Tokoh Militer Indonesia: Heroisme dan Nestapa
Ilustrasi tokoh militer indonesia
Kekuatan militer sebuah bangsa, tak terkecuali kekuatan militer Indonesia, tak bisa dipisahkan dari struktur kemiliteran, tokoh militer dan tentu saja perlengkapan senjata. Namun sejarah telah banyak membuktikan bahwa perlengkapan senjata bukan satu-satunya yang menjadi kekuatan militer sebuah bangsa menjadi tangguh. Ketangguhan militer tersebut jangan dipisahkan dari adanya struktur yang jelas di dalam militer itu sendiri serta tokoh-tokoh yang ada di balik setiap kesatuan. Tokoh militer yang menjadi salah satu pilar kekuatan militer tersebut seharusnya tetap ada, terpelihara, terlahir dan terbentuk secara berkesinambungan.
Dalam kaitannya dengan itulah pertanyaan siapakah tokoh militer Indonesia? menjadi penting dipertanyakan kembali, agar pribadi-pribadi unggul dan menjadi tokoh atau ditokohkan di dalam militer tersebut tetap terpelihara secara berkesinambungan. Tentu saja hal ini sangat penting mengingat militer Indonesia termasuk salah satu yang paling membanggakan di Asia.
Sejarah Indonesia telah mengukir bagaimana jiwa-jiwa tangguh para pemegang senjata itu telah berhasil menyelamatkan bangsa dan negara, sejak revolusi fisik sampai dengan bentrok senjata setelah Indonesia merdeka. Dan harap dicatat keberanian menghalau serangan musuh itu tidak selamanya karena memiliki senjata lengkap dan lebih canggih dibanding dengan yang dimiliki musuh. Keberhasilan itu karena semangat juang pantang menyarah, sehingga jangankan senjata, bambu runcing saja bisa membuat prajurit Belanda dan Jepang kocar-kacir. Dan jiwa berani dengan semangat juang tinggi tersebut tidak bisa dipisahkan dari peran para tokoh yang senantiasa memompa semangat para pejuang, termasuk di dalamnya adalah para tokoh militer Indonesia.
Semangat pantang mundur menghalau musuh tanpa selalu tergantung kepada kehebatan senjata seperti itu, tak dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini. Kalau pun mau melirik sejarah dunia, semangat juang pantang mundur dan tidak hanya mengandalkan senjata itu baru ditunjukkan oleh beberapa negara seperti Iran, Laos dan tentu saja Rusia.
Keberanian rakyat dan militer Iran dalam perang Iran-Irak misalnya telah terbukti bagaimana jiwa pantang mundur itu lebih unggul daripada senjata. Pada saat itu Irak didukung persenjataan canggih dari Amerika, sementara Iran hanya memiliki persenjataan terbatas. Tapi sekalipun berbeda jauh dari sisi persenjataan, tapi kekuatan militer dan rakyat Iran mampu mengatasi kehebatan tentara Irak. Dengan semangat tinggi pantang menyerah itulah bagi para tentara dan rakyat Iran saat itu, batu pun bisa mematikan tentara Irak.
Keberanian serupa juga diperlihatkan bangsa Rusia sepanjang sejarah. Bagaimana misalnya ketika Kiev diduduki Jerman, atau ketika Moskwa dibombardir. Bagi negara dengan semangat juang militer dan rakyatnya yang luar biasa tersebut, tentu saja menjadi kekuata semesta yang tak bisa sembarangan kekuatan melumpuhkannya. Di Indonesia setiap rakyat adalah militer aktif, dan itu tanpa doktrin komunisme seperti halnya yang terjadi dengan militer dan rakyat Rusia. Pengamat militer Harold Crouch pernah menyatakan kekagumannya tentang kekuatan rakyat dan militer Indonesia dengan mengatakan bahwa konyol bila ada negara asing lain mau masuk ke Indonesia dengan militernya, karena bakal ada perlawanan rakyat semesta.
Indonesia tidak habis-habisnya melahirkan para warrior yang bisa dikategorikan sebagai tokoh militer. Dari Pangeran Diponegoro, sampai Untung Surapati, dari Klaeng Galesung sampai Wolter Mongisidi, dari Noer Ali sampai Soetomo, semuanya adalah tokoh militer yang peranannya tidak kalah dengan jenderal profesional, sekalipun mereka bukan para penyandang pangkat tertinggi dalam kemiliteran dan juga bukan anggota formal militer.
Kekuatan sipil dan militer Indonesia terlihat dalam pertempuran di Surabaya dibawah heroisme Bung Tomo. Tentara Inggris yang tergabung dalam sekutu bermaksud melancara agresi militer yang sebenarnya lebih karena kepentingan Belanda. Tapi bagaimana akhirnya, Inggris sebagai pemenang perang dunia kedua, tidak bisa sembunyi muka lagi, ketika seorang Jenderalnya Mallaby turut tewas dalam pertempuran di Surabaya. Ini menandakan bagaimana kekuatan militer dan sipil Indonesia dalam hal menghalau kekuatan asing yang mau mengganggu ketentraman dan harga diri bangsa Indonesia. Tak peduli bahwa militer itu adalah salah satu pemenang dalam Perang Dunia II.
Tentu saja kehebatan perang Surabaya tersebut mengalahkan kehebatan Perang Dunia II. Sejarah memang telah mencatat bahwa selama masa Perang Dunia II, tidak ada satu jenderal Inggris pun yang berdarah. Tapi, di Indonesia baru beberapa minggu saja mendarat, sudah tewas satu jenderal di tangan laskar, dan bukan tentara professional. Inilah kekuatan militer dan sipil di Indonesia. Jadi, tidak salah bila ada yang menyatakan bahwa seluruh rakyat Indonesia adalah militer aktif, sekalipun tidak menyandang pangkat dan memiliki kartu anggota resmi tentara.
Struktur Militer Indonesia
Struktur militer di Indonesia ketika republik terbentuk sangatlah rapi. Ada tentara laskar, dan ada tentara profesional yang reguler. Hubungannya saling membantu sesama rekan perjuangan. Dari tentara profesional ini dikenalkanlah pemimpin militer ulung, rajanya perang gerilya, Jenderal Sudirman. Sebagai tokoh militer Indonesia yang cerdik dan memiliki jiwa pantang menyerah, Jendral Sudirman memiliki anak buah yang tak kalah trengginas, ada Mayjen Gatot Subroto yang memimpin dalam pertempuran lima hari di Semarang. Ada kolonel AH. Nasution yang menjaga aura perjuangan di Bandung bersama korps Siliwanginya. Dan di Yogyakarya ada Letkol ‘kancil’ Soeharto karena kecerdikannya dalam pertempuran enam jam di Yogyakarta.
Tentu saja para tokoh militer Indonesia formal yang berasal dari tentara tersebut telah berhasil memberi semangat dan mendorong kekuatan jiwa dan semangat tempur rakyat, sehingga pada akhirnya menjadi satu kekuatan yang luar biasa. Maka benar seperti pendapat Harold Crouch, sangat keliru bila menilai kekuatan militer Indonesia hanya dari jumlah personil tentara dan kekuatan persenjataannya saja. Ada yang lebih kuat dari keduanya yaitu kekuatan rakyat semesta.
Sang Rising Star
Sejarah militer Indonesia mencatat pula seorang tokoh militer yang telah berhasil membanggakan rakyat dan korps tentara sepanjag hayat, sekalipun harus mengakhiri hidupnya menjadi korban pengkhianatan G30S PKI. Dan tokoh itu adalah sang Rising Star Ahmad Yani, yang dalam karir militernya tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran, baik melawan Inggris maupun melawan Belanda di wilayah Magelang, sehingga disamakan dengan Jenderal tak terkalahkan asal Jerman yaitu sebagai Von Runsteld-nya Indonesia.
Setelah revolusi kemerdekaan, kepahlawanan militer menjadi saru. Tidak jelas bentuknya. Militer tertarik masuk ke wilayah sipil. Para jenderal juga menjadi seorang pedagang atau politikus. Militer seolah tanpa taji. Hanya bersenjata, namun kehilangan aroma juang. Inilah yang perlu direformasi sesungguhnya, bukan struktur dan peran serta militer dalam kehidupan sehari-hari semata, melainkan bagaimana agar tidak kehilangan semangat juang seperti telah dicontohkan para pendahulunya, para tokoh militer baik yang berasal dari tentara formal maupun dari kalangan masyarakat biasa atau sipil.
Setelah periode 70-an maka tokoh militer Indonesia justru menjadi tokoh dalam hal menghadapi rakyatnya sendiri. Sebut saja para tokoh ini seperti Jendral Soeripto,L.B Moerdani, Faisal Tanjung, Wiranto, sampai SBY, yang sering bermasalah dengan rakyatnya sendiri. Tidak salah kalau ada yang menyebut sekarang ini tentara menjadi tameng pemerintah yang berkuasa. Sungguh nestapa dan sungguh sayang sekali.

