Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka
Ilustrasi tata cara penulisan daftar pustaka
Sebuah karya ilmiah harus ditulis berdasarkan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menulis karya ilmiah tidak dapat dilakukan berdasarkan imajinasi atau rekaan si penulis semata. Itu sebabnya, sebuah karya ilmiah harus selalu mencantumkan daftar pustaka. Ada beberapa tata cara penulisan daftar pustaka yang harus diikuti sesuai dengan aturan yang berlaku.
Menguasai Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka ini tidak hanya menunjukkan buku apa saja yang dibaca oleh seorang penulis karya ilmiah dalam menuliskan karyanya, namun juga menjadi rujukan bagi para pembaca yang ingin menelusuri kebenaran data, informasi, atau teori yang dipaparkan oleh penulis. Untuk itu, seorang penulis karya ilmiah harus menguasai tata cara penulisan daftar pustaka yang benar.
Dengan semakin banyaknya sumber informasi, tata cara penulisan daftar pustaka juga harus menyesuaikan dengan sumber informasi tersebut. Kalau sumbernya dari internet, jangan tuliskan hanya berasal dari internet atau dari Google. Google adalah mesin pencari informasi. Jadi tidak bisa daftar pustaka hanya diisi dengan kata-kata ‘berasal dari internet (Google). Harus ada nama domain di mana sumber informasi itu didapatkan. Misalnya, http://www.anneahira.com/tata-cara-penulisan-daftar-pustaka.htm (diakses pada tanggal 27 Juni 2012).
Penyebutan nama domain itu selain merupakan cara menghargai karya seseorang juga karena begitulah etikanya. Apa pun yang didapatkan secara gratis atau membayar kalau itu bukan karya sendiri, cantumkanlah sumbernya. Jangankan tata cara penulisan daftar pustaka yang harus tepat, ketika mengambil status seorang teman di facebook, selain meminta izin yang bersangkutan, juga jangan lupa mencantumkan nama teman itu distatus yang disalin tersebut. Misalnya, ‘dari status Mbak heriyati hademat hademat’ atau ‘dari link yang diunggah oleh Bapak Ali’.
Pencantuman nama sumber itu merupakan satu cara penghargaan dan penghormatan terhadap apa yang telah dilakukan oleh orang lain. Penghargaan ini sangat penting sebagai salah satu pengakuan keberadaan seseorang dan menjaga perasaan orang tersebut. Kalau seseorang mengambil milik orang lain tanpa izin, sama saja orang tersebut mencuri. Begitu pun status facebook yang disalin tanpa minta izin dan tanpa mencantumkan sumbernya, orang yang statusnya diambil pasti akan merasa sakit hati. Apalagi kalau ada komen yang tidak berkenan di hati. Orang tersebut pasti jadi serba salah.
Sepatutnya memang tata cara pencantuman nama baik itu berupa daftar pustaka ataupun dalam bidang dan hal apa pun perlu dilakukan agar hubungan pertemanan dan harga diri yang telah menulis tidak terampas dan tercabik-cabik begitu saja. Orang yang tak mencantumkan sumber informasi yang sesungguhnya bisa dianggap sebagai seorang ‘pencuri’ dan berhati tinggi karena tidak tahu bagaimana menghargai hasil karya orang lain.
Unsur-Unsur Dalam Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka
Meskipun sering terdapat perbedaan pada tata cara penulisan daftar pustaka antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain atau antara suatu lembaga dengan lembaga lain, namun ada unsur-unsur yang harus selalu ada dalam sebuah daftar pustaka.
Tata cara penulisan daftar pustaka yang benar harus mencantumkan unsur-unsur sebagai berikut:
- Nama pengarang
Sebuah buku bisa ditulis oleh satu orang atau lebih. Jika sebuah buku ditulis oleh lebih dari tiga orang pengarang, maka cukup ambil tiga nama teratas atau nama penanggung jawab buku tersebut (penyusun atau editor).
Jika sebuah buku merupakan kompilasi (antologi) tulisan dari banyak penulis, sebutkan nama penulis yang artikelnya dalam buku itu dikutip serta nama penanggung jawab / penyusun / editor buku tersebut.
Meskipun tidak semua suku di Indonesia memliki marga atau nama keluarga, teknis penulisan nama pengarang tetap mengikuti aturan yang berlaku universal di seluruh dunia, yaitu ditulis terbalik. Nama belakang disebut terlebih dahulu, baru kemudian nama depan. Misalnya, Triani Retno A. Di dalam daftar pustaka, nama ini ditulis sebagai Retno A.Triani. Pengecualian untuk nama-nama dari negara tertentu yang mencantumkan nama marga di depan nama pribadi seperti Cina. Untuk nama seperti ini, aturan pembalikan nama tidak berlaku. Misalnya: Lee Kuan Yew. Di dalam daftar pustaka ditulis sebagai Lee, Kuan Yew. Beda kalau nama seorang penulis hanya terdiri dari satu kata. Maka tata cara penulisan daftar pustakanya akan lebih mudah. Misalnya, Heriyati.
- Nama penerjemah
Cara penulisan untuk nama penerjemah buku ini pun sama seperti cara penulisan nama pengarang. Misalnya: Rini Nurul Badariah. Di dalam daftar pustaka nama ini ditulis sebagai Badariah, Rini Nurul.
- Tahun terbit buku
Cantumkan tahun terbit buku yang dijadikan bahan acuan.
- Judul buku
Cantumkan judul lengkap buku, meliputi judul utama dan anak judul. Di dalam daftar pustaka, judul buku ini ditulis dengan huruf miring (italic).
- Jilid dan edisi
Cantumkan jilid dan edisi buku yang dijadikan bahan acuan. Misalnya: jilid 1, jilid 2, edisi 3, dan seterusnya.
- Kota terbit
Cantumkan nama kota di mana buku diterbitkan.
- Nama penerbit
Cantumkan nama penerbit buku. Dalam teknis penulisannya, hilangkan kata-kata seperti PT, CV, Firma, The, dan sebagainya yang terletak di depan nama penerbit.
- Alfabetis
Daftar pustaka disusun secara alfabetis (setelah pembalikan nama). Jika ada lebih dari satu buku oleh pengarang yang sama, perhatikan tahun terbit buku. Buku yang usia terbitnya lebih tua, dicantumkan lebih dahulu.
Contoh Tata Cara Penulisan Daftar Pustaka
Berikut beberapa contoh tata cara penulisan daftar pustaka. Perhatikan pula pemakaian tanda titik, koma, dan titik dua.
Dell, Diana dan Erem, Suzan. Penerjemah Verin, Atta. 2008. Siapkah Aku Menjadi Ibu? Jakarta: Serambi.
Retno A, Triani. 2009. 25 Curhat Calon Penulis Beken. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Retno A, Triani. 2010. Quantum Reading for Kids: Agar Anak Gila Baca. Jakarta: Luxima.
Utami, Nunik. 2010. Gue Bisa Jadi Nomor Satu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kalau sumber informasi itu berasal dari sebuah surat elektronik, lalu bagaimanakah tata cara penulisan daftar pustaka yang benar? Tuliskan dahulu nama pembuat tulisan atau artikel tersebut. Lalu judul artikel dan alamat surat elektroniknya serta kapan melakukan akese terhadap artikel tersebut. Misalnya, Malik, Kadum. “Derita Orang-orang Berlumur Dosa.” kadum@Tanjunggunung.com (diakses tanggal 20 Juni 2012).
Bagaimana pula kalau sumber informasi itu berupa hasil penelitian yang tidak diterbitkan dan hanya dipakai dalam lingkungan terbatas. Apa pun sumber informasi itu harus dicantumkan. Tata cara penulisan daftar pustaka untuk sumber informasi yang tidak diterbitkan dan hanya dipakai di lingkungan terbatas adalah seperti ini. Misalnya, Heriyati. 2010. Self-Determined Scoring – Helping Students Improve Their Performance. Yogyakarta: LIA Yogyakarta (dipakai di lingkungan LBPP LIA).
Berapa Banyak Sumber Informasi yang Harus dimasukkan dalam Daftar Pustaka?
Para penulis pemula sering bingung menentukan berapa jumlah buku atau sumber informasi yang harus dimasukkan ke dalam daftar pustaka. Terkadang ada yang menentukan paling tidak ada tiga buah buku dengan topik yang sesuai dengan pembahasan. Tetapi ada juga yang tidak menentukan berapa banyak jumlah sumber infromasi yang dibutuhkan. Asalkan ada sumber informasi yang dimasukan ke dalam daftar pustaka atau references.
Hal tersebut berlaku juga untuk tata cara penulisan daftar pustaka dibuku yang akan diterbitkan. Ada pihak penerbit yang menginginkan minimal dicantumkan tiga atau beberapa buah daftar pustaka yang bersumber dari buku-buku sejenis. Namun, ada juga penerbit yang tidak terlalu peduli apakah penulis mencantumkan daftar pustaka dari buku atau dari sumber lain. Semuanya tergantung penulis yang bersangkutan. Yang paling utama adalah isi buku yang bermanfaat bagi para pembaca dan dianggap mempunyai daya jual tinggi. Semua isi adalah tanggung jawab penulisnya sendiri.
Adanya daftra pustaka ini juga untuk mengantisipasi tuntutan dari pihak lain yang merasa dirugikan. Bagaimana pun sebuah buku atau sebuah karya tulis apa pun, pastilah telah melalui sebuah proses yang panjang yang membutuhkan energi, pemikiran, waktu, dan upaya-upaya lainnya. Bagi seorang penulis, bila karyanya dibaca dan diambil orang, sebenarnya tidak menjadi masalah. Yang penting adalah adanya pengakuan kalau orang yang mengambil atau mencuplik karyanya itu memberikan pengakuan atas karya tersebut.
Kalau dikatakan Tuhan tak tidur dan amal pasti tak akan tertukar, benar adanya. Namun, ada tata cara penulisan daftar pustaka yang akan membuat semua pihak merasa dihargai dan dihormati.

