Munir: Kematian Tragis Tokoh HAM Indonesia

Upaya pengungkapan kasus kematian tragis Munir, yang juga merupakan tokoh hak asasi manusia (HAM) Indonesia, agaknya mulai membentur dinding keras. Sama seperti kasus pembunuhan wartawan Udin pada 1996 silam, yang hingga kini juga tidak menampakkan kejelasan mengenai siapa pelakunya dan dengan motif apa.
Aktivis HAM ini, dinyatakan meninggal di atas pesawat Garuda pada 7 September 2004, dalam penerbangan menuju Belanda. Munir terbang ke Belanda untuk menghadiri suatu konferensi internasional, di mana dia juga ditunjuk sebagai salah seorang pembicara.
Semula dikabarkan bahwa kematiannya disebabkan oleh serangan jantung. Namun, hasil otopsi yang dikeluarkan oleh salah satu rumah sakit di Belanda, menunjukkan bahwa racun arsenik diyakini sebagai penyebab kematiannya.
Babakan selanjutnya, Pollycarpus yang juga pilot Garuda didudukan sebagai tersangka dalam kasus ini. Selain Pollycarpus, sangkaan serupa juga ditujukan pada Muchdi P.R., pensiunan Jenderal yang juga mantan kepala Badan Intelejen Negara (BIN).
Kiprah Munir
Lelaki berperawakan kecil ini, adalah seseorang yang bernyali besar. Dia pulalah yang berhasil membongkar skandal penculikan aktivis mahasiswa pada 1998 lalu, dan sekaligus membebaskan beberapa di antaranya.Namanya kian melambung dan banyak disebut orang. Bersama Kontras, dia terus melacak keberadaan aktivis korban penculikan, yang hingga kini tidak ada kejelasan nasibnya.
Arek Malang kelahiran 8 Desember 1965 ini mengawali kiprahnya sebagai relawan di LBH Malang tahun 1989. Sambil menulis skripsi untuk menyelesaikan kuliahnya di FH Unibraw Malang, Munir aktif melakukan advokasi kasus buruh-buruh di Jawa Timur.
Ketika kasus pembunuhan Marsinah terjadi pada 1993 silam, Munir yang kala itu sudah duduk sebagai Koordinator Divisi Perburuhan dan Hak Sipil LBH Surabaya, juga turut terlibat mengungkap skandal tragis ini. Dalam kasus ini, terungkap bahwa orang-orang yang telah terlanjur dijatuhi dan menjalani hukuman, ternyata bukanlah orang yang membunuh Marsinah.
Kasus pembunuhan Marsinah sarat dengan rekayasa dan konspirasi dalam penanganan hukumnya. Sama persis dengan apa yang terjadi pada kasus pembunuhan wartawan Bernas Udin dan pembunuhan terhadap diri Munir sendiri. Sungguh tragis.
Teguh dan Sederhana
Hidupnya penuh dengan teror dan ancaman. Namun, dia tetap teguh memegang prinsipnya, dan itulah yang membuatnya bernyali besar dan berani. Munir tidak mau menyerah kepada teror. Sikap ini membawa pengaruh bagi orang-orang di sekitarnya.
Keteguhan Munir ini pula yang menyebabkan sembilan aktivis korban penculikan yang berhasil dibebaskan, bersedia menyampaikan pernyataan kesaksian (testimoni) di hadapan publik. Momen ini akhirnya berhasil mengungkap bahwa negara ternyata terlibat dalam kasus penculikan ini.
Sekalipun namanya semakin popular, namun dia tetap hidup dalam kesahajaan. Apabila sedang di rumah, Munir juga melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga untuk meringankan tugas istrinya.
Ada pengalaman menarik dari sosok Munir. Ketika dia masih aktif di YLBHI Jakarta, motor bututnya hilang. Namun selang beberapa hari, motor itu dikembalikan lagi dan ditemukan pada tempatnya semula. Melihat hal ini, Munir berkelakar; mungkin malingnya sadar bahwa saya lebih miskin dari dia.
Namun sialnya, motor butut Munir hilang lagi untuk kedua kalinya. Dan kali ini sang maling tidak mengembalikan motor butut Munir. Menyikapi itu, Munir hanya dapat berujar lirih; mungkin maling yang ini lebih miskin dari maling yang pertama.
Pada tahun 2000, Pemerintah Swedia memberikan penghargaan Right Livehood Award kepada Munir, atas jasa-jasanya dalam upaya penegakan HAM. Penghargaan yang berada satu level di bawah penghargaan Nobel ini, juga menyertakan hadiah uang ratusan juta rupiah.
Lantas apa yang dilakukan Munir? Dia menyumbangkan sebagian besar uang itu untuk Kontras, dan hanya mengambil sebagian kecil untuknya.






