logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Kesehatan    Gaya Hidup Sehat    Majalah Kesehatan

Tentang Penyakit Hati Dahlan Iskan


Ilustrasi tentang penyakit
Dahlan Iskan adalah orang penting grup Jawa Pos, seorang penulis hebat, dan pernah menjadi seorang direktor PLN, dan kini menjabat sebagai seorang menteri Badan Usaha milik Negara, yang terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang lain daripada yang lain. Lewat bukunya ‘Ganti Hati’, Dahlan Iskan memaparkan dari awal penyakit yang dideritanya hingga operasi yang telah membuatnya hidup kembali. Dalam buku itu Dahlan Iskan menuturkan panjang lebar perjalanan penyakit yang membuatnya merubah pola hidupnya itu. Buku yang cukup komprehensif memberikan gambaran tentang penyakit Hati.


Perjalanan Sebuah Penyakit


Dalam bukunya Dahlan Iskan berkisah tentang penyakit yang dideritanya. Ia yang seorang pekerja keras yang hidup dalam segala keterbatasan memang tidak boleh berhenti kalau ingin hidup dengan layak. Ia yang hanya harus berjuang sangat keras hingga menempuh perjalanan cukup panjang dalam mencari ilmu, bahkan harus rela hanya bermimpi ingin mempunyai sebuah sepatu. Suatu kisah yang sangat menginspirasi yang menjadi sebuah novel dengan judul Sepatu Dahlan. Sebenarnya, Dahlan Iskan sendiri tidak merasa bahwa hidupnya itu susah. Ia cukup merasa bahwa hidup memang harus seperti itu.


Pemahaman inilah yang membuatnya tidak bisa berhenti berpikir dan terus berusaha melakukan yang terbaik bagi dirinya dan bagi orang lain. Ketika ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya di tanah Jawa karena ketiadaan dana, ia mendapatkan jalan keluar yang lumayan membuka matanya. Ia bisa bersekolah gratis di sebuah perguruan tinggi di tanah Kalimantan. Di wilayah yang cukup jauh inilah ia berjuang lagi dengan kehidupan yang belum juga menyenangkan secara materi. Ia yang berotak sangat cerdas itu tahu bahwa tiada hari tanpa kerja keras kalau ia ingin melihat dirinya sama bahkan lebih dari orang lain dalam segala hal.
Setelah menemukan jalan kehidupannya sebagai seorang wartawan, Dahlan Iskan tak berhenti hanya menjadi seorang wartawan. Ia merambah bisnis.


Pelajaran yang sangat berharga adalah menjadi seseorang yang tidak berdiri di kaki orang lain. Ia sangat tahu apa yang ia inginkan. Satu hal yang mungkin kurang ia pahami adalah gaya makan dan gaya hidupnya yang tidak karuan. Ia makan apa saja yang ia inginkan. Uang ada, waktu ada, maka makanan ada. Ia tidak peduli apakah ia makan tengah malam atau ia makan pagi-pagi. Makanan apapun yang diinginkannya, akan ia dapatkan dan akan ia makan. Kelelahan yang dirasakannya seolah hilang setelah ia makan dengan teman-temannya. Ia tidak menyadari bahwa makanan itu bisa menjadi racun ketika dimakan di tengah malam sebelum tidur.


Ia juga seolah tidak peduli bahwa makanan tertentu akan membuat organ hati dan jantung menjadi tidak senang. Ketika kedua organ ini tidak bahagia, maka mereka akan sakit. Kerja yang sangat keras tanpa memikirkan kesehatan itu membuat organ dalam tubuhnya protes. Semakin hari semakin terasa betapa kesehatannya semakin menurun. Perangainya yang keras dan mudah sekali mengamuk ternyata juga menyumbang cukup banyak energi yang membuatnya malah semakin lemah. Melemahnya kesehatan ini dan mendapati bahwa ia bisa mati dalam waktu yang tidak lama, membuat Dahlan Iskan berpikir keras.


Ia menyadari kalau ia mempunyai dana yang berlimpah dan ia masih mempunyai banyak mimpi yang belum ia raih. Itulah yang membuatnya semakin bersemangat untuk meraih satu per satu apa yang belum ia wujudkan. Ia mendatangi orang-orang yang dahulu pernah ia sakiti. Ia meminta maaf dengan tidak lupa memberikan hadiah berupa uang. Hadiah itu bukan sebagai bentuk menyuap orang yang pernah ia sakiti itu. Uang itu adalah sebagai wujud cinta karena hadiah memang bisa membuat hubungan kekerabatan semakin baik.


Mulailah Dahlan Iskan berburu berbagai informasi yang mungkin bisa memperbaiki keadaan kesehatannya yang semakin hari semakin memburuk. Rongga dadanya mengecil dan ia semakin mudah lelah. Padahal pekerjaannya banyak. Ia mulai berpikir menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain dan mulai memikirkan bahwa hidupnya mungkin akan berakhir segera. Ia mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Ia mencoba segala hal yang akan membuatnya semakin sehat. Dukungan teman, keluarga, dan semua orang yang ada di sekitarnya, membuat seorang Dahlan Iskan tabah dan kuat. Ia berangkat ke Cina dan berharap bahwa ada solusi yang bisa didapatkan dari rumah sakit yang khusus merawat orang yang sakit hati.


Ia tidak diperbolehkan untuk berpikir keras karena hal itu akan membuat kesehatanya semakin menurun. Ia hanya tak tahan untuk tidak menulis. Sebagai seorang wartawan, menulis adalah jiwanya. Menulis adalah vitamin jiwa yang tidak mungkin ia tinggalkan. Tanpa menulis ia merasa seperti mati suri. Dokter akhirnya mengizinkan ia menulis asalkan tidak menulis sesuatu yang berat yang akan membuatnya stres. Dalam penantiannya menunggu organ hati yang akan digunakan untuk mengganti hatinya, ia membuat buku dengan judul Ganti Hati. Sebuah buku yang dengan sangat detail menggambarkan bagaimana mulanya ia mendapatkan sakitnya. Bagaimana ia mulai merasakan bahwa penyakitnya mulai membuat tubunya lelah.

Hepatitis B


Bermula dari hepatitis yang juga menyerang ibunya, Dahlan Iskan harus merasakan betapa mengerikannya hidup dengan keadaan hati yang tak lagi sehat. Diceritakan dalam buku tersebut bahwa penyakit hepatitis ini banyak juga diderita oleh orang-orang yang sering makan atau bersama dalam satu wadah. Kebiasaan ini menumbuhsuburkan penyebaran virus hepatitis terutama hepatitis B di kalangan tersebut. Tidaklah salah bila mulai saat ini haruslah berhati-hati dalam soal makan bersama ini. Sebaiknya tidak asal ambil makanan dari wadah yang sudah dipakai oleh orang lain.


Hepatitis B yang diderita oleh Dahlan Iskan berkembang menjadi sirosis yang berakhir pada kanker hati. Pada tahapan inilah Dahlan Iskan tak mampu lagi mempertahankan Hatinya sehingga harus menjalani cangkok hati yang dilakukan di tanah Tiongkok. Selama proses menjelang operasi yang berjalan hingga enam bulan, Dahlan Iskan dilarang melakukan banyak hal yang akan menyebabkan kelelahan ataupun stres.


Tapi, karena dunia tulis-menulis adalah makanan jiwanya, maka mau tak mau dia tetap mati-matian meminta dokter mengizinkannya untuk tetap menulis demi mendapatkan vitamin hidup. Jadilah Dahlan Iskan tetap produktif selama masa menantian Hati yang cocok untuknya.


Gaya Hidup


Di bagian penutup buku Ganti Hati, Dahlan Iskan kurang setuju bila penyakitnya ini dikaitkan dengan pekerjaannya dan karena dia bekerja terlalu keras. Dahlan takut sekali bahwa nanti orang takut kerja keras karena takut terkena penyakit kanker hati seperti dirinya. Tapi, Dahlan tidak menyangkal bahwa sakitnya ini disebabkan oleh kecerobohannya terutama pola makannya yang luar biasa tidak mengikuti nasihat ahli gizi ataupun dokter.


Hati yang Tenang


Dahlan Iskan sangat bersyukur bahwa kini dia sehat dan bahkan dapat melakukan banyak hal lagi bagi banyak orang. Kemampuan manajerialnya yang mumpuni telah mengantarkannya menjadi salah seorang pejabat publik. Walaupun di awal pengangkatannya banyak yang tidak setuju bahkan disambut dengan demo, Dahlan tetap tenang. Ketenangannya ini juga untuk menjaga hatinya yang baru. Pikiran dan hati harus dibawa santai kalau tak ingin Hati yang masih berusia muda tersebut terluka. Dahlan sangat paham bahwa hidupnya harus penuh dengan kesabaran dan kelembutan. Dahlan ingin sekali tetap bermanfaat hingga akhir hidupnya dan tidak muntah darah lagi.

Memilih Tiongkok


Dahlan Iskan tidak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan, pengetahuan, dan persiapan yang matang. Keputusannya memilih langsung dioperasi adalah dengan pertimbangan banyak orang mengalami kegagalan transplantasi Hati karena kanker sudah menyebar ke banyak wilayah dalam tubuh. Mumpung badannya belum terlalu sakit, maka operasi harus sudah dilakukan. Pada saat itu pun, rongga dadanya sudah menyempit sebagai akibat dari hatinya yang mengecil sehingga rongga dada menyesuaikan dengan ukuran hati. Tubuhnya pun sudah membengkak.


Tiongkok dipilih karena tim dokter yang handal, peralatan canggih, obat-obatan Cina yang sudah sangat terkenal, dan yang terpenting adalah adanya donor hati yang bagus. Biaya yang dikeluarkannya memang tidak sedikit. Dahlan mengatakan secara tidak langsung bahwa harganya tidak kurang dari harga sebuah mobil Mercy (lebih dari satu milyar, mungkin). Tapi dalam bukunya, Dahlan mengatakan bahwa sebenarnya biaya itu bisa ditekan terutama bila biaya pendukung seperti tempat tinggal, biaya hidup sehari-hari, keluarga yang menjenguk bisa dikurangi. Itulah gambaran tentang penyakit hati yang dialami oleh dahlan Iskan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Cara Menghilangkan Ketombe dengan Bahan Alami
  • Waspadai Bahaya Narkoba bagi Kesehatan
  • Dehidrasi - Lack of Water
  • Kenali Gejala Penyakit Maag
  • Perawatan Alami Pengencang Payudara
  • Mengenal Penyakit Otak: Parkinson
  • Terapi Kesehatan dengan Pijat Refleksi
  • Membuat Contoh Pidato Bahaya Narkoba Harus Kontributif
  • Makanan Berminyak, Pantangan Amandel
  • Penyakit Empedu dan Penyakit Ginjal, Samakah?
  • Pencegahan dan Pengobatan Alergi Secara Alami
  • Manfaat Totok Wajah untuk Aura Muda
  • Pentingnya Membaca Artikel Kesehatan Anak
  • Becermin Kepada Mantan Perokok Kelas Paus Biru
  • Pengertian Autis dan Terapi Penanganannya
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA