Sekilas Teori Partisipasi
Ilustrasi teori partisipasi
Teori partisipasi merupakan salah satu jenis teori yang membicarakan mengenai proses keterlibatan individu dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemasyarakatan. Hal ini terkait dengan peran individu sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin melepaskan diri dari berbagai keadaan yang ada di sekelilingnya.
Dalam pandangan beberapa ahli, teori partisipasi didefinisikan sebagai sebuah proses keterlibatan diri seseorang secara penuh pada sebuah tekad yang disepakati besama. Selain itu, teori partisipasi juga diartikan sebagai sebuah hubungan yang setara antara masyarakat dengan sistem kekuasaan dalam proses pembangunan.
Partisipasi juga bisa dihubungkan dengan sebuah kondisi yang saling menguntungkan dari dua pihak atau lebih yang saling berinteraksi. Dimana semakin banyak manfaat yang bisa diperoleh dari proses interaksi tersebut, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proses intu akan semakin kuat hubungannya.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah tingkat partisipasi oleh seseorang, bisa diwujudkan apabila muncul kesadaran mengenai manfaat yang bisa didapatkan dari proses tersebut. Di sisi lain, proses partisipasi ini merupakan sebuah naluri alamiah dari manusia untuk bisa hidup dengan lingkungannya. Karena pada dasarnya manusia memiliki kehendak serta kepentingan yang tidak terbatas. Dan untuk memenuhi kepentingan dan kehendaknya tersebut, manusia membutuhkan partisipasi dari pihak lain.
Partisipasi Dalam Berorganisasi
Sebagai makhluk hidup manusia memiliki beberapa kebutuhan misalnya kebutuhan biologis, kebutuhan sosial serta beberapa kebutuhan lain untuk bisa menjalankan hidup secara normal. Di sisi lain, menusia juga memiliki beberapa keinginan yang mereka upayakan guna mendapatkan kepuasan atas apa yang mereka inginkan.
Para psikolog menyampaikan bahwa setiap orang memiliki banyak keinginan yang jumlahnya tidak terhingga. Beberapa dari keinginan tersebut belum dapat dipenuhi secara mutlak. Karena, ketika manusia sudah mampu meneuhi keinginan pertama mereka, akan diikuti dengan keinginan yang kedua, ketiga dan selanjutnya. Agar bisa terpenuhi kebutuhannya, setiap manusia akan selalu berada pada kehidupan bermasyarakat atau juga kehidupan dalam sebuah kelompok.
Dalam dua posisi tersebut, manusia akan terlibat dalam sebuah proses yang disebut dengan partisipasi. Dimana partisipasi ini diartikan oleh Soerjono Soekanto sebagai sebuah proses identifikasi atau terlibat menjadi peserta, dan di dalamya terdapat proses komunikasi atau kegiatan bersama pada sebuah situasi sosial tertentu.
Partisipasi sendiri digolongkan menjadi beberapa jenis. Antara lain partisipasi sosial dan partisipasi politik. Partisipasi sosial merupakan tingkat keterlibatan seorang individu dalam kehidupan sosial. Hal ini dijelaskan oleh George dan Achilles, yang menyatakan bahwa partisipasi sosial adalah suatu proses keterlibatan seseorang secara sukarela dalam sebuah organisasi, dimana di dalamnya melibatkan beberapa jenis komunitas atau kegiatan yang dilakukan di luar kegiatan rutin seorang individu.
Sedangkan yang dimaksud dengan partisipasi politik yaitu sebuah aktivitas warga negara yang dalam tindakannya mengatas namankan pribadi. Dan aktivitas tersebut ditujukan untuk memberikan pengaruh pada proses pembuatan keputusan oleh pemerintah. Partisipasi politik ini bisa bersifat individu atau juga kolekstif yang diorgasnisir secara spontan dan mantap.
Partisipasi warga negara dalam partisipasi politik ini bisa diwujudkan dalam proses pemberian suara, turut serta pada kegiatan kampanye atau dengan cara menjadi anggota sebuah partai politik tertentu. Dengan demikian, bisa diarti kan bahwa partisipasi politik diartikan sebagai sebuah proses keterlibatan masyarakat pada aktivitas yang dilakukan oleh kelompok pada kehidupan sosial dan politik.
Dalam kehidupan bersama atau kelompok, manusia menghendaki memiliki penampilan yang terbaik sehingga mampu memberikan manfaat pada orang lain. Hal inilah yang pada kahirnya mampu menciptakan kehidupan berkelompok yang disebut kelompok sosial atau organisasi sosial. keterlibatan individu pada sebuah organisasi sosial biasanya diakibatkan oelh beberapa faktor.
Beberapa faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain adanya kesamaan kepentingan, minat, kesadaran atas dasar suka rela dan lain sebagainya.
Kepentingan-kepentingan tersebut tidak disampaikan melalui lembaga sosial, namun kepentingan tersebut disalurkan dalam bentuk perekutuan manusia yang relatif teratur dan formal. Berdasar kondisi tersebut, muncul sebuah pertanyaan, tentang apa alasan seseorang terlibat atau ikut serta dalam kehidupan kelompok misalnya organisasi sosial serta faktor apa saja yang menjadi penyebabnya.
Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa salah satu dasar pokok yang sangat penting menjadi landasan seseorang hidup berkelompok adalah kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan pihak lain. Apabila seseorang jarang melihat atau bicara dengan pihak lain, maka individu tersebut sulit untuk bisa tertarik masuk dalam sebuah kelompok. Itulah mengapa, terlibat atau tidaknya seseorang dalam sebuah organisasi atau kelompok, ditentukan dengan ada tidaknya daya tarik tersebut.
Daya tarik ini muncul karena ada hubungan antara sesama organisasi. Kesempatan untuk saling berinteraksi ini secara langsung memiliki pengaruh pada daya tarik serta terbentuknya kelompok. Selain itu, keterlibatan tersebud berdasar pada teori kedekatan.
Dalam teori kedekatan tersebut, seseorang bisa saling berinteraksi dengan orang lain karena terdapatnya kedekatan ruang serta daerah. Selain itu, disebutkan juga bahwa proses keterlibatan tersebut didasarkan pada alasan-alasan praktis. karyawan-karyawan sebuah organisasi, contohnya, akan terkelompokkan melalui alasan ekonomi, keamanan dan sosial. Namun yang paling penting dalam teori ini yaitu bahwa setiap kelompok akan cenderung memberikan kepuasan pada kebutuhan sosial yang sifatnya mendasar serta subtansial dari setiap orang yang berkelompok itu.
Sebuah organisasi sendiri dibentuk karena adanya teori tukar menukar, teori persamaan sikap dan teori saling melengkapi. Dalam teori tukar menukar, proses interaksi yang terjadi pada sebuah kelompok diwujudkan melalui proses tukar menukar antara imbalan dengan biaya dalam setiap interaksi yang terjadi. Seseorang akan mendapatkan imbalan berupa kepuasan atau tercukupinya sebagian kebutuhannya. Menurut teori tukar menukar ini, hubungan yang diciptakan dan dipelihara seseorang ini karena adanya pendapat bahwa imbalan yang didapatnya lebih tinggi daripada biaya yang harus dibayarkannya.
Menurut Festinger, seseorang yang masuk dalam sebuah kelompok sosial pada dasarnya memiliki hasrat untuk melakukan evaluasi pada dirinya. Dengan masuk pada sebuah kelompok sosial, maka seseorang akan mengetahui pendapat orang lain tentang dirinya. Termasuk di dalamnya tentang hal-hal apa saja yang baik, dibolehkan serta dilarang untuk dikerjakan. Dalam interaksi organisasi inilah, maka seseorang bisa mengetahui apakah ide, pemikiran dan pertimbangannya selaras dengan realita sosial.
Di sisi lain, Helbert dan Ray menyebutkan bahwa terlibatnya seseorang pada sebuah organisasi berdasar pada keinginan mereka untuk bisa memuaskan tujuan pribadi yang dimilikinya. Organisasi merupakan media untuk menuntun seseorang menggapai cita-cita mereka yang tidak bisa diperolehnya secara sendirian.
Dasar lain yang melandasi seseorang masuk ke dalam sebuah organiassi adalah bahwa organisasi adalah mobilitas bagi usaha untuk mencapai cita-cita tersebut. Di samping itu, organisasi juga membuat seseorang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan atau menyempurnakan segala hal yang masuk dalam tujuan pribadi seseorang.
Hal ini akan sukar atau kurang memungkinkan untuk dicapai tanpa adanya keterlibatan organisasi. kemudian, keterlibatan juga memenuhi kebutuhan biologis, misalnya sandang, pangan papan, air, udara dan lain sebagainya guna mempertahankan hidup. Dengan masuk organisasi, seseorang bisa mengharapkan beberapa keuntungan serta kontribusi tertentu dari organisasi serta menyempurnakan tujuan tertentu.

