Menambah Teman dengan Jejaring Sosial
Ilustrasi teman
Selama kurun waktu kehidupan kita, pastinya kita hidup tidak sendiri. Selalu ada teman di sekitar kita. Ada teman di kala suka dan duka, teman dekat, atau teman yang hanya sekadar tahu nama atau kebetulan belajar di sekolah yang sama. Semenjak kecil, sebelum kita bersekolah mungkin kita mendapatkan teman dari lingkungan bermain, tetangga sekitar dan anak teman dari orang tua kita.
Beranjak ke usia sekolah, maka kita pun mengenal teman di sekolah. Bisa jadi teman satu kelas, kakak kelas, adik kelas, ataupun juga teman dari kegiatan ekstra kurikuler. Semakin sering kita aktif dalam berbagai kegiatan maka akan semakin banyak teman kita. Bahkan pada zaman dahulu bisa juga mendapatkan teman yang sama sekali tidak pernah bertemu langsung, yaitu sahabat pena.
Pertemanan versi sahabat pena dijalin dengan saling berkirim surat. Jenjang sekolah mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah umum pastinya akan menambah banyak perbendaharaan teman.
Hingga lulus sekolah, maka perpaduan teman semakin beragam. Kehidupan kampus atau perkuliahan memiliki arti tersendiri bagi kehidupan manusia. Pada usia muda, kebebasan mulai diraih, kampus yang diisi oleh berbagai macam manusia dari seluruh pelosok negeri tentunya membuat kita semakin kritis dalam memahami karakter teman yang semakin beragam. Apalagi jika aktif pula dalam berbagai kegiatan kampus.
Ditambah lagi dengan pergaulan antarkampus yang memungkinkan bertembahnya teman. Memasuki dunia kerja, maka jumlah teman pun semakin bertambah, apalagi bagi yang sudah sering bergonta-ganti pekerjaan atau melanjutkan pendidikan di jenjang perkuliahan yang lebih tinggi. Lalu bagaimana agar tali silaturahmi tidak terputus?
Menjalin Hubungan dengan Teman Melalui Kemajuan Teknologi
Pada zaman dahulu mungkin agak sulit untuk terus memelihara kontak seluruh teman yang ada. Tetapi semakin maju perkembangan zaman, maka dunia pun semakin terhubung. Di mulai dari adanya telepon seluler yang hampir dimiliki setiap orang. Maka komunikasi pun tidak terputus, karena sebelum berpisah atau selama berteman kita dapat bertukar nomor telepon.
Teknologi modern pun semakin berkembang dan makin membuat kita merasa selalu dekat dengan seluruh teman-teman. Bahkan dengan teman pertama sekalipun, entah itu teman kecil sepermainan atau teman sekolah dasar.
Sebab kini ada jejaring sosial. Dengan mudah kita dapat melakukan pencarian teman berdasarkan nama, atau keterangan lain yang merupakan koneksi Anda dalam menjalin pertemanan. Misalnya berdasarkan sekolah. Berikut ini akan dibahas mengenai beberapa jejaring sosial dan sekilas penggunaannya dalam kehidupan.
Menjalin Silaturahmi Dengan Teman Melalui Jejaring Sosial
Facebook merupakan situs jejaring sosial yang paling booming dan masih eksis hingga saat ini. Sebelum Facebook sudah ada beberapa situs pertemanan lain, di antaranya adalah Friendster dan MySpace. Sebelum membahas Facebook secara lebih mendalam, mari kita napak tilas terlebih dahulu mengenai Friendster.
Friendster merupakan jejaring sosial yang dibangun oleh Jonathan Abrams, seorang programer komputer pada tahun 2002. Hanya dalam beberapa bulan, anggota Friendster langsung mencapai tiga juta. Hal yang paling berkesan dari Friendster adalah testimonial dari para teman yang mendeskripsikan siapa kita. Hal ini jelas berbeda dengan wall yang ada di Facebook, walau pada Friendster sempat memiliki fitur sejenis.
Wall atau dinding pada awal kelahiran Friendster memang tidak ada, namun jika ingin mem-posting sesuatu yang dapat dilihat teman ada Bulletin Board. Isi Bulletin Board terkadang seperti pesan berantai, isinya pertanyaan-pertanyaan konyol yang isinya diubah menjadi versi kita. Zaman itu ketika kenalan dengan orang baru, terkadang sambil bertanya juga akun Friendster. Sebab dengan akun tersebut kita bisa menggali lebih dalam informasi mengenai teman tersebut.
Keunggulan Friendster dibanding Facebook selain testimonial adalah ada pemetaan akun seseorang, apakah dia teman mutual tingkat satu, tingkat dua atau tingkat tiga. Pada tingkat dua dan tingkat tiga akan tampak beberapa akun teman di antara akun orang tersebut. Sayangnya sejak Juni 2011 Friendster berhenti memosisikan diri sebagai jejaring sosial.
Anda tetap dapat melakukan login dengan akun yang lama, namun seluruh testimonial dari teman sudah hilang, begitu pula dengan foto-foto koleksi Anda. Kini Friendster sudah bermetamorfosis menjadi situs social gaming dan bermarkas di Kuala Lumpur, Malaysia. Miris mengingat Friendster pernah hampir dibeli oleh Google, namun Friendster menolaknya.
Pada awal Facebook dibuat, situs pertemanan ini hanya terbatas di kalangan kampus Harvard. Kemudian secara perlahan meluas ke beberapa kampus lain. Pada tahun 2005, anak-anak tingkat SMU pun mulai dapat bergabung pada jejaring sosial ini, namun butuh undangan. Tentu hal ini mengingatkan kita pada Juni tahun 2011 ketika Google Plus pertama kali dibuka dalam versi beta.
Tepatnya tanggal 26 September 2006, Facebook pun dibuka untuk umum, sehingga orang-orang seperti kita di Indonesia dan teman-teman yang lain pun dapat ikut bergabung. Sebagian besar teman-teman di Facebook adalah rata-rata teman yang saat ini tengah bersama-sama. Namun mencari teman lama juga tergolong mudah di Facebook. Bahkan dari teman SD pun ada.
Maka dari itulah ketika masa-masa tahun 2007-2009 ketika awal-awal Facebook menjadi tren di Indonesia, wabah reuni pun menjamur. Bisa jadi pada minggu yang sama ada reuni SD, reuni SMP, reuni SMU dan reuni kuliah berturut-turut. Belum lagi jika ada yang kuliah di beberapa kampus sekaligus atau yang sering berpindah-pindah sekolah. Tentu daftar teman pun semakin banyak.
Sesama teman kerja pun kita dapat saling terhubung dengan Facebook. Tak hanya akun pribadi, dapat juga membuat halaman tokoh untuk pesohor, artis, atlet atau tokoh publik yang lain. Anda dapat mengelompokkan teman berdasarkan grup, dapat juga membuat grup khusus untuk memudahkan komunikasi antar sesama grup.
Sayangnya segala yang memiliki dampak positif, tentu ada dampak negatifnya juga. Alih-alih mempersatukan teman lama yang sudah lama tidak berkomunikasi, Facebook dapat juga digunakan untuk menambah teman. Tetapi hal ini justru dapat menjadi bumerang.
Anak zaman sekarang yang semakin berani untuk terbuka dengan orang yang baru dikenalnya melalui Facebook menjadi rentan penculikan. Bujuk rayu orang yang memiliki maksud buruk pun menjadi mudah dilakukan. Berawal dari pacaran secara virtual, mereka pun nekat bertemu dan akhirnya dapat dibawa kabur dengan mudah. Maka dari itulah, jika memang ingin menjadikan Facebook sebagai sarana untuk menambah teman, sebaiknya lebih selektif.
Linked In, Perkaya Jaringan Teman Profesional
Beranjak ke jejaring sosial pertemanan yang lebih profesional, ada Linked-in. Biasanya pada akun ini informasi yang dimasukkan takjauh berbeda dengan resume kita dalam karir atau pekerjaan. Tak ubahnya seperti membuat Curriculum Vitae. Hal yang saya suka pada Linked in adalah fitur yang hampir mirip dengan Friendster.
Jika di Friendster ada fitur Testimonial, maka pada Linked in ada fitur recommendation atau rekomendasi. Maka orang dapat dengan mudah mengetahui siapa kita atas penilaian orang lain, apakah itu atasan, bawahan, rekan kerja ataupun teman dalam hubungan yang lain. Terdapat keterangan yang jelas pula atas konteks apa atau atas dasar hubungan apa dia memberikan rekomendasi tersebut.
Tak hanya menghubungkan teman profesional, Anda dapat juga menambah teman baru demi melebarkan jaringan bisnis ataupun karir pada situs ini. Tak jarang situs ini juga dimanfaatkan para head hunter untuk berburu kandidat karyawan bagi suatu perusahaan.Nah, jejaring sosial manakah yang menjadi pilihan Anda untuk menambah teman?

