logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Karya Ilmiah    Penulisan Karya Ilmiah

Teknik Penulisan Makalah yang Baik


Ilustrasi teknik penulisan makalah

Bagi Anda yang duduk di bangku kuliah, menulis makalah merupakan salah satu bagian dari tugas yang wajib Anda lakukan. Tidak ada teknik penulisan makalah yang baku, tetapi Anda bisa mempelajari beberapa hal utama dalam membuat suatu makalah. Dengan mengetahui hal-hal penting ini, Anda akan dapat menulis makalah dengan baik dan benar.

Pada dasarnya makalah akan menjadi penguji kemampuan dan pengetahuan Anda. Tentu sangat disayangkan jika Anda tidak mampu menulis makalah dengan baik, sehingga penilaian atas apa yang Anda lakukan tidak maksimal.

Suatu penelitian yang baik dan sukses akan dapat bertambah sukses jika makalah yang mengulas penelitian itu dapat dipahami dengan baik oleh pembacanya. Anda akan bisa memperoleh nilai maksimal dengan makalah yang baik. Oleh karena itu mempelajari teknik penulisan makalah yang baik sangat penting demi keberhasilan studi Anda.

Isi Pokok Sebuah Makalah

Pada dasarnya sebuah makalah terdiri dari tiga bagian besar, yaitu pendahuluan, isi dan penutup. Pendahuluan di dalam suatu makalah merupakan latar belakang dari penelitian yang Anda lakukan.

Di bagian ini, Anda bisa mendeskripsikan secara lengkap dasar-dasar penelitian dan selayang pandang isi makalah yang Anda tulis. Anda juga bisa menambahkan suatu bagian yang disebut abstrak untuk memberikan gambaran secara umum isi dari makalah Anda.

Di bagian isi barulah Anda memaparkan segala hal yang telah Anda lakukan menyangkut penelitian Anda. Anda bisa gambarkan pula metode penelitian yang Anda gunakan dalam menjalankan penelitian. Inti pembahasan berada di bagian ini.

Jika Anda merasa begitu banyak hal yang akan disampaikan, maka Anda bisa memecah bagian isi ini menjadi beberapa bagian dan menjelaskannya satu per satu. Namun yang harus Anda perhatikan adalah usahakan untuk menulis makalah secara runut dan saling terkait satu bagian dengan bagian lainnya.

Teknik penulisan makalah yang selanjutnya adalah pada bagian penutup atau yang sering disebut dengan kesimpulan. Di bagian ini, Anda menarik suatu kesimpulan dari hasil pemaparan yang Anda tulis di bagian isi. Sebaiknya bagian kesimpulan ini singkat dan jelas, namun tetap dengan argumentasi dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Untuk melengkapi makalah yang Anda tulis, Sebaiknya Anda juga mencantumkan berbagai referensi yang Anda gunakan dalam daftar pustaka. Teknik penulisan makalah yang baik juga terkait dengan pembuatan daftar pustaka yang benar. Ada tata cara yang harus Anda taati saat membuat daftar pustaka. Di dalam daftar pustaka, Anda harus mencantumkan secara lengkap nama penulis, tahun terbit, judul buku dan penerbit buku tersebut.

Dengan mengetahui teknik penulisan makalah yang baik, hasil penelitian Anda akan benar-benar bermanfaat bagi orang lain. Yang terpenting adalah isi makalah Anda harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan kebenaran isinya. Dengan demikian fakta dan data harus menjadi dasar di dalam setiap makalah yang Anda tulis.

Contoh Pendahuluan dalam Makalah

Untuk membuat sebuah pendahuluan yang baik dalam sebuah makalah, setidaknya Anda harus mengemukakan beberapa alasan penting mengapa mengangkat tema yang akan dibuat dalam makalah.

Dalam pendahuluan menurut teknik penulisan makalah, memuat unsur latar belakang mengapa Anda tertarik untuk mengangkat sebuah permasalahan ke dalam makalah. Untuk lebih jelasnya bisa Anda lihat dalam pendahuluan sebuah makalah dengan tema perempuan dan media berikut.

Pendahuluan

Perempuan dan media seakan tidak pernah habis untuk dibahas, terutama kaitannya dengan eksploitasi perempuan dalam media iklan. Perempuan seolah-olah yang menjadi tulang punggung dalam keberhasilan sebuah iklan.

Iklan saat ini juga mengalami bias fungsi yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai media atau sarana mempromosikan sebuah produk ke tengah masyarakat, seakan kehilangan ide untuk membuat iklan yang “baik” tanpa memasukkan unsur ekploitasi perempuan di dalamnya.

Kondisi ini semakin sering kita lihat dalam tayangan iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Mayoritas masyarakat memiliki televisi di rumah masing-masing, sehingga mereka lebih akrab dengan iklan televisi. Hampir semua produk iklan menampilkan sosok perempuan di dalamnya, tidak terkecuali iklan produk yang dikhususkan untuk kaum laki-laki.

Fenomena ini sebenarnya bukanlah barang baru, sudah lama kita perhatikan banyak sekali iklan yang ditayangkan terkesan mengekploitasi sekaligus memojokkan perempuan. Ironisnya, perempuan sendiri seolah-olah dibutakan oleh terpaan iklan-iklan yang melenakan mereka dari jeratan ekploitasi kaumnya sendiri.

Mengapa perempuan yang saat ini menjadi marak dijadikan sebagai komoditi dari sebuah iklan? Mungkin hal ini terjadi sebagaimana yang dikatakan oleh Nanik Ismiani (1997), dalam artikel Estetika dan Mitos Perempuan dalam Iklan untuk sebuah iklan produk, biasanya perempuan yang dipilih karena kriteria keindahannya, perempuan sering menjadi sumber inspirasi, termasuk dalam melahirkan sebuah produk.

Dari pihak pengiklan sendiri pun turut andil dalam memperkenalkan sosok perempuan dalam iklannya, karena berpandangan dengan menggunakan sosok perempuan dalam ilustrasi sebuah iklan, merupakan satu tuntutan estetika untuk mencuri perhatian konsumen.

Dibalik kemasannya yang bagus, iklan memberikan banyak hal yang bisa kita pelajari, termasuk isu perempuan di dalamnya seperti ekploitasi, objek kekerasan, gaya hedonisme, konsumtif, bahasa, pencitraan, stereotip.

Memang sekilas tidak ada yang salah dalam setiap tayangan iklan di televisi, semuanya menayangkan produk yang akan dijual ke pasaran. Namun, ada hal-hal sensitif yang tersembunyi dalam sebuah iklan, terutama iklan yang menggunakan perempuan sebagai modelnya.

Bahkan tidak jarang juga perempuan seperti dipaksakan untuk menjadi salah satu pendukung dalam iklan, seperti iklan otomotif. Lalu bagaimana sebenarnya iklan bisa menyulutkan isu-isu tersebut? Bagaimana iklan itu bisa ada dan berkembang hingga saat ini? Kita akan melihat bagaimana iklan dapat membentuk stereotip dalam masyarakat mengenai dunia perempuan.

Contoh Isi Makalah

Lalu bagaimana dengan isi makalah atau penjelasan mengenai permasalahan yang akan dibahas dalam makalah? Menurut teknik penulisan makalah, dalam bagian isi makalah dibuat sesuai dengan kaidah dan sistematika penulisan dalam karya ilmiah.

Bagian isi harus dilengkapi dengan referensi atau sumber bacaan yang kita gunakan untuk memperkuar argumentasi dalam permasalahan dalam makalah. Bagaimana isi makalah yang baik itu? Bisa Anda lihat dalam contoh bagian isi makalah berikut, masih tentang perempuan dan media.

Sejarah dan Perkembangan Iklan

Iklan bagaikan sebuah dunia magis yang dapat mengubah komoditas ke dalam gemerlapan yang memikat dan mempesona. Iklan merupakan sebuah sistem yang keluar dari imajinasi dan muncul ke dalam dunia nyata melalui media (Raymon Williams, 1993: 320).

Iklan televisi memiliki dasar yang kuat, di mana iklan televisi telah mengangkat medium iklan ke dalam konteks yang sangat kompleks tetapi jelas, berimajinasi namun kontekstual, penuh dengan fantasi namun nyata. Sesungguhnya copywriter dan visualizer yang mengerjakan iklan yang paling besar pengaruhnya dalam memberi nuansa ”hidup” kepada iklan televisi yang dibuatnya.

Para profesional iklan inilah yang mengubah realitas sosial atau bahkan mereproduksi realitas sosial dan mengomunikasikan dalam bahasa informasi kepada khalayak, sehingga realitas itu tidak hanya sekadar menjadi realitas iklan televisi, namun menjadi realitas informasi-komunikasi yang sarat dengan muatan-muatan konstruksi sosial dan setiap saat membentuk imajinasi dan kognitif audiens.

Sementara itu Bovee dalam Advertising Excellence mendeskripsikan iklan sebagai sebuah proses komunikasi, di mana terdapat orang yang disebut sebagai sumber munculnya ide iklan, media sebagai medium iklan, dan audiens yang dituju (Bovee, 1995: 14).

Secara garis besar bentuk-bentuk iklan terdiri dari beberapa jenis yang digolongkan menjadi tujuh kategori utama, yaitu (1) iklan konsumen; (2) iklan antarbisnis; (3) iklan perdagangan; (4) iklan eceran; (5) iklan keuangan; (6) iklan langsung; dan (7) iklan rekrutmen (Frank Jefkins, 1996: 39).

Secara lebih umum, klasifikasi iklan dapat dikategorikan berdasarkan target audiens, wilayah, pemilihan media, dan tujuan. Iklan menurut Bovee dapat diklasifikasikan berdasarkan empat kategori, yaitu (1) target audiens; pemakai, atau bisnis seperti industrial, perdagangan, profesional, dan pertanian; (2) wilayah geografis; internasional, nasional, regional, atau lokal; (3) penggunaan media; media cetak seperti koran, majalah; media elektronik seperti radio, televisi; media luar rumah seperti poster, buletin; direct mail; directori, dan media lainnya (Bovee, 1995: 5).

Perkembangan Iklan di Indonesia

Lalu bagaimana perkembangan iklan di Indonesia? Apakah juga sama dengan perkembangan iklan yang terjadi pada masa zaman Yunani dan Romawi? Di Indonesia sendiri iklan sudah dikenal cukup luas oleh masyarakat melalui surat kabar sejak 100 tahun yang lalu.

Waktu itu iklan yang muncul di surat kabar dinamakan dengan “Pemberitahoewan”. Iklan yang bisa dilihat waktu itu yang dimuat di surat kabar “Tjahaja Sijang” yang diterbitkan di Manado tahun 1869, dan surat kabar “De Locomotief” yang terbit pada tahun 1864. (Kasali, 1995: 8).

Perkembangan iklan di Indonesia mengikuti model sejarah pekembangan iklan pada umumnya, yaitu seirama dan sejalan dengan perkembangan media massa. Awal masyarakat Indonesia mengenal iklan modern dari surat kabar, karena masyarakat baru mengenal surat kabar, baru kemudian masyarakat Indonesia sudah mengenal radio maka lahirlah iklan radio, dan sejuruh kemudian masuk televisi, maka lahirlah iklan televisi.

Pada tahun 1960-an banyak bentuk media yang lahir dalam masyarakat dengan berbagai bentuk dan jenisnya, sehingga iklan pun bisa berkembang dengan sangat pesat. Para pengguna jasa iklan pun lebih mudah dan bebas memilih media mana yang akan mereka gunakan berdasarkan pertimbangan dari segmen dan anggaran yang tersedia.

Sehingga konsekuensi logisnya iklan pun berkembang tidak hanya terbatas dari jenis media yang digunakan, tetapi iklan juga berkembang berdasarkan jenis kebutuhan masyarakat terhadap media yang digunakan, dan ketersediaan dana terhadap dana periklanan.

Sehingga turut menentukan ragam jenis iklan dalam sebuah media, seperti contoh lahirnya iklan “kecik di SCTV”, “iklan baris” di surat kabar, “Promo Ad” di televisi, serta “ad lip” di media radio.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kiat Penulisan dan Daftar Judul Skripsi Akuntansi
  • Strategi Membaca dan Merekam Hasil Baca Karangan Ilmiah
  • Pengertian Riset dan Karya Ilmiah
  • Pengetahuan Bahan Kain
  • Kata Pengantar Sebuah Makalah: Jendela Kecil Juga Salam Hangat - ANNEA
  • Resensi Novel Laskar Pelangi yang Fenomenal
  • Cara Menulis Daftar Pustaka
  • Pengertian Artikel dan Cara Penulisannya
  • Metodologi Penelitian Kualitatif
  • Cara Menulis Daftar Pustaka dari Berbagai Sumber
  • Sampel dalam Metode Penelitian Kuantitatif
  • Metodologi Penelitian dan Pengembangan Ilmiah
  • Buku Pengetahuan Populer
  • Contoh Pendahuluan Karya Tulis
  • Memilih Judul Karya Tulis Ilmiah
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA