Teori Humas Pemerintah Salah Alamat

Mencermati relasi pemerintah dengan masyarakat baru baru ini membuat kita pening. Pemerintah boleh jadi menganggap silence is gold (diam itu emas). Tapi masyarakat bisa berbicara not all glitter is gold (tidak semua yang berkilauan itu emas). Pemerintah seringkali sudah kukuh dengan pendiriannya. Namun, masyarakat yang kelewat kecewa seringkali menjadi jengkel luar biasa. Tampaknya teori humas pemerintah memang salah alamat.
Teori Humas
Humas sendiri menurut para pakar dimaknai sebagai berikut.
- Humas adalah kegiatan organisasi untuk menciptakan hubungan harmonis agar mereka sadar dan sukarela mendukungnya. (Ibnoe Syamsi)
- Humas adalah kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, dukungan, kepercayaan, serta penghargaan pada dan dari publik suatu badan pada khususnya, dan masyarakat umumnya. (Oemi Abdurahman)
- Humas adalah fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai dan menyimpulkan sikap publik, menyesuaikan kebijakan, dan prosedur instansi atau organisasi dengan kepentingan umum serta menjalankan suatu program untuk mendapatkan dan pengertian dan dukungan masyarakat. (Denny Griswold dan Glen)
Rangkuman teori humas tersebut bisa disederhakan dalam tiga kata: publik, publik, dan publik. Ya, kepentingan publik nomor satu. Pesan yang disampaikan tertuju dan fokus pada publik. Itulah kunci dari teori humas.
Salah Alamat
Namun sepertinya pemerintah belum sepenuhnya berorientasi pada publik. Setidak-tidaknya dengan memakai prinsip kehatian-hatian, empati, dan fokus. Meski Presiden SBY termasuk pada kategori the word has sock the world (kumpulan pidato terbaik di dunia), tapi pengarang bukunya sendiri membeberkan bahwa Presiden Yudhoyono bukan good speaker (pembicara yang baik).
Itu sebabnya humas bukan peran yang diemban oleh satu pihak semata, tapi integrasi dari ragam komponen. Semisal humas menjanjikan sesuatu. Aktivasi kata-kata yang dimuat humas ini dilanjutkan oleh kinerja. Begitulah teori humas menjelaskan dengan kata selaras dan harmonis.
Mengapa teori humas salah alamat? Ini contoh lucu yang pernah terjadi akibat teori humas yang salah alamat.
- Tweet Tifatul Sembiring. Menteri komunikasi dan informatika ini kadung disebut Menteri Miskomunikasi. Serial tweet-nya mengenai AIDS menuai cibiran tajam. Tak kurang dari jurnalis, politisi, sampai masyarakat biasa menghujat menteri yang satu ini. Tifatul menjadi bahan celaan karena mengaitkan gay, lesbian, dan transeksual dengan AIDS.
- Tifatul Sembiring (lagi). Ulah Tifatul yang mau bersalaman dengan Michelle Obama kembali menuai pro kontra. Menteri yang berperan sebagai komunikator pemerintah ini terkenal islami. Namun, justru mau bersalaman ketika bertemu first lady paman sam itu. Tak kurang dari media lokal, nasional sampai internasional memberitakan hal tersebut.
- Mentawai. Early warning system yang dibangun pemerintah mengenai tsunami sebetulnya sudah ada. Tapi entah kenapa malang bagi Mentawai. Setelah warganya yang telah diperingatkan akan bahaya tsunami dicabut, justru tsunami meluluhlantakkan pulau ini.
Entah referensi teori humas mana yang dirujuk oleh pemerintah. Tapi fakta yang terjadi memang demikian.






