangat apik. Di masa perang, dimasukkan syair-syair penggugah semangat dan kecintaan pada Tanah Air.

Yang menakjubkan dari tarian tradisional Aceh ini adalah harmonisasi dan dinamika. Diperlukan kerja sama, kepercayaan, dan keseriusan dalam menarikannya. Gerakannya sederhana, namun dinamis dan memiliki kecepatan tinggi sehingga tanpa latihan yang baik mustahil untuk menyajikan tarian tradisional Aceh ini.

Tarian Tradisional Aceh – Formasi Penari dalam Tarian Saman

Tari Saman sebagai salah satu tarian tradisional Aceh diperagakan dengan posisi berbanjar, menghadap ke penonton. Jumlah penarinya bervariasi. Pada formasi dengan 17 penari, misalnya, akan tampak sebagai berikut.

1-2-3-4-5-6-7-8-9-10-11-12-13-14-15-16-17

Maka, penari nomor 9 yang berada tepat di pusat barisan berfungsi sebagai sentral atau pemimpin. Dalam istilah Aceh disebut pengangkat. Penari ini bertugas menentukan gerak, level tari, dan syair-syair yang dikumandangkan. Indah atau tidaknya tarian tradisional Aceh ini ditentukan dari penari sentral tersebut.

Dalam tarian tradisional Aceh ini penari 8 dan 10 bertugas membantu pengangkat dalam gerak tari maupun nyanyian dan biasa disebut pengapit. Penari 2-7 dan 11-16 disebut penyepit yang berfungsi mendukung gerak dan menjaga kerapatan antarpenari. Adapun penari 1 dan 17 disebut penupang atau penamat kerpe jejerun yang berfungsi menjaga formasi tetap lurus. Masing-masing penari dalam tarian tradisional Aceh ini memiliki peran yang berbeda.

Tarian Tradisional Aceh – Vokabuler Tari Saman

Secara umum, tarian tradisional Aceh ini diperagakan dengan posisi duduk berlutut dengan berat badan menumpu pada telapak kaki. Dinamika dibangun tanpa pola lantai, tetapi memanfaatkan level duduk. Level tertinggi berdiri di atas lutut (berlembuku) dan level terendah membungkuk ke depan hingga hampir rata tanah (tungkuk).

Vokabuler lain dalam tarian Saman misalnya seperti berikut ini.

  1. Gerakan miring ke belakang penuh (langat).
  2. Miring ke kanan-kiri (singkeh).
  3. Melenggangkan badan (lingang).
  4. Merapatkan tangan berimpit dan searah (cerkop).
  5. Gerakan ujung jari telunjuk seakan mengambil sesuatu (cilok).
  6. Tepuk tangan dalam berbagai posisi.
  7. Menganggukkan kepala dalam berbagai level kecepatan (anguk).
  8. Memutar kepala (girek).

Tarian Tradisional Aceh – Iringan dan Syair Tari Saman

Tari Saman tidak memiliki musik pengiring. Sebagai gantinya, iringan diperoleh dari tepuk tangan, tepukan tangan ke dada, dan gesekan ibu jari dan jari tengah.

Karena tidak ada musik yang mengiringi, syair yang didendangkan oleh penari memegang peranan penting dalam membangun dinamika. Ada beberapa cara menyanyikan syair, yaitu sebagai berikut.

  1. Auman oleh pengangkat untuk mengawali syair, disebut rengum.
  2. Semua penari menyanyi bersama mengikuti rengum dari pengangkat, disebut dering.
  3. Lagu singkat oleh seorang penari di bagian tengah, disebut redet.
  4. Lagu panjang, tinggi, dan melengking yang menjadi tanda perubahan gerak, disebut syek.
  5. Lagu yang diulang-ulang bersama seluruh penari, disebut saur.

Tarian Tradisional Aceh – Dramatika Penyajian Tarian Saman

Tari saman selaku tarian tradisional Aceh mengetengahkan struktur dramatik dan seolah penuh sihir dalam setiap penyajiannya, dimulai dari kostum khas berupa tengkuluk dasar kain hitam empat persegi dan sunting kepies di kepala, baju kerawang hitam dengan celana dan kain sarung, tangan penari mengenakan topeng, gelang dan sapu tangan.

Pertunjukan tarian tradisional Aceh ini dimulai dengan persalaman berupa rengum yang berisi pujian kepada Allah swt. Didengungkan dengan suara rendah dan menggema, menghadirkan suasana khidmat dan sakral.

Rengum dilakukan dengan kepala menunduk dan tangan menyembah sebagai simbol penyerahan diri kepada Allah, disambung persalaman berupa permintaan izin menggelar saman kepada penonton.

Setelah itu, dilanjutkan dengan ulu ni lagu yang secara harfiah berarti 'kepala lagu'. Gerakan dinamis dan dramatiknya sedikit naik. Boleh dibilang, semacam pemanasan sebelum masuk pada ekstase gerak cepat selanjutnya.

Lalu, penari yang berperan sebagai pengangkat dalam tarian tradisional Aceh ini menyanyikan lagu melengking sebagai tanda bangkit gerak dan tarian mulai memasuki ritme cepat. Puncaknya, pada babak lagu-lagu dengan gerakan cepat dan dramatis, temponya berubah-ubah antara cepat dan lambat, dan memainkan emosi penonton. Kecepatan dan keseragaman dalam gerak bagaikan magic yang menyihir.

Setelah itu, masuk ke babak uah ni kemuh yang berfungsi mengendorkan ketegangan dan mengembalikan pernapasan. Sebagai pengiringnya, dinyanyikan lagu sederhana dengan nada rendah.

Sebelum pertunjukan tarian tradisional Aceh ini selesai  syekh kembali menyanyikan lagu melengking untuk mengawali gerak cepat dramatik yang diperagakan tanpa lagu. Gerakan ini lebih menggebu dan bersemangat, menciptakan suasana khidmat penuh suspense. Kemudian, ditutup dengan gerak sederhana dan nyanyian perpisahan, serta permintaan maaf kepada penonton.

Tarian Tradisional Aceh – Tari Saman sebagai Kekayaan Budaya Indonesia

Kekayaan budaya Indonesia sudah tidak perlu diragukan. Beragam budaya tersaji dari ujung Pulau Sumatera hingga kawasan paling timur Indonesia. Tarian tradisional Aceh merupakan salah satu kebudayaan merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang harus dijaga.

Melestarikan tarian tradisional Aceh bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya mereka yang berdarah Aceh. Memelajari serta melestarikan berbagai tarian tradisional Aceh salah satunya tarian Saman merupakan tanggung jawab dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Tarian Daerah Maluku: Tari Bambu Gila
  • Reog Ponorogo, Seni Budaya Jawa Timur
  • Mencari Filsafat Sinkretisme di Rumah Adat Jawa Timur
  • Gempa Bumi di Aceh : The Silver Lining for Indonesia
  • Aneka Ragam Upacara Adat Jawa Tengah
  • Seni Budaya Jawa Tengah
  • Alat Musik Jawa Timur: Mengenal Kesenian Kuntulan
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA