Tatacara Penulisan Daftar Pustaka
Sebuah karya ilmiah harus ditulis berdasarkan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menulis karya ilmiah tidak dapat dilakukan berdasarkan imajinasi atau rekaan si penulis semata. Itu sebabnya, sebuah karya ilmiah harus selalu mencantumkan daftar pustaka.
Daftar pustaka ini tidak hanya menunjukkan buku apa saja yang dibaca oleh seorang penulis karya ilmiah dalam menuliskan karyanya, namun juga menjadi rujukan bagi para pembaca yang ingin menelusuri kebenaran data, informasi, atau teori yang dipaparkan oleh penulis. Untuk itu, maka seorang penulis karya ilmiah harus menguasai tata cara penulisan daftar pustaka yang benar.
Unsur-Unsur Dalam Daftar Pustaka
Meskipun sering terdapat perbedaan pada tata cara penulisan daftar pustaka antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain atau antara suatu lembaga dengan lembaga lain, namun ada unsur-unsur yang harus selalu ada dalam sebuah daftar pustaka.
Tatacara penulisan daftar pustaka yang benar harus mencantumkan unsur-unsur sebagai berikut:
- Nama pengarang
- Sebuah buku bisa ditulis oleh satu orang atau lebih. Jika sebuah buku ditulis oleh lebih dari tiga orang pengarang, maka cukup ambil tiga nama teratas atau nama penanggung jawab buku tersebut (penyusun atau editor).
- Jika sebuah buku merupakan kompilasi (antologi) tulisan dari banyak penulis, sebutkan nama penulis yang artikelnya dalam buku itu dikutip serta nama penanggung jawab / penyusun / editor buku tersebut.
- Meskipun tidak semua suku di Indonesia memliki marga atau nama keluarga, teknis penulisan nama pengarang tetap mengikuti aturan yang berlaku universal di seluruh dunia, yaitu ditulis terbalik. Nama belakang disebut terlebih dahulu, baru kemudian nama depan.
Misalnya: Triani Retno A. Di dalam daftar pustaka, nama ini ditulis sebagai Retno A, Triani. Pengecualian untuk nama-nama dari negara tertentu yang mencantumkan nama marga di depan nama pribadi seperti Cina. Untuk nama seperti ini, aturan pembalikan nama tidak berlaku. Misalnya: Lee Kuan Yew. Di dalam daftar pustaka ditulis sebagai Lee, Kuan Yew.
- Sebuah buku bisa ditulis oleh satu orang atau lebih. Jika sebuah buku ditulis oleh lebih dari tiga orang pengarang, maka cukup ambil tiga nama teratas atau nama penanggung jawab buku tersebut (penyusun atau editor).
- Nama penerjemah
Cara penulisan untuk nama penerjemah buku ini pun sama seperti cara penulisan nama pengarang. Misalnya: Rini Nurul Badariah. Di dalam daftar pustaka nama ini ditulis sebagai Badariah, Rini Nurul.
- Tahun terbit buku
Cantumkan tahun terbit buku yang dijadikan bahan acuan.
- Judul buku
Cantumkan judul lengkap buku, meliputi judul utama dan anak judul. Di dalam daftar pustaka, judul buku ini ditulis dengan huruf miring (italic).
- Jilid dan edisi
Cantumkan jilid dan edisi buku yang dijadikan bahan acuan. Misalnya: jilid 1, jilid 2, edisi 3, dan seterusnya.
- Kota terbit
Cantumkan nama kota di mana buku diterbitkan.
- Nama penerbit
Cantumkan nama penerbit buku. Dalam teknis penulisannya, hilangkan kata-kata seperti PT, CV, Firma, The, dan sebagainya yang terletak di depan nama penerbit.
- Alfabetis
Daftar pustaka disusun secara alfabetis (setelah pembalikan nama). Jika ada lebih dari satu buku oleh pengarang yang sama, perhatikan tahun terbit buku. Buku yang usia terbitnya lebih tua, dicantumkan lebih dahulu.
Contoh Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka
Berikut beberapa contoh penulisan daftar pustaka. Perhatikan pula pemakaian tanda titik, koma, dan titik dua.
Dell, Diana dan Erem, Suzan. Penerjemah Verin, Atta. 2008. Siapkah Aku Menjadi Ibu? Jakarta: Serambi.
Retno A, Triani. 2009. 25 Curhat Calon Penulis Beken. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Retno A, Triani. 2010. Quantum Reading for Kids: Agar Anak Gila Baca. Jakarta: Luxima.
Utami, Nunik. 2010. Gue Bisa Jadi Nomor Satu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.






