logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Pendidikan    Ilmu Pendidikan    Artikel Umum Ilmu Pendidikan    Teater

Seni Teater dari Legenda Yunani Kuno yang Mendunia

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Teater sudah tidak asing lagi ditelinga kita, karena kita sudah mempelajarinya sejak di bangku sekolah. Bahkan di antara kita sudah pernah melakukan pementasan teater di sekolah dulu. Pementasan teater sekilas hampir mirip dengan pementasan drama tetapi sebenarnya tidak sama.

Banyak yang beranggapan pementasan teater tersebut membosankan karena harus dilihat di atas pentas bukannya bisa dilihat melalui tayangan televisi. Selain itu, pementasan teater dilakukan apa adanya sesuai dengan karakter yang dibawakan oleh pemain teater, sehingga pementasan teater ini jarang mendapat apresiasi dari masyarakat. Teater meskipun dalam pementasannya para pemain tampil apa adanya, bila kita cermati banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari pementasan teater ini.

Tidak hanya film, lagu, puisi, drama dan karya sastra lainnya saja yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat, tetapi teater juga bisa memberikan efek yang cukup dahsyat untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Penampilan dalam pementasan teater yang terkesan apa adanya, seperti pakaian yang compang-camping, bahasa tubuh yang sangat jelas, dialog yang sarat makna, membuat seni pertunjukkan teater dapat memberikan efek dahsyat bagi penontonnya.

Teater – Menilik Sejarah Singkat Teater dari Yunani Kuno dan Roma

Teater berasal dari Yunani kuno yang ditandai dengan peninggalan panggung teater di Yunani. Berdasarkan cerita legenda yang berkembang seni pertunjukkan teater di Yunani pertama kali dipentaskan oleh seorang Yunani yang bernama Thespis. Thespis pada waktu itu memiliki sebuah ide untuk menambahkan seorang aktor dalam pertunjukkan Shorus dan tarian di Yunani. Penambahan aktor dalam pertunjukkan Chorus tersebut disebut sebagai thespians. Thespians sebutan untuk aktor ini berkembang di Yunani dan mereka menyebut semua aktor dengan thespians. 

Seni pertunjukkan teater di Yunani dibuktikan dengan adanya sebuah bangunan peninggalan berupa panggung teater yang bernama Dyonisus di Acropolis, Athena. Semula panggung teater ini berisikan altar dan sebuah kuil, namun lama-kelamaan berubah fungsi menjadi panggung yang berbentuk setengah lingkaran dan digunakan untuk mementaskan pertunjukkan teater. Bentuk panggung teater dari Acropolis ini mengilhami pembangunan panggung pementasan teater.

Mayoritas, panggung pementasan teater berbentuk setengah lingkaran. Desain panggung teater Dyonisius di Yunani sengaja dibuat berbentuk setengah lingkaran supaya bisa dilihat dari banyak penjuru, karena jajaran tempat duduk para penontonnya juga melingkar. Mengapa desain panggung teater Dyonisius dibuat setengah lingkaran, sudah tentu ada alasannya. Panggung teater yang setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton yang melingkar tersebut supaya komunikasi antara pemain orkestra dengan konduktor jelas. Selain itu, alasan lainnya karena secara akustik susunan panggung seperti itu bisa membantu penonton dan pemain menikmati pementasan teater karena pementasan teater pada saat itu belum menggunakan pengeras suara.

Teknik pementasan teater pada masa Yunani kuno ini mengilhami pementasan teater di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Teknik pementasan teater tersebut didapat pada saat pementasan teater berlangsung, sebagai berikut:

  • Panggung teater Dyonisius berjarak cukup jauh, hampir sepanjang 10 meter dengan jarak tempat duduk dan pandang penonton. Jika penonton teater mencapai jumlah 10 ribu orang, agak sulit bagi pemain teater untuk menampilkan ekspresi wajah mereka ketika berakting. Lalu mereka menggunakan bahasa tubuh untuk menjelaskannya pada penonton.
  • Supaya ekspresi karakter pemain teater terlihat jelas, mereka menggunakan topeng yang disertai dengan gerakan tubuh.
  • Teknik selanjutnya adalah untuk menampilkan efek terbang seperti Pegasus, digunakan sistem mekanisme di mana seorang pemain teater muncul di panggung dari posisi bawah. 

Tidak hanya berhenti sampai di Yunani, khususnya panggung Dyonisius di Acropolis, teater juga berkembang di Roma. Jadi bukan Acropolis saja yang memiliki panggung teater, Roma pun juga memiliki panggung teater. Perkembangan teater di Roma ini merupakan pengaruh awal dari seni teater Yunani Kuno, khususnya di daratan Eropa. Dengan kata lain Roma merupakan kota pertama yang menerapkan seni pertunjukkan teater dari Yunani di dunia.

Seni teater Roma yang berkembang tidak berarti sama persis dengan seni teater Yunani Kuno, meskipun seni teater Roma berkembang dipengaruhi oleh seni teater Yunani. Seni teater Roma pementasannya lebih sekuler. Adapun tema-tema yang diangkat ke dalam pementasan teater Roma ini adalah pantomim dan komedi, yang menggunakan karakter dan humor slapstick. Bagaimana dengan panggung teater Roma ini? Apakah juga sama dengan panggung teater Yunani Kuno? Ternyata tata letak dan desain panggung teater Roma tidak sama dengan Yunani Kuno.

Panggung teater Roma terbuat dari kayu dan didesain bisa berpindah tempat. Mengapa panggung teater Roma berpindah tempat? Menurut sejarahnya, pemerintah Roma pada waktu itu melarang pembuatan panggung teater dari beton. Pembuatan panggung teater dilarang menggunakan beton tidak berjalan lama. Hingga akhirnya Pompei The Great membangun teater Roma yang diberi nama Theater of Pompey, yang disamarkan terlihat seperti kuil untuk Venus. Theater of Pompey tersebut banyak ditiru, sehingga banyak sekali ditemukan bangunan panggung teater di Roma.

Selain itu ada juga perbedaan yang dapat dilihat antara panggung teater Yunani Kuno dengan Roma. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari penataan panggung teater Roma menggunakan sistem yang sedikit lebih rumit dari penataan panggung teater Yunani, berupa pintu rahasia dan lorong bawah tanah dalam panggung teater Roma.

Teater – Pertunjukkan Seni Teater di Indonesia

Sejarah seni teater bermula dari Yunani Kuno hingga berkembang ke seluruh dunia. Tentu saja perkembangan seni teater tersebut juga merambah sampai ke Indonesia. Setiap negara memiliki tradisinya masing-masing dalam mengembangkan seni teater, termasuk di Indonesia. Jika di Yunani Kuno dan Roma perkembangan seni teater lebih menonjol dari segi penataan panggung, di Indonesia lebih menonjolkan seni teater yang disesuaikan dengan tradisi budaya Indonesia.

Sebenarnya seni teater secara implisit sudah kita kembangkan di Indonesia, sebagai salah satu contohnya adalah seni pertunjukkan wayang. Hanya saja seni pertunjukkan wayang tersebut penokohannya berupa benda mati yang dimainkan oleh seorang dalang. Lalu bagaimana sebenarnya perkembangan seni teater yang masih memiliki unsur seni teater seperti yang ada di Yunani dan Roma di Indonesia? Berikut beberapa bentuk seni teater yang berkembang di Indonesia, dilihat dari pendukungnya:

Seni Teater Rakyat. Seni pertunjukkan teater rakyat ini merupakan seni pertunjukkan di mana masyarakat di pedesaan yang menjadi pendukungnya. Oleh karena rakyat yang memegang peran, seni teater ini tidak mengikat, spontan dan penuh improvisasi. Teater ini seperti ketoprak, lenong juga ludruk.

Seni Teater Keraton. Seni pertunjukkan teater keraton ini dikembangkan khusus oleh lingkungan keraton atau kaum bangsawan, sehingga pertunjukkannya hanya untuk kalangan tertentu. Seni teater keraton ini memiliki daya artistik yang sangat tinggi, tema ceritanya pun bersumber dari pengalaman hidup para bangsawan, dewa-dewa, keluarga raja, misalnya pertunjukkan wayang.

Seni Teater Urban. Seni pertunjukkan teater urban ini merupakan perpaduan antara seni teater rakyat dan teater keraton. Seni teater ini muncul akibat dari pertumbuhan dan arus perpindahan masyarakat sebagai tanda produk serta kebutuhan yang baru. Seni pertunjukkan teaternya menampilkan fenomena yang lebih modern.

Seni Teater Kontemporer. Seni pertunjukkan teater kontemporer ini menyajikan pertunjukkan atas nama diri yang mengembangkan kreatifitas terpendam dan tanpa batas. Seni teater ini sifatnya eksklusif karena pendukungnya adalah orang-orang yang memang menggeluti teater secara profesional. Seni pertunjukkan teater yang ditampilkan pun lebih beragam dan variatif, serta menyoroti sisi lain kehidupan manusia.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Serba-serbi Penelitian Pendidikan
  • Mengenal Manajemen Pendidikan dan Sasarannya
  • Menantangnya Permainan Matematika untuk Anak-anak
  • Mengenali Berbagai Contoh Paragraf Induksi
  • Narrative Text in English: Stories
  • Hakikat Pendidikan dalam Pidato Tentang Pendidikan
  • Pentingnya Belajar English Conversation
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA