logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Profil    Tokoh

Tokoh Melayu: Muhammad Natsir Politikus yang Religius


Ilustrasi tokoh melayu 

Dai yang politikus, begitu kira-kira ungkapan yang cocok, meminjam sebuah judul buku, bagi tokoh Melayu yang pernah menjadi Perdana Menteri ke-5 Republik Indonesia. Tak hanya seorang dai yang mendakwahkan Islam ke kancah internasional, tapi juga politikus yang cerdas.  Kecerdasan yang mungkin bisa dikatakan cukup luar biasa. Dia adalah seorang pendebat yang baik dan berkarakter. Ia tak akan menyerah begitu saja walau keadaan yang bagaimanapun. Kesederhanaannya malah menjadi kekuatannya yang selalu diingat orang.

Karakter Pejuang

Ia yang tak ingin anak-anaknya terpengaruh keadaan politik dan budaya yang sedang bergejolak, menyisihkan waktunya untuk mendidik anak-anaknya sendiri. Dia memperlakukan Home Schooling bagi anak-anaknya. Ia yang pernah menolak beasiswa dari Belanda karena merasa bahwa sebenarnya beasiswa itu bukan untuknya melainkan untik RA. Kartini. Ia tak mau menerima atas belas kasihan. Ia ingin sesuatu memang diberikan untuknya dan bukan karena limpahan dari orang lain. Lantas ia memilih untuk memperdalam agama Islam ke Mekkah.

Berangkatlah ia melalui perjalanan yang jauh, lama, dan penuh dengan perjuangan. Semua itu menjadi satu keberkahan tersendiri karena ilmu agama yang didapatkannya dari negeri Haram itu telah membentuk karakternya yang sangat tega dan penuh dengan dedikasi. Hingga akhir hayatnya, ia tak mempunyai harta. Ia dengan rasa kasih sayang yang begitu tulus menulis surat kepada istri, kekasih hatinya, bagaimana keadaannya di tempat ia di asingkan. Ia menghibur hati istrinya sekaligusnya hatinya sendiri dan menguatkan agar mereka tetap berada pada jalan yang diridhoi oleh Allah Swt.

Orang mengaguminya bukan karena kecerdasannya dan logikanya yang begitu cemerlang. Pemikiran dan gaya hidupnya serta caranya mendidik anak-anaknya menjadi seoalh teladan yang tak pernah diragukan lagi. Komitmennya terhadap pendidikan dan kemajuan bangsa membuatnya membela Indonesia mati-matian. Dia yang tidak akan memutuskan kata-kata lawan yang sedang mendebatnya. Ia membiarkan orang mengakhiri kalimat mereka,, baru setelah itu ia akan memberikan pemikirannya yang terkadang membuat tersenyum. Namun, apa yang dikatakannya benar adanya dan tak terbantahkan. Itulah Muhammad Natsir, tokoh melayu, laki-laki berjenggot dan berkacamata dengan pandangan mata yang tajam namun penuh kelembutan.

Muhammad Natsir

Muhammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908. Jika yang terjadi saat ini agama dijadikan media politik demi kepentingan pribadi dan golongannya, maka beliau menjadikan politik sebagai media agama dan dakwah. Natsir sangat berpegang pada apa yang ia yakini bahwa semua jalan yang ia lalui adalah sebagai ladang mencari amal. Ia sangat paham tentang manfaat ilmu yang diberikannya kepada orang lain baik melalui apa yang ia lakukan ataupun yang ia ajarkan. Ia yang pernah belajar di Mekkah ini seakan telah mewakafkan hidupnya demi perjuangan yang tak boleh usai hanya karena banyaknay hambatan.

Muhammad Natsir mengenyam pendidikan dasar HIS (SD pada masa penjajahan Belanda) dan sekolah agama. Karena mendapatkan beasiswa, beliau melanjutkan pendidikan pada tahun 1923 – 1927 di MULO (SMP), lalu AMS (SMA) di Bandung dan lulus pada 1930. Bagi seorang Natsir, ilmu adalah sesuatu yang sangat berharga. Mungkin jika ia harus memilih antara makan dan membaca atau mencari ilmu, ia akan memilih mencari ilmu. Ia sangat tahu apa yang harus ia pilih. Pribadinya sangat kuat dan ia bukan seseorang yang peragu. Ia selalu yakin dengan pilihannya karena ia tahu bahwa pilihan itu berdasarkan hukum Allah Swt.

Sandaran terhadap hukum Allah Swt inilah yang membuat seorang Natsir tetap memilih menjadi seseorang yang tak berharta. Betapa naifnya bila berharta namun harta itu didapatkan bukan dengan acra yang halal. Ia lebih memilih tidak berharta dunia namun berhati akhirat yang selalu condong kepada alam akhirat. Ia pasti tahu bahwa siapa yang mengharapkan dan mengupayakan akhiratnya dengan sungguh-sungguh pasti akan mendapatkan dunia. Sebaliknya, siapa yang menginginkan dunia dan berupaya sekuat tenaga mendapatkan dunia, maka tidak akan mendapatkan akhirat.

Hal inilah yang membuat seorang Natsir menjadikan semua apa yang ia kerjakan sebagai ladang mengumpulkan semua upaya agar menambah tabungan akhiratnya. Ia sangat yakin bahwa ia harus bertanggung jawab terhadap apapun yang telah ia lakukan di dunia ini. Ia takut membawa dosa yang tak terperihkan walaupun hanya sedikit. Keberkahan hidup tidak bisa dilihat dari seberapa banyak harta telah dikumpulkan. Keberkahan hidup dapat dilihat semakin kaya, semakin terkenal, semakin tua, maka hati akan semakin condong kepada kehidupan akhirat yang damai dan tenang nan abadi.

Dunia Politik   

Pada masa Muhammad Natsir aktif dalam politik praktis, sebagaimana kita tahu beliau termasuk salah satu pendiri mendirikan Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslim Indonesia) pada 7 November 1945. Saat itu kondisi politik Indonesia boleh dikatakan bermuara pada tiga ideologi yang bersaing ketat, yaitu nasionalis, Islam, dan komunis. Natsir memilih jalur keislaman atas apa yang ia yakini. Ia tak akan pernah ragu dengan pilihannya itu.

Inilah yang membuat orang segan dengan sosok satu ini. Ia tak bisa ditembus dengan korupsi atau hal-hal yang akan membuat hatinya menjadi kotor. Ia tahu kalau ia melakukan dosa, maka ilmunya bisa saja tidak manfaat. Sudah barang tentu, seorang Natsir tak akan membuang akhiratnya demi dunia yang fana. Ia dengan sikap yang sangat  hati-hati dan selalu waspada berusaha untuk selalu lurus dalam pemikiran dan perbuatan. Ia yang mengisi usianya yang panjang dengan hal-hal yang akan membuatnya bahagia di alam kuburnya.

Islam yang didukung oleh para ulama, karena tak bisa dipungkiri, kontribusinya cukup besar dalam memperjuangkan Indonesia sehingga dorongan untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara cukup kuat. Meskipun pada akhirnya ideologi nasionalis yang diterima sebagai hasil perdebatan yang sangat alot.  Bagaimanapun sejak zaman dahulu ada ketakutan tersendiri ketika akan memilih Islam sebagai dasar negara. Ada banyak ketakutan yang akan membuat semua orang menjadi mundur ketika berhadapan dengan konsep Islam yang benar-benar islami.

Beliau mulai aktif berpolitik demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ketika menjadi Wakil Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), kemudian kecerdasannya dalam berpolitik tergambar pada saat mengajukan mosi integral pada sidang parlemen 5 April 1950 yang misinya menyatukan Indonesia ke dalam bentuk Negara Kesatuan Repiblik Indonesia (NKRI) setelah sebelumnya sempat menjadi Negara Serikat. 

Mosi tersebut disetujui secara aklamasi oleh anggota parlemen. Hal itu pula yang mengantar beliau menduduki posisi Perdana Menteri ke-5 Indonesia dari tahun 1950 – 1951, setelah sebelumnya menjadi Menteri Penerangan tahun 1946 – 1947 dan 1948 – 1949. Jabatannya itu diterimanya sebagai satu amanat dan ia tidak mengambil keuntungan apapun dari jabatannya itu. Seandainya ada seratus Natsir sekarang ini, maka bangsa ini mungkin tidak akan ragu lagi menembak mati setiap koruptor yang akhirnya akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang barokah. Pemimpin yang berkah itu akan membuat bangsanya hidup damai dan sejahtera.

Dunia Dakwah

Kesungguhan beliau dalam berdakwah dibuktikan dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Bahkan sepak terjangnya di dunia dakwah sampai skup internasional. Beliau pernah menjabat sebagai anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang pusatnya di Mekkah, presiden Liga Muslim Dunia (World Moslem Congress), dan Ketua Dewan Mesjid se-Dunia.

Meskipun beliau tidak mengenyam pendidikan kuliah setelah lulus dari AMS, namun karena pergaulan yang luas dengan tokoh pergerakan nasional ketika sekolah di Bandung, seperti Sutan Syahrir, Muhammad Roem, atau Syafruddin Prawiranegara, beliau mampu mengimbangi kawan dan lawan dakwah atau politiknya dalam berpikir dan bertindak. Terbukti dengan menduduki jabatan pucuk pimpinan, baik dalam politik maupun dakwah. 

Pengalaman dan pengetahuan beliau yang luas ternyata dihargai oleh beberapa Universitas Islam Libanon dan Universitas Kebangsaan Malaysia dengan gelar DHC (Doctor Honoris Causa) serta penghargaan Faisal Award dari Raja Fadh, Arab Saudi. Muhammad Natsir, sang tokoh melayu itu,  tutup usia menginjak 84 tahun, tepatnya pada 3 Februari 1993 di Jakarta. Atas kontribusinya yang besar bagi bangsa Indonesia, pada 2008 Muhammad Natsir mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Presiden Republik Indonesia walaupun tentu saja bukan gelar pahlawan yang beliau harapkan, melainkan generasi penerus Islam Indonesia sebagai politikus yang religius.

 

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Biografi Tokoh Ekonomi, Lahirnya Teori-teori Ekonomi
  • Apa Syarat Menjadi Pahlawan Nasional?
  • Tokoh-tokoh Proklamasi yang Menegakkan Kedaulatan Indonesia
  • Mengenal Biografi H Samanhudi
  • Sejarah Gus Dur dan Pemikirannya yang Unik
  • Bercermin dari Tokoh Wirausaha yang Sukses
  • Tokoh Agama Hindu Masa Pembauran Agama Hindu-Budha
  • Napak Tilas Kegemilangan Prabu Erlangga
  • Membaca Buku Berkualitas Dari Penulis Hebat
  • Biografi Taufik Hidayat yang Fenomenal
  • Lebih Dekat dengan Robert Downey Jr.
  • Nabi Muhammad, Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
  • Tokoh Agama Kristen - Martin Luther dan di Indonesia
  • Mengenal Lord Todd - Tokoh Kimia Penerima Hadiah Nobel
  • Mengurai Biografi Habibie - Bapak Teknologi Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA