Teori Tsunami: Mengenal Tsunami Lebih Dekat
Indonesia telah beberapa kali dihantam gelombang tsunami. Gelombang berkekuatan besar ini mampu meluluhlantakkan semua bangunan dan pepohonan yang dilewatinya. Tidak sedikit korban berjatuhan akibat tsunami, ratusan bahkan ribuan orang tewas. Menurut teori tsunami, gelombang dahsyat ini terjadi karena adanya ketidakstabilan air laut yang biasanya disebabkan oleh gempa bumi di dasar laut.
Asal Usul Kata Tsunami
Kata “tsunami” sendiri berasal dari Tsu dan Nami yang diambil dari bahasa Jepang. Tsu memiliki arti pelabuhan, sedangkan Nami artinya gelombang besar. Kemudian istilah tsunami sering digunakan masyarakat setempat ketika terjadi gelombang besar yang disebabkan oleh adanya gempa bumi. Berdasarkan teori tsunami, tidak semua gempa di laut bisa mengakibatkan gelombang besar atau tsunami. Dan sebaliknya tanpa adanya gempa di dasar laut, tsunami juga bisa terjadi.
Penyebab Tsunami
Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan istilah tsunami tidak hanya untuk menunjukkan gelombang besar yang terjadi akibat gempa saja, namun juga disebabkan oleh letusan gunung berapi, serta longsor di dasar laut. Pada intinya, tsunami terjadi karena adanya perubahan mendadak pada dasar laut sehingga terjadi gangguan secara impulsif terhadap air laut.
Menurut teori tsunami, ada beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan gelombang besar atau tsunami, yaitu:
- Gempa bumi. Pada umumnya, gempa bumi adalah penyebab utama terjadinya tsunami. Gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang bisa menyebabkan gerakan tanah di dasar laut tegak lurus dengan permukaan air atau permukaan bumi. Bila gerakannya horizontal dengan permukaan air laut, maka kemungkinan tidak akan terjadi tsunami.
- Erupsi vulkanik atau letusan gunung berapi. Letusan gunung berapi juga dapat menimbulkan terjadinya tsunami, seperti yang terjadi pada tahun 1883 akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau. Letusan ini menyebabkan gangguan impulsif sehingga air laut menjadi tidak stabil, dan terjadilah tsunami.
- Longsor yang terjadi di dasar laut. Gempa di dasar laut seringkali menimbulkan energi yang besar sehingga mampu meruntuhkan bukit-bukit atau tebing yang terdapat di dasar laut. Gerakan runtuhnya tebing atau bukit tersebut tegak lurus dengan permukaan air laut sehingga dapat menimbulkan gelombang tsunami.
Karakteristik Gempa yang Berpotensi Tsunami
Berdasarkan teori tsunami, tidak semua gempa dapat mengakibatkan gelombang besar yang disebut tsunami. Terdapat beberapa karakteristik gempa yang berpotensi menyebabkan tsunami, di antaranya adalah:
• Gempa terjadi di dasar laut
• Pusat gempa memiliki kedalaman kurang dari enam puluh kilo meter
• Gempa yang terjadi berskala di atas 6,0 SR






