Tattoo dan Piercing, Seni yang Menyeramkan

Melihat seseorang dengan badan yang dipenuhi tattoo dan piercing mungkin akan membuat seseorang merasa takut. Mengapa? Karena di Indonesia, yang mayoritas beragama islam, budaya tattoo dan piercing ini memiliki image yang sangat negatif. Entah budaya ini ditanamkan oleh siapa, yang jelas orang bertattoo di Indonesia selalu diidentikan dengan seseorang yang jahat dan brutal.
Ya, Islam sangat melarang umatnya untuk memiliki tattoo. Alasannya jelas. Tattoo yang digambar di atas permukaan kulit akan menghalangi air wudhu yang akan mensucikan seorang muslim ketika hendak melakukan ibadah shalat. Terhalanginya pori-pori kulit oleh tinta tattoo ini membuat wudhu menjadi tidak sah. Jika wudhunya saja tidak sah apalagi shalatnya.
Namun terlepas dari masalah agama, sejarah tattoo pun mungkin sedikit banyak membentuk paradigma negatif masyarakat untuk para kolektor (sebutaan untuk pemilik tattoo dan piercing). Untuk itu, artikel ini akan membahas mengenai seluk beluk tentang tattoo, termasuk sejarah awalnya, karena tidak semua tattoo berarti memiliki arti negatif.
Sejarah Tattoo
Istilah tattoo berasal dari bahasa Tahiti, yakni “tatu” yang artinya tanda. Suku-suku zaman dahulu menganggap tattoo adalah ritual suku mereka. Alasan mereka membuat tattoo adalah untuk memberikan tanda. Sebagai contoh, bangsa Yunani Kuno memakai tattoo untuk menandai anggota intelegen atau mata-mata mereka.
Sementara Bangsa Romawi memakiai tattoo untuk menandai tubuh para budak dan tahanan. Di New Zealand, tattoo yang digambar spiral pada muka da pantat merupakan symbol seseorang yang berasal dari keturunan yang baik. Di Solomon, tattoo dilukis pada wajah wanita yang telah memasuki tahapan umur dewasa, dan bagi Suku Indian, tattoo adalah pembeda status sosial seseorang.
Di Indonesia, kebudayaan bertattoo ini sudah dikenal sejak dahulu. Tepatnya oleh orang-orang mentawai, Suku Dayak di Kalimantan, dan suku Sumba di NTB. Mereka memanandang tattoo dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Bagi suku dayak misalnya, orang yang memiliki tattoo di tangannya berarti pernah memenggal kepala musuhnya.
Lain di Suku Dayak, lain pula yang terjadi di suku mentawai. Tattoo bagi suku mentawai tidak dibuat sembarangan. Ada tradisi dan ritual khusus yang dilakukan sebelum menandai seorang lelaki yang telah beranjak dewasa. Tradisi itu dinamakan Panen Enegaf alias upacara inisiasi yang dipimpin oleh Sikerei atau dukun suku Mentawai.
Tattoo adalah Seni
Meski tergolong menyeramkan, sebenarnya tattoo adalah salah satu bentuk seni. Seni menggambar tubuh. Ini adalah seni dengan citarasa tinggi karena hanya bisa dilakukan di atas media gambar khusus, yakni permukaan kulit. Pemberi dan penerima tattoo adalah orang-orang yang memilki penghormatan tinggi terhadap karya seni.
Oleh karena itulah, jangan heran jika saat ini semkin banyak orang yang memiliki tattoo di tubuhnya. Saat ini tattoo adalah budaya masyarakat, namun sayang, terkadang keberadaan tattoo di tubuh seseorang masih sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Keberadaan tattoo sebagi seni ataupun bukan memang tergantung pada pemiliknya masing-masing.






