Tokoh Muhammadiyah: KH. Ahmad Dahlan Sang Pencerah
Ilustrasi tokoh muhammadiyah
Siapa yang tidak kenal tokoh Muhammadiyah yang satu ini? Ya, setiap generasi akan mengenangnya sebagai ”Sang Pencerah". Beliau akan selalu dikenang sepanjang masa oleh bangsa ini. Betapa tidak, pemikiran-pemikirannya terhadap pembaharuan pemikiran Islam membawanya pada julukan ”Sang Pencerah”. Julukan tersebut memiliki makna bahwa beliau adalah tokoh muda revolusioner yang membawa pembaharuan dan perubahan bagi bangsa ini. Mari kita mengenal lebih dekat tentang KH. Ahmad Dahlan.
Pejuang Tak Kenal Mati
Tokoh Muhammadiyah satu ini dikenal sebagai seorang pejuang yang tidak pernah mundur walaupun banyak tantangan yang dihadapinya. Ia terus maju meskipun ia harus kehilangan banyak hal. Ia pernah dimusuhi dan pernah akan dibunuh karena dianggap sesat. Pemikirannya yang bertentangan dengan pemikiran orang-orang yang ada di sekitarnya, membuatnya menuai berbagai cobaan. Ia dianggap bukan bagian dari kaum muslim dan dicap sebagai penghancur peradaban yang telah mapan.
Ia yang berusaha menolak dan memerangi semua bentuk bid’ah dan praktik yang mencampuradukan antara ajaran Islam dan ajaran animisme, menjadi bulan-bulanan orang-orang yang tidak setuju dengan gerak-geriknya itu. Tempatnya mengajar pernah dirusak. Ia tidak mundur. Ia tetap pada pendiriannya karena ia tahu dan yakin bahwa apa yang ia ajarkan dan sebarkan berasal dari Al-Quran dan hadist. Ilmu yang hak yang tidak akan pernah salah.
Ia yang tidak setuju dengan adanya pembacaan surat Yaasin setiap malam Jum’at dan adanya acara tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari dalam rangka memperingati orang yang meninggal, tentu saja harus menahan diri dari prasangka yang tidak-tidak dari masyarakat di sekitarnya. Perjuangan itu cukup berat. Saking beratnya, hingga pada tahun 90-an, masyarakat Indonesia masih mempertentangkan antara Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama atau NU.
Kedua pengikut organisasi kemasyarakatan itu seolah tidak mau bersatu. Masjid saja sendiri-sendiri. Kalau masjid Muhammadiyah biasanya tidak ada wiridan dan doa bersama setelah sholat berjamaah. Berbeda dengan masjid NU. Setelah sholat berjama’ah, ada wiridan dan doa bersama. Mungkin hingga kini perbedaan itu masih juga tampak walaupun masyarakat semakin pandai dan tidak lagi mempermasalahkan apakah seseorang itu menganut Islam seperti yang diajarkan oleh Muhammadiyah atau NU.
Persatuan umat kebih penting daripada mempermasalahkan apakah seseorang itu membaca doa qunut dalam sholat Shubuh atau tidak. Juga tidak masalah ketika ada perbedaan tentang apakah bersentuhan kulit antara suami dan istri itu membatalkan wudhu. Bila sang istri merasa hal itu tidak membatalkan wudhu tetapi sang suami merasa batal wudhunya, mereka masih bisa ke masjid berdua dengan bergandengan tangan.
Sesampainya di masjid, sang istri tidak wudhu lagi. Sedangkan suami berwudhu kembali. Air banyak dan tempat wudhu mudah dijangkau. Kalau yang ditonjolkan adalah perbedaan, maka yang akan lahir adalah perselisihan dan pertentangan. Tetapi kalau yang ditonjolkan pengertian, maka yang akan lahir adalah kasih sayang dan pemecahan masalah.
Kini umat Islam yang semakin pandai ini semakin banyak mengkaji hukum sehingga apa yang dianggap salah oleh satu golongan, tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus ditentang kalau ternyata ada hadist lain yang membenarkan kalau yang salah itu seblum tentu salah secara mutlak. Larangan mengkafirkan seseorang sangat kuat sehingga apapun yang terjadi selama seseorang itu belum melanggar hukum yang hak, ia tidak boleh dianggap keluar dari agama Islam.
Tokoh Pendidikan
Hal inilah yang coba diajarkan oleh KH. Ahmad dahlan. Beliau yang berusaha memberikan contoh yang baik kepada para pengikutnya, akhirnya mampu memberikan nuansa yang berbeda terhadap peradaban dan pemikiran umat Islam Indonesia. Tokoh yang sangat sederhana ini sangat perhatian kepada pendidikan. Tidak mengherankan kalau hingga kini, perguruan dan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah, berkembang dengan baik.
KH. Ahmad Dahlan sangat yakin bahwa hanya melalui pendidikanlah semua permasalahan bisa dipecahkan dengan logika dan tidak menonjolkan perbedaan. Konsep pendidikan yang menggabungkan ajaran agama dan ajaran dunia, membuat banyak orangtua yang mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah-sekolah Muhammdiyah. Sekarang pun banyak tokoh yang merupakan anak didik sekolah Muhammaditah. Mereka mampu menjadi pemimpin dan menonjol dalam kegiatan kemasyarakatan.
Apa yang diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan bahwa tidak boleh hidup dari Muhammadiyah, telah membuat orang-orang yang aktif di Muhammadiyah berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada Muhammadiyah. Tahun ini, Muhammadiyah telah berusia 100 tahun. Dalam kurun waktu seratus tahun itu, telah banyak hal yang disumbangkan oleh warga Muhammadiyah kepada negara Indonesia. Selain pendidikan yang bermutu, juga warga Muhammadiyah yang selalu berusaha menjadi warga negara yang baik.
Yogyakarta masih menjadi pusat pergerakan Muhammadiyah. Kota pelajar ini menjadi basis utama Muhammadiyah. Dalam dunia politik, Muhammadiyah juga memberikan masukan dan pikiran yang cukup jitu. Salah satunya adalah pembubaran BP Migas yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Memang bukan hanya tokoh dari Muhammadiyah yang berperan dalam pembubaran BP Migas tersebut. Namun, pimpinan Muhammadiyah sangat aktif dalam memberikan dukungan dan sangat aktif berjuang dalam hal itu.
Inilah salah satu bukti kalau Muhammadiyah ini sangat aktif dalam perjuangan membela rakyat. Kalau bukan orang yang mengerti dan paham tentang hukum, siapa lagi yang bisa membela rakyat. Kebanyakan rakyat tidak mempunyai akses ke jalur hukum yang sesungguhnya. Beda dengan orang-orang yang berkutat dengan wilayah tataran tingkat tinggi. Mereka sangat tahu bagaimana membuat suatu hukum menjadi dibatalkan kalau hukum itu malah merugikan rakyat banyak.
Sang Pencerah
KH. Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 di Yogyakarta. Beliau memiliki nama panggilan saat masih kanak-kanak, Muhamad Darwisy. Ayahanda beliau bernama KH. Abu Bakar dan ibunda beliau bernama Nyai Abu Bakar. Ayahanda beliau merupakan ulama terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Sedangkan, ibunda beliau merupakan putri dari KH. Ibrahim yang saat itu mempunyai kedudukan sebagai penghulu kesultanan Yogyakarta.
Dari orangtua yang alim inilah, seorang Ahmad Dahlan mendapatkan pendidikan awalnya. Tidak mengherankan kalau pembentukan pribadinya telah bagus sejak awal. Hal ini bisa menjadi contoh bagi orangtua yang lain bahwa kalau ingin anaknya baik, orangtuanya harus baik dahulu.
Kedua orang tua KH. Ahmad Dahlan mendidik beliau dalam lingkungan pesantren dan mengajari beliau dalam ilmu agama dan bahasa Arab. Sejak saat itulah pemahaman dan pemikiran agama Islam sangat kuat tertanam dalam diri beliau. Selama lima tahun beliau menuntut ilmu agama dan bahasa Arab ke Makkah. Pada saat itu usia beliau masih 15 tahun. Dari situlah awal mula beliau berinteraksi dengan pembaharu pemikiran-pemikiran Islam seperti Ibn Taimiyah, dan Rasyid Ridha.
Pemikiran para pembaharu tersebut memberikan pencerahan dan semangat baru bagi beliau. Pencerahan ini membawa beliau pada semangat untuk mendirikan Muhammadiyah.
KH. Ahmad Dahlan dan Cita-Cita Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan mempunyai cita-cita yang mulia bagi bangsa Indonesia. Beliau mempunyai cita-cita untuk memperbarui pemahaman keislaman di sebagian besar dunia Islam yang masih bersifat konservatif. Beliau melihat pemahaman Islam masih bersifat statis dan ortodoks. Hal ini dipandang sebagai sesuatu yang harus diubah dan diperbaharui dengan mengembalikan kemurnian ajaran Islam pada Al-Quran dan as Sunnah (Hadits). Oleh karena itu, pada 1912 beliau mendirikan Muhammadiyah sebagai organisasi untuk melaksanakan cita-cita mewujudkan masyarakat yang Islami dengan penuh kesadaran dan ilmu.
Berbagai dukungan beliau dapatkan dari masyarakat dan tokoh agama dengan berdirnya Muhammadiyah. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi politik. Muhammadiyah adalah organisasi yang bersifat sosial dan melakukan pencerdasan terhadap masyarakat melalui bidang pendidikan. Beliau mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan layanan kesehatan bagi masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai wujud dari kesalihan sosial.
Di tengah perjalanan, Muhammadiyah mengalami tantangan yang sangat besar. Penjajah Belanda kala itu melakukan praktik politik etis yang diskriminatif. Tidak semua pribumi dapat bersekolah di sekolah yang didirikan Belanda. Untuk menjawab tantangan tersebut, kemudian beliau mendirikan sekolah-sekolah yang serupa. Akan tetapi, sekolah yang beliau dirikan memiliki kurikulum yang berbeda.
Beliau memberikan penekanan pada aspek mata pelajaran Al-Qur'an. Masyarakat pribumi bisa bersekolah dan mengenyam pendidikan di sekolah yang beliau dirikan. Demikianlah profil singkat tentang ”Sang Pencerah” KH. Ahmad Dahlan, tokoh Muhammadiyah yang mulia. Semoga bermanfaat.

