Teknologi Militer Iran: Menanti Nuklir
Ilustrasi teknologi militer iran
Teknologi Militer Iran adalah yang serba tanggung. Jika Dr. Ali Syari’ati masih hidup, dia akan menatap Iran dengan penuh kesedihan. Filsuf modern terbesar dari Iran itu, melewatkan momentum sejarah, ketika Iran menjadi Republik Islam dan dipimpin dengan tangan besi oleh para Mullah, dengan wilayah faqihnya. Namun tentu saja Iran terus berbenah, dan terakhir termasuk memiliki kemampuan yang baik dalam mengembangkan nuklir. Tidak mengherankan bila negara-negara Barat yang dipresentasikan Amerika, selalu menaruh curiga Iran telah mencuri start kesepakatan-kesepakan dalam hal pengembangan teknologi nuklir. Sekalipun Iran mengaku bahwa pengembangan teknologi nuklir tersebut untuk sumber energi dan bukan digunakan untuk senjata perang, Amerika tetap saja tidak percaya sehingga akhirnya dikeluarkan berbagai embargo untuk mengisolasi Iran dari percaturan dunia.
Dibanding negara-negara di kawasan teluk lainnya, Iran termasuk negara yang public relations-nya di dunia termasuk buruk. Sehingga menjadikan Iran sebagai negara yang paling dicurigai negara Barat. Apapun yang Iran lakukan selalu salah. Segala tudingan miring, selalu dialamatkan kepada negerinya Ahmadinejad ini. Walhasil, Iran menjadi negara paling banyak dirugikan.
Namun diakui atau tidak, sebenarnya sebagai sebuah negara dengan warga negaranya yang memiliki daya tahan paling baik di dunia. Sehingga embargo demi embargo dinikmati Iran dengan senyuman pahit. Yang lebih miris tentu saja embargo senjata. Pada saat perang Irak-Iran yang tidak seimbang, pada saat itu Irak dipasok sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Sementara Iran bertahan dengan bantuan persenjataan yang ‘sinis’ dari Rusia, tidak ada pesawat tempur, tidak ada alat intelejen. Tapi karena memiliki daya tahan yang baik, pada akhirnya Iran tidak harus kocar-kacir karena kalah persenjataan.
Memang Shah Reza Pahlevi meninggalkan Iran dengan tentara yang terbesar nomer 4 di dunia pada masa itu. Namun, setelah Shah digulingkan Revolusi tentara Iran tercerai berai. Sehingga 21 divisi Irak membanjiri Khuzestan, selatan Iran. Sementara Iran menahannya dengan 13 divisi sisa pemerintahan Shah. Ini memang catatan pada saat berlangsungnya perang terbuka Irak-Iran yang tak terhitung berapa kegurian moril dan materil bagi kedua negara, dengan memperebutkan pepesan kosong sebenarnya.
Iran boleh saja kalah persenjataan pada berlangsung perang terbuka Irak-Iran, namun keterbatasan senjata tersebut berhasil diatasi dengan semangat tempur yang fanatic, sehingga melahirkan energi yang seolah tak ada habisnya. Ditambah pula dengan demoralisasi di tentara Irak sendiri yang setengah hati menyerang sesama muslim, beda dengan semangat Saddam yang sekuler. Maka kemudian perang terbuka itu tetap saja berlangsung lama sekalipun menurut pengamatan negara luar, perang Irak-Iran saat itu tak lama. Sejarah kemudian mencatat bahwa perang terbuka Irak-Iran tersebut berakhir imbang. Dari situasi tersebut yang mengalami kerugian dan menderita tentu saja rakyat, baik rakyat Iran maupun rakyat Irak. Setidaknya satu juta orang meninggal sia-sia akibat dari berlangsungnya perang terbuka kedua negara tersebut.
Buntut dari perang terbuka antara Iran dan Irak, yang membuat geram pemerintahan Republik Islam Iran adalah membanjirnya senjata dari Amerika ke negara Irak. Dari situasi inilah pemerintah Republik Islam Iran kemudian mengambil langkah untuk tidak bekerja sama dengan negara manapun dalam hal memenuhi persenjataan bagi angkatan bersenjata mereka. Republik Islam Iran memutuskan untuk memproduksi sendiri. Dan pada saat teknologi nuklir berhasil dikembangkan oleh para ahli Iran, mulailah Amerika dan negara-negara Barat ketar-ketir, jangan-jangan teknologi nuklir tersebut telah pula dipergunakan dalam mengembangkan persenjataan.
Kecurigan sekaligus kekhawatiran negara-negara barat terhadap masalah ini memang sangat beralasan. Persenjataan yang memanfaatkan teknologi nuklir merupakan pemusnah massal yang membahayakan siapa saja sampai puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke depan. Paparan radio aktif sebagai salah satu ekses dari senjata nuklir, terbukti sangat mengerikan. Orang tentu tak pernah lupa bagaimana bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki sebagai buntut Perang Dunia II, begitupun ketika kawasan nuklir Chernobyl meledak, kengerian itu masih tersisa sampai hari ini. Tapi apakah para ahli Iran yang telah berhasil mengembangkan teknologi nuklir itu juga mulai mempergunakannya untuk senjata ? Tak ada bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Tapi tentu saja bukan hal mustahil energi nuklir telah dikembangkan pada persenjataan Iran, sebagai sikap menentang Amerika dan negara-negara barat yang sok berkuasa dan sok ikut campur urusan dalam negeri negara lain.
Dipreteli dari Senjata Rampasan
Persenjataan bekas Amerika Serikat direnovasi dan dibentuk ulang, teknologi pesawat jet AS dipelajari. Iran lantas membuat pabrikan senjata sendiri, berkerjasama dengan Garda tentaranya. Tanggung memang, tapi selalu ada hasil. Hasilnya adalah HESA (pabrikan untuk pesawat tempur), Qods industri, untuk mendukung peralatan supportif penerbang, Sana-ey Electronik-e Iran mengembangkan teknologi semikonduktor yang merupakan komponen utama segala perlengkapan tempur. Keberhasilan ini menjadi titik balik penting bagi angkatan bersenjata Iran yang tidak lagi mengemis kepada negara lain untuk pasokan senjata. Dan lagi-lagi keberhasilan ini menimbulkan kekhawatiran yang kemudian disikapi secara berlebihan oleh Amerika dan negara-negara barat, tentang mengaplikasikan teknologi nuklir pada persenjatan Iran. Kalau ini memang benar-benar terjadi, yang khawatir sebenarnya tidak hanya Amerika dan negara-negara barat yang bisa menimbulkan Perang Dunia III, tapi juga negara-negara tetangga di kawasan teluk yang salam ini bergandengan tangan dengan Iran.
Shahid Shah Abhady Industrial Complex, memberikan sumbangsih untuk arhanud Iran, serta misil-misil dari darat ke udara. The Shahid Kolah Dooz Industrial Complex, menghasilkan armory Iran, seperti tank Zulfikar, Type-72Z Safir-74, semuanya merupakan adopsi dari teknologi tank yang berhasil dipelajari oleh ilmuwan Iran dari teknologi tank yang dikembangkan Amerika.
Keberhasilan para ilmuwan Iran dalam mengembangkan teknologi memang memiliki semangat yang sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu, ketika peradaban kawasan teluk sedang berkembang pesat. Semangat itu kemudian diadopsi oleh para ilmuwan Iran sekarang ini untuk mengatasi berbagai persoalan termasuk ancaman embargo dari negara-negara barat yang kerap kali dijatuhkan ke negaranya.
Sekali lagi keberhasilan-keberhasilan itu semakin membukakan mata negara-negara barat tentang keberhasilan Iran dalam mengembangkan teknologi nuklir. Siapa yang menjamin bahwa saat ini Iran belum memiliki kemampuan untuk membuat hulu ledak nuklir sendiri misalnya, sementara teknologinya sudah dikuasai. Bahkan sebaliknya jauh-jauh hari Iran telah menyiapkan hulu ledak nuklir tersebut seabagai alat negosiasi untuk perdamaian di Timur Tengah.
Satu bukti yang tidak bisa dipandang remeh oleh negara manapun adalah keberhasilan Iran memproduksi senjata misil yang jarak tempuhnya bisa mencapai Tel Aviv Israel, dan konon sampai mengacam negara barat seperti Polandia, dan Jerman. Misil-misil buatan instalasi angkatan bersenjata Iran, antara lain, Fajr-3, Shahab, Gahdar, Sajjil, dan Ashura. Dan tentu saja seluruh senjata misil tersebut hulu ledaknya bisa dipasangi nuklir. Jadi, kalau ada pengamat yang mengatakan bahwa senjata dan teknologi militer Iran serba tanggung, sebenarnya hanya tepat diterapkan untuk kondisi satu dekade setelah berakhirnya perang terbuka dengan Irak. Setelah itu Iran telah berubah dan benar-benar berubah.

