Teori Sosial
Pada umumnya teori sosial mengacu pada mekanisme dan keadaan kehidupan masyarakat. Khususnya, kehidupan masyarakat pada tempat tertentu. Salah satu teori sosial adalah bahwa sadar tidak sadar, mau tidak mau, masyarakat di mana pun berada dibagi menjadi beberapa tingkatan sosial. Strata sosial ini akan mempengaruhi sudut pandang dan cara hidup masyarakat itu sendiri.
Pembagian Strata Sosial di Masyarakat
Pembagian strata sosial ini biasanya dilihat dari keturunan, kekayaan, pendidikan, dan bahkan kecantikan. Tidak lucu memang kalau mau dipikir bagaimana bisa masyarakat berpikir bahwa faktor-faktor tersebut dapat membedakan kedudukan mereka. Tapi itulah yang terjadi, walaupun tidak semuanya tersurat dengan nyata.
Bila mau melihat kenyataan ini, pergilah ke desa atau ke suatu tempat yang masyarakatnya masih belum terlalu termakan nilai-nilai pendidikan. Perhatikan dan lihatlah bagaimana masyarakat di sana memperlakuan orang-orang yang dipandang mempunyai tingkat kekayaan, pendidikan, keturunan ataupun kecantikan yang lebih. Ada rasa tidak percaya diri ketika mereka harus bergaul dengan orang-orang yang dipandangnya lebih tinggi tersebut.
Tidak jarang mereka merasa tidak berharga bila sudah berhadapan dengan orang-orang yang dipandangnya lebih tinggi tersebut. Pekerjaan pun akhirnya dibagi-bagi menjadi pekerjaan kasar yang hanya dikerjakan oleh orang-orang yang dianggap dari kalangan kelas bawah tersebut. Sedih sekali bagaimana bisa orang-orang mempunyai pandangan seperti itu.
Mengubah Pandangan
Rasa tidak percaya diri ini akhirnya menempatkan mereka pada kedudukan sebagai orang-orang yang akhirnya dipandang rendah dan tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Orang-orang seperti ini hanya bisa menerima nasib dan berusaha bertahan dengan barang seadanya. Kondisi yang ditakutkan adalah ketika mereka memberontak dan akhirnya memilih jalan kejahatan. Hal inilah yang sangat berbahaya. Jalan terbaik untuk mengubah pandangan dan konsep diri adalah melalui pendidikan.
Lewat pendidikan orang akan tahu bahwa di hadapan Tuhan semua mahluk sama. Bahwa pakaian bagus yang dikenakan tidak akan membawanya ke surga bilamana tindak-tanduknya tidak sesuai dengan norma agama yang berlaku. Selain itu, harta yang dimiliki tidak ada gunanya bila didapat bukan dari jalan yang benar. Harta juga sebaiknya digunakan pada jalan yang sesuai dengan tuntunan agama. Kecantikan dan pendidikan merupakan hal-hal yang bisa didapatkan bila mau bekerja sedikit lebih keras.
Kesadaran untuk mengubah diri tersebut akan meningkatkan rasa percaya diri sehingga tidak akan memandang orang lain lebih tinggi atau malah terlalu tinggi sehingga merendahkan dirinya sendiri. ketika terlalu memandang diri rendah dibandingkan dengan orang lain, termasuk tindakan zhalim terhadap diri sendiri
Ilmu
Ilmu membedakan orang dari orang lain. Tidaklah mengherankan bila Allah menjanjikan akan mengangkat kedudukan orang-orang berilmu lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain yang tak berilmu.
Ilmu apakah yang akan dapat mengangkat kedudukan seseorang? Tentunya ilmu yang bermanfaat yang dapat membawa orang tersebut dan orang lain ke surga, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi kalau ingin mempunyai kedudukan yang bagus, carilah ilmu dan tebarkanlah ilmu tersebut kepada sebanyak mungkin mahluk yang ada di bumi.
Dengan ilmu, strata sosial tidak lagi dipandang hanya dari pakaian, kecantikan, pendidikan atau gelar kesarjanaan, maupun rumah besar yang dimiliki seseorang. Dengan ilmu juga, semua hal yang dibutuhkan di dunia ini dapat diraih dan ilmu juga yang akan menyelamatkan masyarakat dari tindakan yang mungkin akan membahayakan hidup dan kehidupannya.
Perilaku Dalam Teori Sosial
Manusia merupakan mahluk tuhan yang paling sempurna. Bisa dikatakan sempurna, karena manusia penuh dengan dinamika. Dinamika manusia merupakan sebuah ungkapan atau pemberian tuhan yang sangat berharga, yaitu akal. Dengan akal, manusia berdinamika dengan mahluk lain.
Kelangsungan hidup manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa terlepas dari kemampuannya mengatur alam ini. Selain itu, manusia sebagai mahluk sosial juga memiliki sikap, emosi, kemauan, orientasi, potensi, dan perilaku. Nah, kali ini akan dibahas mengenai perilaku dalam teori sosial.
Perilaku manusia bisa didefinisikan sebagai suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Semua perilaku pada dasarnya dibentuk atas intelegensi dan pengalamannya. Dengan begitu, seseorang individu yang mempunyai intelegensi tinggi dan pengalaman banyak, mempunyai perilaku berbeda dengan mereka yang tidak memiliki keduanya.
Mungkin, Anda sering mendengar guru menyebutkan istilah “ilmu padi”. Istilah tersebut ditunjukkan ketika seseorang memiliki ilmu yang luas, dianjurkan untuk rendah hati (jangan sombong). Hal ini berkaitan dengan perilaku individu ketika memiliki intelegensi yang tinggi, harus mampu menerapkan teori padi tersebut. Namun kenyataannya, masih banyak yang belum bisa mengaplikasikan teori tersebut dalam kesehariannya.
Manusia tentunya tidak bisa terlepas dengan individu lainnya. hal ini erat kaitannya dengan berperilaku. Ketika perilaku dikaitkan dengan teori sosial, akan ditemuan berbagai asumsi atau pendapat terkait hal tersebut.
Teori sosial ini idak bisa dilepaskan dari ide yang pernah terlontarkan dari para pendahulu, seperti Adam Smitch, Jihn Stuart Mill, dan David Ricardo. Berdasarkan ide-ide mereka, dikembangkanlah asumsi-asumsi yang mendasari tingkah laku sosial.
Adapun asumsi-asumsi yang dikembangkan adalah sebagai berikut.
- Pada dasarnya, manusia tidak mencari keuntungan maksimum. Akan tetapi, manusia senantiasa ingin mendapatkan keuntungan dari adanya interaksi yang berlangsung dengan orang lain.
- Manusia tidak bertindak secara rasional sepenuhnya. Namun, dalam setiap hubungannya dengan orang lain, manusia selalu berfikir akan untung dan rugi.
- Manusia tidak mempunyai informasi yang mencakup segala hal, sebagai dasar mengembangkan alternatif. Meskipun manusia mempunyai informasi terbatas, namun tetap mengembangkannya untuk memperhitungkan untung rugi.
- Manusia senantiasa berada pada keterbatasan. Meskipun demikian manusia tetap berkompetensi untuk mendaptkan keuntungan, ketika bertransaksi dengan orang lain.
- Walaupun manusia selalu berusaha mendapatkan keuntungan dari hasil interaksi dengan orang lain, tetapi tetap dibatasi oleh sumber-sumber yang tersedia.
- Manusia berusaha memperoleh hasil dalam wujud material. Namun bukan berarti, manusia tidak menghasilkan sesuatu yang bersifat non material. Manusia akan melibatkan sifat no material, seperti emosi, sentiment, dan lain-lain dalam kehidupannya.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut sudah jelas, manusia pada dasarnya sangat membutuhkan pihak lain atau manusia lain untuk mengambil sebuah keuntungan. Keuntungan yang dimaksud aalah keuntungan materiil dan juga moril. Dengan begitu, wajar saja apabila manusia disebut sebagai mahluk sosial.
Bila dilihat dari bentuknya, perilaku manusia sangat bergantung pada apa yang didapatkannya. Semakin manusia merasa puas dengan hasil yang diperoleh, perilakunya sangat baik. Sebaliknya, jika hasil yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan, perilaku cenderung buruk.
Apapun hasilnya yang terpenting adalah setiap individu harus mempunyai sifat semangat dalam menjalani segala hal. Jadi, ketika kegagalan datang, sudah siap untuk menghadapinya.
Setiap manusia mempunyai perilaku yang berbeda. Namun terkadang, perbedaan yang ada menimbulkan sebuah masalah atau problem. Masalah-masalah yang muncul ini, nantinya akan memengaruhi lingkunag hidupnya. bahkan tak jarang, masalah bisa juga berimbas pada kebudayaan.
Perlu diingat, setiap permasalahan yang terjadi pasti ada pemecahan dan penyelesaiannya. Masalah ada untuk meningkatkan rasa kuat dalam diri manusia, untuk mempertahankan hidupnya.
Sebenarnya, hal yang paling berkaitan dengan perilaku manusia adalah adanya ganjaran dan hukuman. Seperti penjelasan sebelumnya mengenai asumsi-asumsi dan bentuk perilaku, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan manusia memerlukan adanya reward dan punishment.
Reward dan punishment sebenarnya ada untuk memberikan dorongan kepada manusia untuk lebih baik dari sebelumnya. Contohnya saja, jika manusia tersebut diberikan reward atau penghargaan, akan timbul perasaan bangga dalam dirinya. Dengan begitu, manusia tersebut kan berusaha mempertahankan, atau bahkan meningkatkan prestasinya tersebut.
Kemudian, ketika manusia mendapatkan sebuah hukuman atas kesalahan yang dilakukannya, terkadang muncul rasa kekecewaan. Rasa kecewa ini wajar adanya untuk membuat menudia tersebut menjadi pribadi yang elbih baik dari sebelumnya.
Demikianlah artikel seputar teori sosal. Semoga bemanfaat bagi para pembaca.

